Pelangi Di Ujung Senja Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
PELANGI DI UJUNG SENJA PART. I
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Namanya Stevania Elizabetha Putri, salah seorang pramugari cantik pada sebuah maskapai penerbangan ternama di tanah air. Vania, begitu sapaan akrabnya sehari-hari, dia merupakan sosok gadis metropolis yang digilai banyak kaum lelaki; cantik, langsing, tinggi, putih, mulus, gaul, modis, ngerti trend, atau apalah namanya. Perfect banget ya? Tapi bukan berarti alasanku mencintainya gara-gara itu tadi. Sama sekali bukan!! Justru sebaliknya. Aku sama sekali tidak mengutamakan kecantikan fisiknya, tapi aku suka kepribadiannya.
Sejujurnya, cinta itu tidak semerta-merta datang begitu saja. Bahkan, pada hari pertama aku mengenalnya, masih terasa biasa-biasa saja, tak ada getaran layaknya orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat penampilannya yang cenderung sexy, lihai menggoda mata kaum adam dengan model pakaiannya yang kelewat minim, ditambah balutan make up nya yang kurasa aneh, membuatku meliriknya saja risih. Apalagi sampai menikahinya. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ya, dia bukan gadis yang sesuai kriteriaku.
Namun, sekali lagi ini tak terlepas dari takdir-Nya. Hingga setelah aku mengenalnya lebih jauh, diam-diam hati yang semula biasa-biasa saja perlahan mulai tumbuh semacam rasa yang sulit untuk kujelaskan. Kini aku mulai mencintainya, benar-benar mencintainya. Ya, begitulah. Cinta memang terkadang begitu misterius.
Pertemuanku dengannya berjalan begitu cepat, sungguh tak pernah kuduga sebelumnya. Kala itu aku tengah berada dalam sebuah pesawat yang akan mengantar kepulanganku menuju tanah air, kampung halaman yang selama lima tahun terakhir ini aku tinggalkan, tepatnya sejak keputusanku untuk mengambil study di universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
Pesawat sudah mulai lepas landas sekitar setengah jam yang lalu, meski aku tak duduk tepat disamping jendela, aku tetap bisa menatap sinar pudar mentari yang timbul-tenggelam dari balik tumpukan awan yang mengapung. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Aku kembali meneruskan buku bacaanku. Namun, ternyata mataku sudah mulai terasa lelah. Alih-alih ingin memejamkan mata sejenak, tiba-tiba saja salah seorang pramugari cantik datang menghampiriku.
“Maaf mengganggu istirahat bapak, apakah ini dengan bapak Muhammad Rafi Farhan?” tanyanya ramah sambil mencocokkan nomor kursiku dengan secarik kertas yang dipegangnya.
“Iya, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Kami mendapat laporan dari pihak maskapai, bahwa sewaktu pesawat ini hendak lepas landas, salah seorang petugas keamanan menemukan dompet anda di ruang transit.” Ujarnya sambil menyerahkan sebuah dompet padaku.
“Oh ya? Terimakasih.” Ujarku kaget bercampur lega.
“Kami mohon maaf tadi sempat membongkar dompet anda untuk mencari identitas pemiliknya.”
“Iya, tidak apa-apa.” Ucapku tersenyum.
“Hmm... Mas Rafi rupanya tinggal di daerah blok. O, Jalan Permai, Jakarta Pusat ya? Kebetulan rumah saya juga di daerah situ.” Tanyanya malu-malu, mengganti panggilan untukku yang semula “Bapak Rafi” menjadi ”Mas Rafi”.
“Benarkah? Tepatnya dimana?” tanyaku pura-pura tertarik. Tapi sekali lagi ini hanya pura-pura, sungguh!!
“Perum Indah Permai, blok. L, Jalan Permai, Jakarta Pusat.”
Entah apa saja obrolan kami setelah itu, aku tak begitu ingat. Yang jelas, di akhir perkenalan itu, kami sempat bertukar nomor handphone! Nah, setelah itu kami jadi intens berkomunikasi, Vania sepertinya mulai menunjukkan ketertarikannya dengan Islam. Ia sering bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dunia Islam. Maklumlah, dia bukan berasal dari keluarga yang tergolong religius, ibunya menjadi seorang mu’alaf sejak menikah dengan ayahnya. Sementara itu, ayahnya pun belum sepenuhnya menjalankan syareat Islam secara utuh, istilahnya hanya Islam KTP saja. Hal itulah yang membuat aku merasa memiliki tanggungjawab untuk membimbingnya pemahaman agama yang lebih dalam. Ada jihad yang besar disitu, menuntun dia untuk lebih dekat pada-Nya.
Jika sedang libur dari pekerjaannya, Vania sesekali bertandang kerumahku. Seperti pagi ini, pagi-pagi sekali Vania sudah bertamu. Aku tidak menyadari kedatangannya karena aku sedang serius bertadarus Al-qur’an di teras depan rumah.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara yang amat kukenali menyapa ramah, diikuti sesosok gadis cantik tersenyum menghampiriku.
“Waalaikumsalam.” Balasku sambil kuhentikan tadarusku dan menatap dia yang kini berdiri tak jauh di depanku, lalu mempersilahkannya duduk.
“Bacalah lagi, aku merasa damai mendengarnya.” Pintanya padaku.
“Kau bisa membacanya sendiri.” Ucapku sambil tersenyum.
“Aku tidak bisa.” Ucapnya pelan, ia tertunduk.
“Mau aku ajari?” imbuhku lagi.
“Tentu, dengan senang hati.” Balasnya dengan wajah berseri-seri.
“Baiklah, kau bisa belajar kapanpun kau mau, itupun jika kekasihmu tidak keberatan kau belajar denganku.” Ucapku kelepasan.
Duhh....Aku jadi kikuk, seharusnya aku tak perlu menyinggung-nyinggung tentang kekasihnya, kecuali bila ia bercerita atas kemauannya sendiri. Sayang, aku sudah terlanjur mengatakannya. Sungguh sangat kusesali. “Oh, andai bisa ku ulang waktu, ingin rasanya kutarik kembali ucapanku itu.”
Vania tersenyum mendengar perkataanku.
“Aku tak punya kekasih.” Akunya pelan.
Setelah itu, tanpa kuminta, muncullah pengakuan darinya bahwa ia sempat berpacaran dengan beberapa laki-laki. Bahkan ada yang sampai hampir menikahinya. Namun sepertinya Tuhan belum mempertemukan ia dengan jodohnya. Vania harus menelan kenyataan pahit bahwa hubungannya harus berakhir sebelum sampai ke jenjang pelaminan. Alasannya macam-macam, mulai dari dihianati sahabatnya sendiri, ditinggal selingkuh, beda prinsip, cowoknya terlalu possessive, sampai lantaran orang tua masing-masing tak kunjung memberi restu.
Lalu, entah kenapa ada perasaaan lega dalam hatiku mendengar pengakuan darinya. Seperti ada oase yang mengalirkan hawa sejuk dalam jiwaku. Entah rasa apa itu, aku tak mampu menafsirkannya....
Aku mulai mengajarinya iqro jilid satu, mulai dari memperkenalkan huruf hijaiyyah yang paling dasa hingga yang paling rumit. Vania sangat antusias sehingga dia bisa cepat menangkap apa yang kuajarkan padanya. Semua berjalan lebih dari apa yang ku kira sebelumnya. Disela waktu itu, aku mulai menyinggung tentang sholat dan puasa. Kuberikan ia sebuah mukena dan kupinjami beberapa buku tuntunan sholat dan puasa. Ia merasa gembira sekali atas bantuanku itu.
***
“Mas Rafi, dicari seorang cewek tuh!”
Kudengar Hanum berkata lugas sambil menatapku setengah jengkel. Alisku berkerut, memandangnya penuh tanya.
“Siapa?”
“Tak tahu.” Balasnya acuh, sambil berlalu begitu saja di depanku.
Aku mencoba bangkit dari meja kerjaku, berjalan menuju lobby kantor. Sesampainya di ruang lobby, mataku sibuk mengamati seluruh isi ruangan, mencari-cari tamuku itu. Lobby masih tampak sepi. Hanya ada beberapa karyawan hilir-mudik dengan berbagai kesibukan mereka. Lalu, kulihat ada seorang gadis cantik berbalut jilbab merah muda berjalan anggun menghampiriku. Dia kini tersenyum ramah didepanku. Aku bahkan hampir tidak mengenalinya kalau saja tidak kudengar suaranya lewat ucapan salam itu. Suara dari sosok yang amat kukenali. Vania!!
Dan, aku masih enggan percaya. Vania, seorang pramugari yang biasanya berpakaian sexy dan terbuka disana-sini itu kini telah berubah. Ini merupakan sebuah keajaiban. Beribu syukur kuucapkan pada-Nya yang telah membuka pintu hidayah untuk Vania.
“Assalamu’alaikum.”
Aku tercengang. Barangkali keterkejutanku terlalu besar sehingga membuatku tak mampu berkata-kata.
“Mas Rafi??”
“Eh...wa..wa’alaikumsalam.” Balasku gugup, setelah agak lama terdiam.
Aku masih berdiri terpaku menatapnya.
“Mas, penampilanku agak aneh ya?” ucapnya celingukan.
Vania seolah kurang PD dengan penampilan barunya. Jemari tangannya sibuk membenahi letak lipatan jilbabnya.
“Tentu saja tidak. Kau justru terlihat lebih cantik seperti ini.” ucapku cepat.
Vania tampak tersipu malu mendengar pujianku, ia semakin salah tingkah didepanku. Aku tersenyum simpul.
“Mas, dia siapa?” tanya Hanum tiba-tiba sudah menyusulku. Dia melirik Vania sedikit meremehkan.
“Dia sahabatku.”
“Vania, ini Hanum, putri sulung Om Hilwan, partner kerja ayahku di CV. Cahaya Insani.” Ucapku memperkenalkan Hanum pada Vania.
“Vania.” Ucapnya tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan.
“Hanum.” Balas Hanum dingin, dibumbui seulas senyum nan masam, lalu pergi begitu saja meninggalkan kami.
Vania agaknya merasa bahwa kedatangannya tak disukai oleh Hanum. Dengan wajah penuh rasa bersalah, dia berkata lirih padaku.
“Sepertinya Hanum tak suka aku datang kesini.” Ucapnya menyesal.
“Tak apa-apa, dia hanya belum mengenalmu.” Hiburku pada Vania.
“Oh ya, bukankah seharusnya kau bekerja?” tanyaku heran.
“Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku sejak seminggu yang lalu.” Akunya pelan.
“Mengapa?” imbuhku penasaran.
“Karena sekarang aku mengerti bahwa seorang muslimah yang baik itu senantiasa menutup auratnya.”
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka tidak kecewa dengan keputusanmu itu?”
“Awalnya mereka sempat menentang keras keputusanku. Tapi setelah ibuku melihatku mendoakan dia setiap usai sholat, beliau menangis dan mengatakan bahwa beliau mendukungku. Kini ibuku sudah mulai belajar sholat, ayahku bahkan memanggil seorang ustadz untuk menjadi guru mengaji dirumah kami.
Sekali lagi aku tak kuasa membendung rasa bahagiaku mendengar pengakuannya. Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa semuanya akan berjalan semulus dan secepat ini.
“Aku bermaksud untuk mengembalikan ini.” ucapnya sambil menyodorkan tiga buah buku padaku, buku yang sempat ku pinjamkan padanya beberapa waktu yang lalu.
“Itu untukmu.” balasku cepat.
“Untukku??” tanyanya setengah tak percaya.
“Ya, untukmu, untuk kau pelajari, lagipula dirumahku masih banyak buku-buku seperti itu. Kalau kau mau, aku akan memberi beberapa lagi.” jawabku tangkas serta bersemangat.
“Sungguh??”
“Iya.” Anggukku tersenyum.
Vania tampak berseri-seri.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan pun berganti, aku mulai menyadari bahwa kini aku benar-benar jatuh cinta padanya. Langkahku pun kian mantap untuk menikahinya. Setelah kutuntaskan istikharahku, aku semakin yakin bahwa Vania lah yang Alloh persiapkan sebagai tulang rusukku. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur oleh-Nya. Dan, pasti ada alasan kenapa Alloh mempertemukan kami sejak setahun yang lalu, kemudian saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya tumbuh rasa cinta dalam hatiku padanya. Semoga aku melangkah atas ridho-Nya.
Lalu, disinilah aku sekarang, di lorong yang sama dengan gadis yang telah meracuni pikiranku selama setahun terakhir ini. Namun, saat hendak mengutarakan maksud hatiku, lidah ini terasa kaku. Aku benar-benar gugup. Bagaimana memulainya? Serba salah. Entah terbang kemana seluruh kata-kata yang sudah kurangkai sejak semalam, kata-kata itu seakan ikut terhempas bersama degupan jantungku yang semakin tak terkendali.
Aku mulai berbicara pada diriku sendiri untuk menyemangati, 'hadapi dulu ketakutanmu, lalu kumpulkan keberanian setelahnya’, Bismillah! Aku tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menghampiri dia yang sedang sibuk dengan buku bacaan dariku.
“Vania, sekarang bisa bicara kita sebentar?” tanyaku dalam bahasa yang kacau-balau.
“Apa?” tanyanya tak mengerti.
Ia menghentikan bacaannya, lalu menatapku.
“Menikah, ya ma..maksudku menikah denganku. Bagaimana? Kau mau? Ucapku lagi, meski masih dengan dialog yang sangat buruk, tapi semoga dia paham dengan apa yang aku maksudkan.
Tak ada jawaban.
Setuju kah? Loh, kok bengong? Jawab dong!! Apakah tawaranku ini terkesan tiba-tiba? Kagetkah ia? Shock? Cecarku dalam hati. Aku tak berani menatapnya. Nyaliku perlahan mulai memudar. Saat ini aku mulai menyesali keputusanku untuk mengutarakan maksud hatiku.
Masih tak ada jawaban.
Vania tetap terdiam. Duhh... Hatiku sepertinya telah mampu membaca akhir dari pembicaraan ini. Tapi lho? Dia mulai tersenyum melihat kegugupanku, kemudian mengangguk, sambil tersipu malu-malu. Lalu tertunduk.
Uh, uh, uh. Akhirnya lega juga. Padahal aku sudah bersiap-siap patah hati mendengar penolakannya. Ternyata gayung pun bersambut. Cintaku berbalas manis. Aku mengembangkan senyum lebar, Hehee... Alhamdulillah, akhirnya......
Baca Sambungannya :
1.Pelangi Di Ujung Senja Part. I
2.Pelangi Di Ujung Senja Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Senin, 15 September 2014
🌈 Pelangi Di Ujung Senja Part 1
Pelangi Di Ujung Senja Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Pelangi Di Ujung Senja Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
PELANGI DI UJUNG SENJA PART. I
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Namanya Stevania Elizabetha Putri, salah seorang pramugari cantik pada sebuah maskapai penerbangan ternama di tanah air. Vania, begitu sapaan akrabnya sehari-hari, dia merupakan sosok gadis metropolis yang digilai banyak kaum lelaki; cantik, langsing, tinggi, putih, mulus, gaul, modis, ngerti trend, atau apalah namanya. Perfect banget ya? Tapi bukan berarti alasanku mencintainya gara-gara itu tadi. Sama sekali bukan!! Justru sebaliknya. Aku sama sekali tidak mengutamakan kecantikan fisiknya, tapi aku suka kepribadiannya.
Sejujurnya, cinta itu tidak semerta-merta datang begitu saja. Bahkan, pada hari pertama aku mengenalnya, masih terasa biasa-biasa saja, tak ada getaran layaknya orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat penampilannya yang cenderung sexy, lihai menggoda mata kaum adam dengan model pakaiannya yang kelewat minim, ditambah balutan make up nya yang kurasa aneh, membuatku meliriknya saja risih. Apalagi sampai menikahinya. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ya, dia bukan gadis yang sesuai kriteriaku.
Namun, sekali lagi ini tak terlepas dari takdir-Nya. Hingga setelah aku mengenalnya lebih jauh, diam-diam hati yang semula biasa-biasa saja perlahan mulai tumbuh semacam rasa yang sulit untuk kujelaskan. Kini aku mulai mencintainya, benar-benar mencintainya. Ya, begitulah. Cinta memang terkadang begitu misterius.
Pertemuanku dengannya berjalan begitu cepat, sungguh tak pernah kuduga sebelumnya. Kala itu aku tengah berada dalam sebuah pesawat yang akan mengantar kepulanganku menuju tanah air, kampung halaman yang selama lima tahun terakhir ini aku tinggalkan, tepatnya sejak keputusanku untuk mengambil study di universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
Pesawat sudah mulai lepas landas sekitar setengah jam yang lalu, meski aku tak duduk tepat disamping jendela, aku tetap bisa menatap sinar pudar mentari yang timbul-tenggelam dari balik tumpukan awan yang mengapung. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Aku kembali meneruskan buku bacaanku. Namun, ternyata mataku sudah mulai terasa lelah. Alih-alih ingin memejamkan mata sejenak, tiba-tiba saja salah seorang pramugari cantik datang menghampiriku.
“Maaf mengganggu istirahat bapak, apakah ini dengan bapak Muhammad Rafi Farhan?” tanyanya ramah sambil mencocokkan nomor kursiku dengan secarik kertas yang dipegangnya.
“Iya, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Kami mendapat laporan dari pihak maskapai, bahwa sewaktu pesawat ini hendak lepas landas, salah seorang petugas keamanan menemukan dompet anda di ruang transit.” Ujarnya sambil menyerahkan sebuah dompet padaku.
“Oh ya? Terimakasih.” Ujarku kaget bercampur lega.
“Kami mohon maaf tadi sempat membongkar dompet anda untuk mencari identitas pemiliknya.”
“Iya, tidak apa-apa.” Ucapku tersenyum.
“Hmm... Mas Rafi rupanya tinggal di daerah blok. O, Jalan Permai, Jakarta Pusat ya? Kebetulan rumah saya juga di daerah situ.” Tanyanya malu-malu, mengganti panggilan untukku yang semula “Bapak Rafi” menjadi ”Mas Rafi”.
“Benarkah? Tepatnya dimana?” tanyaku pura-pura tertarik. Tapi sekali lagi ini hanya pura-pura, sungguh!!
“Perum Indah Permai, blok. L, Jalan Permai, Jakarta Pusat.”
Entah apa saja obrolan kami setelah itu, aku tak begitu ingat. Yang jelas, di akhir perkenalan itu, kami sempat bertukar nomor handphone! Nah, setelah itu kami jadi intens berkomunikasi, Vania sepertinya mulai menunjukkan ketertarikannya dengan Islam. Ia sering bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dunia Islam. Maklumlah, dia bukan berasal dari keluarga yang tergolong religius, ibunya menjadi seorang mu’alaf sejak menikah dengan ayahnya. Sementara itu, ayahnya pun belum sepenuhnya menjalankan syareat Islam secara utuh, istilahnya hanya Islam KTP saja. Hal itulah yang membuat aku merasa memiliki tanggungjawab untuk membimbingnya pemahaman agama yang lebih dalam. Ada jihad yang besar disitu, menuntun dia untuk lebih dekat pada-Nya.
Jika sedang libur dari pekerjaannya, Vania sesekali bertandang kerumahku. Seperti pagi ini, pagi-pagi sekali Vania sudah bertamu. Aku tidak menyadari kedatangannya karena aku sedang serius bertadarus Al-qur’an di teras depan rumah.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara yang amat kukenali menyapa ramah, diikuti sesosok gadis cantik tersenyum menghampiriku.
“Waalaikumsalam.” Balasku sambil kuhentikan tadarusku dan menatap dia yang kini berdiri tak jauh di depanku, lalu mempersilahkannya duduk.
“Bacalah lagi, aku merasa damai mendengarnya.” Pintanya padaku.
“Kau bisa membacanya sendiri.” Ucapku sambil tersenyum.
“Aku tidak bisa.” Ucapnya pelan, ia tertunduk.
“Mau aku ajari?” imbuhku lagi.
“Tentu, dengan senang hati.” Balasnya dengan wajah berseri-seri.
“Baiklah, kau bisa belajar kapanpun kau mau, itupun jika kekasihmu tidak keberatan kau belajar denganku.” Ucapku kelepasan.
Duhh....Aku jadi kikuk, seharusnya aku tak perlu menyinggung-nyinggung tentang kekasihnya, kecuali bila ia bercerita atas kemauannya sendiri. Sayang, aku sudah terlanjur mengatakannya. Sungguh sangat kusesali. “Oh, andai bisa ku ulang waktu, ingin rasanya kutarik kembali ucapanku itu.”
Vania tersenyum mendengar perkataanku.
“Aku tak punya kekasih.” Akunya pelan.
Setelah itu, tanpa kuminta, muncullah pengakuan darinya bahwa ia sempat berpacaran dengan beberapa laki-laki. Bahkan ada yang sampai hampir menikahinya. Namun sepertinya Tuhan belum mempertemukan ia dengan jodohnya. Vania harus menelan kenyataan pahit bahwa hubungannya harus berakhir sebelum sampai ke jenjang pelaminan. Alasannya macam-macam, mulai dari dihianati sahabatnya sendiri, ditinggal selingkuh, beda prinsip, cowoknya terlalu possessive, sampai lantaran orang tua masing-masing tak kunjung memberi restu.
Lalu, entah kenapa ada perasaaan lega dalam hatiku mendengar pengakuan darinya. Seperti ada oase yang mengalirkan hawa sejuk dalam jiwaku. Entah rasa apa itu, aku tak mampu menafsirkannya....
Aku mulai mengajarinya iqro jilid satu, mulai dari memperkenalkan huruf hijaiyyah yang paling dasa hingga yang paling rumit. Vania sangat antusias sehingga dia bisa cepat menangkap apa yang kuajarkan padanya. Semua berjalan lebih dari apa yang ku kira sebelumnya. Disela waktu itu, aku mulai menyinggung tentang sholat dan puasa. Kuberikan ia sebuah mukena dan kupinjami beberapa buku tuntunan sholat dan puasa. Ia merasa gembira sekali atas bantuanku itu.
***
“Mas Rafi, dicari seorang cewek tuh!”
Kudengar Hanum berkata lugas sambil menatapku setengah jengkel. Alisku berkerut, memandangnya penuh tanya.
“Siapa?”
“Tak tahu.” Balasnya acuh, sambil berlalu begitu saja di depanku.
Aku mencoba bangkit dari meja kerjaku, berjalan menuju lobby kantor. Sesampainya di ruang lobby, mataku sibuk mengamati seluruh isi ruangan, mencari-cari tamuku itu. Lobby masih tampak sepi. Hanya ada beberapa karyawan hilir-mudik dengan berbagai kesibukan mereka. Lalu, kulihat ada seorang gadis cantik berbalut jilbab merah muda berjalan anggun menghampiriku. Dia kini tersenyum ramah didepanku. Aku bahkan hampir tidak mengenalinya kalau saja tidak kudengar suaranya lewat ucapan salam itu. Suara dari sosok yang amat kukenali. Vania!!
Dan, aku masih enggan percaya. Vania, seorang pramugari yang biasanya berpakaian sexy dan terbuka disana-sini itu kini telah berubah. Ini merupakan sebuah keajaiban. Beribu syukur kuucapkan pada-Nya yang telah membuka pintu hidayah untuk Vania.
“Assalamu’alaikum.”
Aku tercengang. Barangkali keterkejutanku terlalu besar sehingga membuatku tak mampu berkata-kata.
“Mas Rafi??”
“Eh...wa..wa’alaikumsalam.” Balasku gugup, setelah agak lama terdiam.
Aku masih berdiri terpaku menatapnya.
“Mas, penampilanku agak aneh ya?” ucapnya celingukan.
Vania seolah kurang PD dengan penampilan barunya. Jemari tangannya sibuk membenahi letak lipatan jilbabnya.
“Tentu saja tidak. Kau justru terlihat lebih cantik seperti ini.” ucapku cepat.
Vania tampak tersipu malu mendengar pujianku, ia semakin salah tingkah didepanku. Aku tersenyum simpul.
“Mas, dia siapa?” tanya Hanum tiba-tiba sudah menyusulku. Dia melirik Vania sedikit meremehkan.
“Dia sahabatku.”
“Vania, ini Hanum, putri sulung Om Hilwan, partner kerja ayahku di CV. Cahaya Insani.” Ucapku memperkenalkan Hanum pada Vania.
“Vania.” Ucapnya tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan.
“Hanum.” Balas Hanum dingin, dibumbui seulas senyum nan masam, lalu pergi begitu saja meninggalkan kami.
Vania agaknya merasa bahwa kedatangannya tak disukai oleh Hanum. Dengan wajah penuh rasa bersalah, dia berkata lirih padaku.
“Sepertinya Hanum tak suka aku datang kesini.” Ucapnya menyesal.
“Tak apa-apa, dia hanya belum mengenalmu.” Hiburku pada Vania.
“Oh ya, bukankah seharusnya kau bekerja?” tanyaku heran.
“Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku sejak seminggu yang lalu.” Akunya pelan.
“Mengapa?” imbuhku penasaran.
“Karena sekarang aku mengerti bahwa seorang muslimah yang baik itu senantiasa menutup auratnya.”
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka tidak kecewa dengan keputusanmu itu?”
“Awalnya mereka sempat menentang keras keputusanku. Tapi setelah ibuku melihatku mendoakan dia setiap usai sholat, beliau menangis dan mengatakan bahwa beliau mendukungku. Kini ibuku sudah mulai belajar sholat, ayahku bahkan memanggil seorang ustadz untuk menjadi guru mengaji dirumah kami.
Sekali lagi aku tak kuasa membendung rasa bahagiaku mendengar pengakuannya. Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa semuanya akan berjalan semulus dan secepat ini.
“Aku bermaksud untuk mengembalikan ini.” ucapnya sambil menyodorkan tiga buah buku padaku, buku yang sempat ku pinjamkan padanya beberapa waktu yang lalu.
“Itu untukmu.” balasku cepat.
“Untukku??” tanyanya setengah tak percaya.
“Ya, untukmu, untuk kau pelajari, lagipula dirumahku masih banyak buku-buku seperti itu. Kalau kau mau, aku akan memberi beberapa lagi.” jawabku tangkas serta bersemangat.
“Sungguh??”
“Iya.” Anggukku tersenyum.
Vania tampak berseri-seri.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan pun berganti, aku mulai menyadari bahwa kini aku benar-benar jatuh cinta padanya. Langkahku pun kian mantap untuk menikahinya. Setelah kutuntaskan istikharahku, aku semakin yakin bahwa Vania lah yang Alloh persiapkan sebagai tulang rusukku. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur oleh-Nya. Dan, pasti ada alasan kenapa Alloh mempertemukan kami sejak setahun yang lalu, kemudian saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya tumbuh rasa cinta dalam hatiku padanya. Semoga aku melangkah atas ridho-Nya.
Lalu, disinilah aku sekarang, di lorong yang sama dengan gadis yang telah meracuni pikiranku selama setahun terakhir ini. Namun, saat hendak mengutarakan maksud hatiku, lidah ini terasa kaku. Aku benar-benar gugup. Bagaimana memulainya? Serba salah. Entah terbang kemana seluruh kata-kata yang sudah kurangkai sejak semalam, kata-kata itu seakan ikut terhempas bersama degupan jantungku yang semakin tak terkendali.
Aku mulai berbicara pada diriku sendiri untuk menyemangati, 'hadapi dulu ketakutanmu, lalu kumpulkan keberanian setelahnya’, Bismillah! Aku tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menghampiri dia yang sedang sibuk dengan buku bacaan dariku.
“Vania, sekarang bisa bicara kita sebentar?” tanyaku dalam bahasa yang kacau-balau.
“Apa?” tanyanya tak mengerti.
Ia menghentikan bacaannya, lalu menatapku.
“Menikah, ya ma..maksudku menikah denganku. Bagaimana? Kau mau? Ucapku lagi, meski masih dengan dialog yang sangat buruk, tapi semoga dia paham dengan apa yang aku maksudkan.
Tak ada jawaban.
Setuju kah? Loh, kok bengong? Jawab dong!! Apakah tawaranku ini terkesan tiba-tiba? Kagetkah ia? Shock? Cecarku dalam hati. Aku tak berani menatapnya. Nyaliku perlahan mulai memudar. Saat ini aku mulai menyesali keputusanku untuk mengutarakan maksud hatiku.
Masih tak ada jawaban.
Vania tetap terdiam. Duhh... Hatiku sepertinya telah mampu membaca akhir dari pembicaraan ini. Tapi lho? Dia mulai tersenyum melihat kegugupanku, kemudian mengangguk, sambil tersipu malu-malu. Lalu tertunduk.
Uh, uh, uh. Akhirnya lega juga. Padahal aku sudah bersiap-siap patah hati mendengar penolakannya. Ternyata gayung pun bersambut. Cintaku berbalas manis. Aku mengembangkan senyum lebar, Hehee... Alhamdulillah, akhirnya......
Baca Sambungannya :
1.Pelangi Di Ujung Senja Part. I
2.Pelangi Di Ujung Senja Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Pelangi Di Ujung Senja Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
PELANGI DI UJUNG SENJA PART. I
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Namanya Stevania Elizabetha Putri, salah seorang pramugari cantik pada sebuah maskapai penerbangan ternama di tanah air. Vania, begitu sapaan akrabnya sehari-hari, dia merupakan sosok gadis metropolis yang digilai banyak kaum lelaki; cantik, langsing, tinggi, putih, mulus, gaul, modis, ngerti trend, atau apalah namanya. Perfect banget ya? Tapi bukan berarti alasanku mencintainya gara-gara itu tadi. Sama sekali bukan!! Justru sebaliknya. Aku sama sekali tidak mengutamakan kecantikan fisiknya, tapi aku suka kepribadiannya.
Sejujurnya, cinta itu tidak semerta-merta datang begitu saja. Bahkan, pada hari pertama aku mengenalnya, masih terasa biasa-biasa saja, tak ada getaran layaknya orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat penampilannya yang cenderung sexy, lihai menggoda mata kaum adam dengan model pakaiannya yang kelewat minim, ditambah balutan make up nya yang kurasa aneh, membuatku meliriknya saja risih. Apalagi sampai menikahinya. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ya, dia bukan gadis yang sesuai kriteriaku.
Namun, sekali lagi ini tak terlepas dari takdir-Nya. Hingga setelah aku mengenalnya lebih jauh, diam-diam hati yang semula biasa-biasa saja perlahan mulai tumbuh semacam rasa yang sulit untuk kujelaskan. Kini aku mulai mencintainya, benar-benar mencintainya. Ya, begitulah. Cinta memang terkadang begitu misterius.
Pertemuanku dengannya berjalan begitu cepat, sungguh tak pernah kuduga sebelumnya. Kala itu aku tengah berada dalam sebuah pesawat yang akan mengantar kepulanganku menuju tanah air, kampung halaman yang selama lima tahun terakhir ini aku tinggalkan, tepatnya sejak keputusanku untuk mengambil study di universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
Pesawat sudah mulai lepas landas sekitar setengah jam yang lalu, meski aku tak duduk tepat disamping jendela, aku tetap bisa menatap sinar pudar mentari yang timbul-tenggelam dari balik tumpukan awan yang mengapung. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Aku kembali meneruskan buku bacaanku. Namun, ternyata mataku sudah mulai terasa lelah. Alih-alih ingin memejamkan mata sejenak, tiba-tiba saja salah seorang pramugari cantik datang menghampiriku.
“Maaf mengganggu istirahat bapak, apakah ini dengan bapak Muhammad Rafi Farhan?” tanyanya ramah sambil mencocokkan nomor kursiku dengan secarik kertas yang dipegangnya.
“Iya, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Kami mendapat laporan dari pihak maskapai, bahwa sewaktu pesawat ini hendak lepas landas, salah seorang petugas keamanan menemukan dompet anda di ruang transit.” Ujarnya sambil menyerahkan sebuah dompet padaku.
“Oh ya? Terimakasih.” Ujarku kaget bercampur lega.
“Kami mohon maaf tadi sempat membongkar dompet anda untuk mencari identitas pemiliknya.”
“Iya, tidak apa-apa.” Ucapku tersenyum.
“Hmm... Mas Rafi rupanya tinggal di daerah blok. O, Jalan Permai, Jakarta Pusat ya? Kebetulan rumah saya juga di daerah situ.” Tanyanya malu-malu, mengganti panggilan untukku yang semula “Bapak Rafi” menjadi ”Mas Rafi”.
“Benarkah? Tepatnya dimana?” tanyaku pura-pura tertarik. Tapi sekali lagi ini hanya pura-pura, sungguh!!
“Perum Indah Permai, blok. L, Jalan Permai, Jakarta Pusat.”
Entah apa saja obrolan kami setelah itu, aku tak begitu ingat. Yang jelas, di akhir perkenalan itu, kami sempat bertukar nomor handphone! Nah, setelah itu kami jadi intens berkomunikasi, Vania sepertinya mulai menunjukkan ketertarikannya dengan Islam. Ia sering bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dunia Islam. Maklumlah, dia bukan berasal dari keluarga yang tergolong religius, ibunya menjadi seorang mu’alaf sejak menikah dengan ayahnya. Sementara itu, ayahnya pun belum sepenuhnya menjalankan syareat Islam secara utuh, istilahnya hanya Islam KTP saja. Hal itulah yang membuat aku merasa memiliki tanggungjawab untuk membimbingnya pemahaman agama yang lebih dalam. Ada jihad yang besar disitu, menuntun dia untuk lebih dekat pada-Nya.
Jika sedang libur dari pekerjaannya, Vania sesekali bertandang kerumahku. Seperti pagi ini, pagi-pagi sekali Vania sudah bertamu. Aku tidak menyadari kedatangannya karena aku sedang serius bertadarus Al-qur’an di teras depan rumah.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara yang amat kukenali menyapa ramah, diikuti sesosok gadis cantik tersenyum menghampiriku.
“Waalaikumsalam.” Balasku sambil kuhentikan tadarusku dan menatap dia yang kini berdiri tak jauh di depanku, lalu mempersilahkannya duduk.
“Bacalah lagi, aku merasa damai mendengarnya.” Pintanya padaku.
“Kau bisa membacanya sendiri.” Ucapku sambil tersenyum.
“Aku tidak bisa.” Ucapnya pelan, ia tertunduk.
“Mau aku ajari?” imbuhku lagi.
“Tentu, dengan senang hati.” Balasnya dengan wajah berseri-seri.
“Baiklah, kau bisa belajar kapanpun kau mau, itupun jika kekasihmu tidak keberatan kau belajar denganku.” Ucapku kelepasan.
Duhh....Aku jadi kikuk, seharusnya aku tak perlu menyinggung-nyinggung tentang kekasihnya, kecuali bila ia bercerita atas kemauannya sendiri. Sayang, aku sudah terlanjur mengatakannya. Sungguh sangat kusesali. “Oh, andai bisa ku ulang waktu, ingin rasanya kutarik kembali ucapanku itu.”
Vania tersenyum mendengar perkataanku.
“Aku tak punya kekasih.” Akunya pelan.
Setelah itu, tanpa kuminta, muncullah pengakuan darinya bahwa ia sempat berpacaran dengan beberapa laki-laki. Bahkan ada yang sampai hampir menikahinya. Namun sepertinya Tuhan belum mempertemukan ia dengan jodohnya. Vania harus menelan kenyataan pahit bahwa hubungannya harus berakhir sebelum sampai ke jenjang pelaminan. Alasannya macam-macam, mulai dari dihianati sahabatnya sendiri, ditinggal selingkuh, beda prinsip, cowoknya terlalu possessive, sampai lantaran orang tua masing-masing tak kunjung memberi restu.
Lalu, entah kenapa ada perasaaan lega dalam hatiku mendengar pengakuan darinya. Seperti ada oase yang mengalirkan hawa sejuk dalam jiwaku. Entah rasa apa itu, aku tak mampu menafsirkannya....
Aku mulai mengajarinya iqro jilid satu, mulai dari memperkenalkan huruf hijaiyyah yang paling dasa hingga yang paling rumit. Vania sangat antusias sehingga dia bisa cepat menangkap apa yang kuajarkan padanya. Semua berjalan lebih dari apa yang ku kira sebelumnya. Disela waktu itu, aku mulai menyinggung tentang sholat dan puasa. Kuberikan ia sebuah mukena dan kupinjami beberapa buku tuntunan sholat dan puasa. Ia merasa gembira sekali atas bantuanku itu.
***
“Mas Rafi, dicari seorang cewek tuh!”
Kudengar Hanum berkata lugas sambil menatapku setengah jengkel. Alisku berkerut, memandangnya penuh tanya.
“Siapa?”
“Tak tahu.” Balasnya acuh, sambil berlalu begitu saja di depanku.
Aku mencoba bangkit dari meja kerjaku, berjalan menuju lobby kantor. Sesampainya di ruang lobby, mataku sibuk mengamati seluruh isi ruangan, mencari-cari tamuku itu. Lobby masih tampak sepi. Hanya ada beberapa karyawan hilir-mudik dengan berbagai kesibukan mereka. Lalu, kulihat ada seorang gadis cantik berbalut jilbab merah muda berjalan anggun menghampiriku. Dia kini tersenyum ramah didepanku. Aku bahkan hampir tidak mengenalinya kalau saja tidak kudengar suaranya lewat ucapan salam itu. Suara dari sosok yang amat kukenali. Vania!!
Dan, aku masih enggan percaya. Vania, seorang pramugari yang biasanya berpakaian sexy dan terbuka disana-sini itu kini telah berubah. Ini merupakan sebuah keajaiban. Beribu syukur kuucapkan pada-Nya yang telah membuka pintu hidayah untuk Vania.
“Assalamu’alaikum.”
Aku tercengang. Barangkali keterkejutanku terlalu besar sehingga membuatku tak mampu berkata-kata.
“Mas Rafi??”
“Eh...wa..wa’alaikumsalam.” Balasku gugup, setelah agak lama terdiam.
Aku masih berdiri terpaku menatapnya.
“Mas, penampilanku agak aneh ya?” ucapnya celingukan.
Vania seolah kurang PD dengan penampilan barunya. Jemari tangannya sibuk membenahi letak lipatan jilbabnya.
“Tentu saja tidak. Kau justru terlihat lebih cantik seperti ini.” ucapku cepat.
Vania tampak tersipu malu mendengar pujianku, ia semakin salah tingkah didepanku. Aku tersenyum simpul.
“Mas, dia siapa?” tanya Hanum tiba-tiba sudah menyusulku. Dia melirik Vania sedikit meremehkan.
“Dia sahabatku.”
“Vania, ini Hanum, putri sulung Om Hilwan, partner kerja ayahku di CV. Cahaya Insani.” Ucapku memperkenalkan Hanum pada Vania.
“Vania.” Ucapnya tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan.
“Hanum.” Balas Hanum dingin, dibumbui seulas senyum nan masam, lalu pergi begitu saja meninggalkan kami.
Vania agaknya merasa bahwa kedatangannya tak disukai oleh Hanum. Dengan wajah penuh rasa bersalah, dia berkata lirih padaku.
“Sepertinya Hanum tak suka aku datang kesini.” Ucapnya menyesal.
“Tak apa-apa, dia hanya belum mengenalmu.” Hiburku pada Vania.
“Oh ya, bukankah seharusnya kau bekerja?” tanyaku heran.
“Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku sejak seminggu yang lalu.” Akunya pelan.
“Mengapa?” imbuhku penasaran.
“Karena sekarang aku mengerti bahwa seorang muslimah yang baik itu senantiasa menutup auratnya.”
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka tidak kecewa dengan keputusanmu itu?”
“Awalnya mereka sempat menentang keras keputusanku. Tapi setelah ibuku melihatku mendoakan dia setiap usai sholat, beliau menangis dan mengatakan bahwa beliau mendukungku. Kini ibuku sudah mulai belajar sholat, ayahku bahkan memanggil seorang ustadz untuk menjadi guru mengaji dirumah kami.
Sekali lagi aku tak kuasa membendung rasa bahagiaku mendengar pengakuannya. Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa semuanya akan berjalan semulus dan secepat ini.
“Aku bermaksud untuk mengembalikan ini.” ucapnya sambil menyodorkan tiga buah buku padaku, buku yang sempat ku pinjamkan padanya beberapa waktu yang lalu.
“Itu untukmu.” balasku cepat.
“Untukku??” tanyanya setengah tak percaya.
“Ya, untukmu, untuk kau pelajari, lagipula dirumahku masih banyak buku-buku seperti itu. Kalau kau mau, aku akan memberi beberapa lagi.” jawabku tangkas serta bersemangat.
“Sungguh??”
“Iya.” Anggukku tersenyum.
Vania tampak berseri-seri.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan pun berganti, aku mulai menyadari bahwa kini aku benar-benar jatuh cinta padanya. Langkahku pun kian mantap untuk menikahinya. Setelah kutuntaskan istikharahku, aku semakin yakin bahwa Vania lah yang Alloh persiapkan sebagai tulang rusukku. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur oleh-Nya. Dan, pasti ada alasan kenapa Alloh mempertemukan kami sejak setahun yang lalu, kemudian saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya tumbuh rasa cinta dalam hatiku padanya. Semoga aku melangkah atas ridho-Nya.
Lalu, disinilah aku sekarang, di lorong yang sama dengan gadis yang telah meracuni pikiranku selama setahun terakhir ini. Namun, saat hendak mengutarakan maksud hatiku, lidah ini terasa kaku. Aku benar-benar gugup. Bagaimana memulainya? Serba salah. Entah terbang kemana seluruh kata-kata yang sudah kurangkai sejak semalam, kata-kata itu seakan ikut terhempas bersama degupan jantungku yang semakin tak terkendali.
Aku mulai berbicara pada diriku sendiri untuk menyemangati, 'hadapi dulu ketakutanmu, lalu kumpulkan keberanian setelahnya’, Bismillah! Aku tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menghampiri dia yang sedang sibuk dengan buku bacaan dariku.
“Vania, sekarang bisa bicara kita sebentar?” tanyaku dalam bahasa yang kacau-balau.
“Apa?” tanyanya tak mengerti.
Ia menghentikan bacaannya, lalu menatapku.
“Menikah, ya ma..maksudku menikah denganku. Bagaimana? Kau mau? Ucapku lagi, meski masih dengan dialog yang sangat buruk, tapi semoga dia paham dengan apa yang aku maksudkan.
Tak ada jawaban.
Setuju kah? Loh, kok bengong? Jawab dong!! Apakah tawaranku ini terkesan tiba-tiba? Kagetkah ia? Shock? Cecarku dalam hati. Aku tak berani menatapnya. Nyaliku perlahan mulai memudar. Saat ini aku mulai menyesali keputusanku untuk mengutarakan maksud hatiku.
Masih tak ada jawaban.
Vania tetap terdiam. Duhh... Hatiku sepertinya telah mampu membaca akhir dari pembicaraan ini. Tapi lho? Dia mulai tersenyum melihat kegugupanku, kemudian mengangguk, sambil tersipu malu-malu. Lalu tertunduk.
Uh, uh, uh. Akhirnya lega juga. Padahal aku sudah bersiap-siap patah hati mendengar penolakannya. Ternyata gayung pun bersambut. Cintaku berbalas manis. Aku mengembangkan senyum lebar, Hehee... Alhamdulillah, akhirnya......
Baca Sambungannya :
1.Pelangi Di Ujung Senja Part. I
2.Pelangi Di Ujung Senja Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
» Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II - Cerpen Persahabatan Remaja
Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II - Cerpen Persahabatan Remaja SETETES EMBUN DI HATI SYAHDU PART. II Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin Kutuliskan kisah sedihku pada buku Diaryku. Aku menangis bersama curahan hatiku atas apa yang sedang kurasakan saat ini. “Du, boleh Mba masuk?” tanya Mba Maula dari balik pintu. Buru-buru kusimpan buku Diaryku. Kuseka air mataku bersih-bersih. Aku tak ingin Mba Maula mendapatiku menangis lagi. “Masuk saja Mba, nggak Syahdu kunci kok.” Mba Maula pun masuk, “Tadi seharian kemana aja?” “Gimana tadi seminarnya Mba?” tanyaku alih-alih menjawab pertanyaannya. “Uh,,keren banget. Sayangnya Syahdu nggak dateng sih.” “Eh iya, tadi tuh temenmu ada yang jadi pembahas juga lo, Adik kelasnya Aal dulu sewaktu SMA. Siapa namanya ya?” kata Mba Maula sambil berusaha mengingat-ingat. “Tita.” jawabku pendek. “Iya Tita. Ternyata dia jago banget bahasa Arabnya ya?” Aku diam saja. Melihat responku yang terkesan datar-datar saja, Mba Maula kelihatan semakin penasaran. “Du, Mba perhatikan kok akhir-akhir ini kamu dengan Tita tak seakrab dulu, ada apa?” Aku enggan menjawab. Aku pura-pura asyik membaca buku. Membolak-balik halaman demi halaman agar tampak serius. “Apa ini ada kaitannya dengan Aal?” ia menatapku penuh tanya. Aku tersentak. Namun tak berani menjawab. “Du, Mba paham dengan apa yang kamu rasakan. Tapi, jikalau Mba boleh berpendapat, apakah kamu mau mendengarkan?” ucapnya serius. Aku mengangguk pelan. “Maksudku....persahabatan kalian terlalu berharga jika harus hancur hanya gara-gara urusan perasaan yang belum tahu bagaimana ujungnya. Mba ngerti, pasti ada rasa kecewa dihatimu melihat kedekatan Aal dengan Tita. Tapi bukankah jodoh itu ditangan Alloh?” “Tapi, Mba......” aku tergugu. “Sudah saatnya kamu berpikir lebih dewasa, Du. Tanyakan pada hati kecilmu, sudah bijak kah tindakanmu itu?” ucap Mba Maula sembari menepuk-nepuk pundakku. “Lagian Mba merasa kalau Aal sebenarnya sudah menyukai gadis lain.” Ucapnya lirih, lirih sekali bahkan hampir tak terdengar. Mungkin dia tak ingin ucapannya itu membuatku semakin terluka. “Siapa Mba?” rengekku padanya. “Aku tak tahu pasti. Yang jelas Iqbal tadi mengatakan bahwa Aal menyisakan satu kursi untuk seorang sahabatnya. Namun, iqbal sendiri tak tahu persis siapa sahabat yang sangat diharapkan Aal untuk hadir di acara seminarnya. Karena ternyata dia tak bisa datang.” Aku tercekat mendengarnya, terlintas olehku perkataan Mas Aal beberapa waktu yang lalu bahwa ia berjanji akan menyediakan satu kursi untukku. Benarkah ia sangat mengharapkan kehadiranku? *** Kawasan Kampus UIN, Jakarta. Siang itu aku ada agenda rapat Laporan Penanggung Jawaban kegiatan Pekan Anak Yatim dan Dhuafa. Sehabis sholat dzuhur, ketika mentari sepenggalan naik, aku bergegas menuju ruang rapat. Sesampainya disana aku langsung memilih tempat duduk yang masih kosong. Alhamdulillah kulihat ada kursi kosong disamping Ratih. Aku langsung memilih untuk duduk disitu. Kali ini aku dan Tita duduk terpisah. Bukannya apa, KEBETULAN aku datang agak telat dan kursi di kanan-kiri Tita sudah bertuan. Aku sengaja menyebutnya ini sebuah KEBETULAN karena memang sejujurnya aku juga sedang tak ingin duduk disampingnya. Tidak seperti biasanya, kulihat Tita tampak murung dan lebih banyak diam selama rapat. Padahal biasanya dia paling aktif dan banyak mengeluarkan ide-ide cemerlang yang biasanya langsung di Amini dan didukung sepenuhnya oleh Mas Fikra, sang ketua organisasi. Seusai rapat, tatkala aku sedang berkemas, Mas Fikra mendekatiku. Dia mengatakan bahwa Tita terlihat sangat sedih, dia memintaku untuk membantu mencari tahu masalahnya. Ketika aku keluar, kulihat Tita tengah duduk sendiri dengan muka tertunduk. Aku mencoba untuk duduk disampingnya. “Ta, kenapa sedih?” sapaku memecah kesunyian. “Aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku Mba.” Ucapnya sambil terisak. Aku memandangnya penuh tanya, “Apa?” “Seuntai Tasbih mungil bewarna putih.” “Apakah itu merupakan pemberian dari orang yang sangat istimewa bagimu?” “Itu dari Mas Aal, tiga tahun yang lalu. Saat dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku. Aku takut itu merupakan pertanda bahwa aku akan kehilangannya.” Akunya pelan. Aku tercekat mendengar perkataannya. Hatiku teriris, ternyata Tita lah sosok gadis yang pernah diceritakan Mas Aal padaku. Dengan hati hancur kuberikan senyumku yang termanis untuk Tita. “Aku akan membantu mencarinya untukmu.” “Sungguh?” Tita seperti tak percaya. “Ya.” Tita memelukku haru. Dia menangis di bahuku. Akupun menangis. Aku menangis karena merasa bahwa selama ini aku telah bersu’udzon padanya. Aku menganggap bahwa selama ini Tita mencoba merebut Mas Aal dariku. Padahal kenyataannya Tita lah yang lebih dulu mendapatkan hatinya. Dan sejak saat itu aku berusaha untuk melupakan Mas Aal, demi Tita, sahabatku. *** Malam kian larut, percikan gerimis yang turun dari tadi sore belum juga reda. Sementara itu, suara katak tergengar saling bersahutan membentuk irama melodi yang khas. Aku Masih terpaku diatas sajadahku, mencoba mencurahkan isi hatiku kepada Dzat yang memiliki kerajaan hati. Dan aku menemukan kedamaian disana. Sekarang aku sudah benar-benar mengikhlaskannya, kutitipkan dia kepada-Mu karena Aku yakin Engkau Maha Tahu apa yang terbaik buat hambamu ini. Jika kelak dia memanglah untukku, Engkau pasti akan mempertemukan kita di saat yang tepat. Namun, jika dia bukanlah untukku, akupun akan berusaha untuk berbesar hati menerima takdirku. Aku yakin, jika aku selalu mempercantik akhlakku, kelak Engkau pun akan mempertemukanku dengan seseorang yang sealim, sebaik, sekharismatik dan seindah senyumnya. Amiinn.... *** Di hari Mas Aal wisuda, April 2010. Ketika keluar dari gedung wisuda, Mas Aal langsung disambut oleh keluarga dan banyak sahabat-sahabatnya yang menungguinya. Kulihat Tita juga ada disitu, dengan seikat bunga mawar putih di genggamannya. Kuurungkan niatku untuk menemuinya. Kuputuskan untuk memberinya ucapan selamat via sms. Dia membalas sms-ku dan mengucapkan terimakasih kepadaku. Satu bulan kemudian Mas Iqbal dan Mas Aal berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studi nya. Mba Maula ikut mengantarkannya sampai ke bandara. Sebenarnya Mba Maula mengajakku juga, namun aku menolaknya dengan alasan aku sedang banyak tugas kuliah. Sepertinya Mba Maula pun memahamiku. Sepulang dari bandara, Mba Maula mengatakan bahwa Mas Aal menanyakanku. *** Sore yang kelabu, Desember 2010. Gerimis pertama di awal bulan Desember menjadi saksi bisu babak pertama putusnya persahabatanku dengan Tita. Kala itu Tita berencana menginap dirumahku untuk menyelesaikan laporan kegiatan. “Assalamu’alaikum.” Tita sudah berdiri didepan pintu pagar rumahku dengan baju setengah basah karena gerimis yang dari tadi mengguyur. “Wa’alaikum salam !” sahut Bi Nah sambil berlari membukakan pintu pagar. “Mba Syahdu ada Bi?” tanyanya pada wanita paruh baya yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja dirumahku. “Lagi keluar Mba.” “Kemana?” “Nggak bilang mau kemana. Owh ya Mba Tita tunggu didalam yuk, langsung ke kamarnya Mba Syahdu aja.” “He,,,eh, makasih Bi.” Sesampainya dikamar, Tita langsung mengeluarkan buku-buku yang ada didalam tas nya, memastikan kalau semua bukunya tidak basah karena terkena gerimis dijalan. Tiba-tiba saja tanpa disadarinya, sebuah foto terjatuh dari salah satu bukunya. Disaat yang bersamaan, Bi Nah masuk dengan membawa nampan berisi teh anget dan makanan kecil. Bi Nah menyangka kalau foto itu milikku. “Hmm....Mba Syahdu pasti tadi lupa naruh fotonya Mas Aal.” Ujar bi Nah sambil memungut foto itu. “Fotonya siapa Bi?” Tanya Tita terkejut. “Fotonya Mas Aal.” Jawab Bi Nah sambil memperlihatkan foto itu pada Tita. “Lho? Bi Nah kenal sama laki-laki yang ada dalam foto ini?” “Ya iyalah Mba, ini kan Mas Aal. Dulu itu Mas Aal sering kesini, waktu masih sama-sama kuliah bareng Mba Maula. Dia itu orangnya baik, ramah, alim pula. Ya wajar saja jika Mba Syahdu suka sama dia.” “Mba Syahdu suka sama Mas Aal??” “Iya, sudah sejak lama Mba Syahdu kan suka sama Mas Aal. Sampai-sampai Mba Syahdu menangis semalaman ketika Mas Aal berangkat melanjutkan studinya ke luar negeri. Hingga kini Mba Syahdu juga tak pernah lupa untuk mendoakannya setiap sehabis sholat.” Papar Bi Nah tanpa beban. Sontak Tita langsung memasukkan kembali semua buku-bukunya kedalam tas. Dia mengurungkan kembali niatnya untuk menginap. “Lho? Mba Tita mau kemana?” tanya Bi Nah keheranan melihat Tita tiba-tiba saja berkemas. “Bi, sepertinya saya nggak jadi menginap malam ini, saya ada acara lain.” “Walah, tapi kan Mba Syahdu nya belum pulang, lagian diluar hujannya cukup deras, apa nggak sebaiknya nunggu reda dulu aja Mba?” “Nggak apa-apa Bi, saya bawa jas hujan. Sampaikan saja pada Mba Syahdu kalau saya kesini” Jawabnya sambil sibuk memasukkan buku-bukunya. “Iya, tapi diminum dulu teh nya, mumpung masih anget Mba?” “Lain kali saja Bi, saya agak terburu-buru.” Ucapnya sambil berpamitan. *** Keesokan harinya aku menghampiri Tita yang sedang duduk di meja kerjanya. “Ta, kemarin ada yang tertinggal dikamarku.” Ucapku sambil menyerahkan foto itu padanya. “Ambil saja, bukankah kau juga membutuhkannya?” jawabnya tanpa menoleh kearahku. “Ta, kamu kenapa?” “Kamu yang kenapa?” balasnya dengan nada lebih tinggi. Aku terdiam. “Aku sungguh tak pernah menyangka kalau ternyata Mba Syahdu diam-diam menusukku dari belakang.” “Ta, aku minta maaf, tapi aku tak pernah bermaksud menghianati persahabatan kita, kau hanya salah paham.” “Alaa....sudah jelas-jelas Mba Syahdu diam-diam suka kan sama Mas Aal, padahal Mba Syahdu tau betul kalau aku mencintainya.” “Ta, dengarkan dulu penjelasanku, memang benar aku pernah menyukainya. Tapi itu dulu, jauh sebelum aku mengenalmu, jauh sebelum kita bersahabat, dan semenjak aku tahu bahwa kau mencintainya lebih dulu, aku memutuskan untuk membunuh rasa ini.” “Owh ya?? Haruskah aku sepenuhnya mempercayai kata-kata itu? Sementara kau hingga kini masih saja mendoakannya? Itu artinya kau masih mengharapkannya. Jangan terlalu munafik Mba.” “Ta, apa ada yang salah jika aku mencintai seseorang, dan senantiasa mendoakan yang terbaik untuknya, tanpa berharap lebih. Hanya ingin agar dia selalu ada dalam lindungan-Nya?” ucapku dengan mata berkaca-kaca. “Terserah lah. Yang jelas aku sudah tidak nyaman lagi bekerja-sama denganmu Mba. Hanya ada satu pilihan, aku atau Mba Syahdu yang keluar dari organisasi ini.” jawabnya sambil berlalu meninggalkanku yang terisak di ruangan itu. *** Kabar tentang keributanku dan Tita dengan cepat menyebar luas dan membuat heboh rekan-rekan organisasi kami. Mereka beramai-ramai membuat spekulasi negatif tentangku. Ada yang secara terang-terangan menyindirku, ada pula yang memberikan tatapan ‘menghakimi’ kearahku. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tabah menerima kenyataan ini, aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk membela diri karena hampir semua sahabat-sahabat yang dulu dekat denganku kini mulai menjauhiku. Hanya Mas Fikra yang masih setia memberi dukungan kepadaku. “Du, aku tahu kau tak sejahat yang teman-teman katakan tentangmu. Aku percaya padamu sepenuhnya.” Ujarnya padaku. “Mungkin memang lebih baik jika aku keluar dari organisasi ini Mas. Toh mereka juga sudah tidak mau berkomunikasi lagi denganku.” Jawabku tertunduk. “Kau hanya perlu sedikit bersabar. Aku yakin pasti semua ini akan berlalu.” “Semoga saja, aku pulang dulu.” Kataku sambil berpamitan padanya. “Hati-hati dijalan.” Jawabnya sambil melepas kepergianku. Sejenak setelah aku pergi, Tita muncul. “Ada yang harus kusampaikan padamu Mas.” Katanya sambil berjalan mendekati meja mas Fikra. “Ada apa?” “Aku sudah memutuskan untuk resign dari organisasi ini.” Mas Fikra tak berkedip menatap Tita. “Apa alasannya?” “Kurasa aku tak perlu mengungkapkan apa alasannya, karena aku yakin Mas Fikra sudah tahu alasannya.” Ucapnya dengan nada ketus. “Owh, karena Syahdu? Karena kau dan Syahdu berlomba-lomba memperebutkan Aal? Aku benar-benar menyayangkan sikapmu Ta, kenapa kamu tak bisa membedakan mana masalah pribadi dan mana masalah organisasi? Bukankah sudah sering kukatakan, jangan bawa-bawa masalah pribadi kedalam organisasi?” “Aku tak punya banyak waktu Mas, pilih aku atau Mba Syahdu yang harus bertahan.” “Ternyata cintamu begitu besar padanya, sampai-sampai kamu rela mengorbankan semuanya.” Kata Mas Fikra pelan, lubuk hatinya begitu sedih, betapa selama ini dia mengagumi Tita, berusaha untuk memberikan perhatian padanya, tetapi tetap saja dia tak bisa mengambil hatinya. Tetapi Aal, dengan mudahnya mendapatkan hatinya. “Kau dan Syahdu memegang peranan penting disini, lalu bagaimana jika salah satu dari kalian harus keluar?” “Sejujurnya aku juga tak mau keluar, tapi kalau sampai saat ini Mba Syahdu belum keluar, itu berarti aku yang harus keluar dari sini.” “Aku yang menyuruhnya bertahan sampai saat ini.” “Owh ya?? Jangan dikira aku nggak tahu Mas, Mas Fikra sedang melindunginya kan? Apa tadi dia merengek minta dilindungi?” “Bukan begitu Ta, Syahdu nggak seperti itu. Kau kenal dia dan menurutku sungguh tidak bijak jika aku membiarkannya keluar.” “Aaaahhh....gini jadinya kalau bawa-bawa perasaan.” Ucap Tita kesal. “Kamu ngomong apa?” tanya Mas Fikra keheranan. “Mas Fikra mencintainya kan? Itu sebabnya Mas Fikra menyuruhnya untuk tetap bertahan.” “Tidak. Tapi aku mencintaimu.” Ucapnya sambil berlalu dari ruangannya dan membiarkan Tita tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar. *** Hari-hari selanjutnya merupakan masa-masa sulit dalam hidupku. Tita sangat membenciku. Aku merasa sangat sedih karena dia bahkan sama sekali tak mau menyapaku, sekalipun kita berada dalam satu ruangan yang sama. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kutafsirkan. Ya, tatapan yang mampu mencabik-cabik batinku. Sekali lagi aku hanya bisa pasrah dan mengembalikan semuanya pada Alloh. Padahal setengah mati perjuanganku untuk berusaha menghindari mas Aal. Demi Tita, sahabatku. Disaat-saat seperti ini, aku tiba-tiba merindukan Mba Maula. Sejak kepergiannya melanjutkan S2 nya di Australia, aku seolah kehilangan teman curhat. Semua beban aku pendam sendiri. Sahabat-sahabatku yang lain seperti Hanny, Airin dan Ratih lebih memilih untuk berdiri dibelakang Tita. Semakin hari kondisi kesehatanku menurun. Aku panas tinggi hingga membuat orang-orang rumah panik. Abi dan Ummiku memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Pada akhirnya kudapati diriku tergolek lemas dengan selang infus yang menempel ditangan kiriku. *** Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit dan ruangan yang bewarna putih. Aku menyadari bahwa kini aku sedang berada dirumah sakit. Ada Abi dan Ummi disebelah kananku. Mereka masih tampak cemas. Kulihat Ummi berkali-kali menyapu air matanya. Aku mencoba untuk tersenyum kearah mereka, kutunjukkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. “Mi, jangan menangis.” Ucapku lirih. “Kami sedih melihatmu begini Nak.” Ummi memegang jemariku erat. “Syahdu baik-baik saja.” “Banyak-banyaklah istirahat, jangan terlalu banyak pikiran.” Imbuh Abi sambil membetulkan letak selimutku. Aku mencoba untuk tidur, tapi hanya mata ini yang terpejam. Jiwaku terus terjaga. *** Sejak sakit, aku sholat diatas pembaringan. Setiap usai sholat, aku tak kuasa lagi membendung air mataku. Aku berdoa agar Alloh membukakan mata hati sahabat-sahabatku. “Maafkan aku, Tita.....” Dalam tidurku, sepertinya aku merasakan kehadiran sahabat-sahabatku. Kudengar suara mereka dengan jelas. Aku yakin ini hanya mimpi. Kupejamkan lagi mataku, aku khawatir jika aku terbangun nanti, aku akan menyadari sepenuhnya bahwa mereka hanya hadir dalam mimpiku, bukan dalam dunia nyata. “Syahdu, coba lihat siapa yang datang, Sayang?” ucap Ummi tatkala melihatku terbangun. Aku menoleh, samar-samar kulihat Mas Fikra tersenyum kearahku, lalu disebelahnya ada Hanny, Airin, Ratih dan disebelahnya lagi.....Tita?? aku terkesiap, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Kugosok-gosok lagi mataku, sekedar ingin memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi. Namun, sosok itu tetap tak berubah. Ya memang itu Tita. Kulihat Tita menatapku dengan sorotan mata yang teduh. Tatapan yang sering kulihat ketika kami masih menjadi sahabat. Aku sama sekali tak melihat aura kebencian yang akhir-akhir ini ia tunjukkan padaku. Alhamdulillah, Alloh telah menunjukkan ke Maha Kuasaan-Nya. Dia telah mencairkan ego yang selama ini membeku dalam hati Tita. “Maafkan sikapku selama ini Mba.” Isaknya sambil memelukku. “Aku juga minta maaf Ta, aku yang salah.” Jawabku parau. “Tita yang Egois, selama ini Mba Syahdu menyembunyikan perasaannya demi keutuhan persahabatan kita. Itu pasti tak mudah, dan Mba Syahdu pasti sangat terluka. Tapi, Tita malah membuat Mba Syahdu semakin terluka dengan keegoisan Tita.” “Saling memaafkan saja, itu lebih baik bukan?” imbuh Mas Fikra sambil tersenyum. “Kita mulai dari awal lagi.” “Ya, kita mulai dari awal lagi, sahabatku.” Jawabku penuh haru. Semakin hari kondisi kesehatanku semakin membaik. Kehadiran sahabat-sahabatku menjadi suntikan semangat buatku untuk cepat sembuh. Persahabatanku dengan Tita kini kembali terjalin. Sahabat-sahabatku yang dulunya menghindariku sekarang sudah kembali dekat denganku. Aku sangat bahagia sekali. Semoga Mas Aal diluar sana juga bahagia. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya. *** Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sejak keberangkatan Mas Aal ke Mesir tiga tahun yang lalu, kami tak pernah lagi bertemu. Akupun tak pernah tahu apakah disana dia masih sempat mengingatku ataukah tidak. Yang jelas, doaku tak pernah terputus untuk mendoakan yang terbaik untuknya. Hingga akhirnya kami dipertemukan kembali dalam acara pesta pernikahan Mba Maula dan Mas Iqbal. Ia tak banyak berubah, masih sama seperti dulu. Jelas sekali kulihat ia tersenyum kearahku. Aku tersenyum, jeda waktu dimana ia tak pernah muncul lagi didepanku, senyumnya membuat asa ku yang gersang kini mulai hidup kembali. Dalam hati bersemilah harapan, semoga Alloh kelak mempertemukan kami dipelaminan itu, mengikat janji untuk berbagi dalam suka dan duka, mendidik anak-anak kami hingga menjadi ulama besar. “Mereka tampak serasi ya?” ucapnya membuyarkan lamunanku. “Ya, serasi sekali.” Jawabku tanpa berani menatapnya. “Du, maukah kau menikah denganku?” ucapnya mengejutkanku. Ia menatapku. Aku kehilangan kata-kata. Lidah ini terasa kelu untuk menjawab pertanyaannya. “Du, aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku juga sudah bekerja. Aku ingin menepati janjiku dahulu bahwa aku akan menjemputmu.” Imbuhnya dengan penuh kesungguhan. “Aku tidak bisa.” Jawabku menggeleng pelan sambil menahan air mata yang hampir tumpah. “Mengapa Syahdu? Apakah sudah ada sosok lain yang mengisi hatimu?” Aku kembali menggeleng. “Lalu??” “Tita lebih pantas untukmu Mas.” Ucapku lirih. “Tapi aku memilihmu, Syahdu? Bukan Tita, karena aku mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.” “Aku belum bisa se-sholekhah Tita Mas.” “Aku akan membimbingmu. Kau tak perlu khawatirkan itu.” *** Hari ini aku datang berbagi doa untuk sahabatku. Semoga kau bahagia. Memoriku berselancar, kuingat nostalgia saat kita sama-sama merentas mimpi dan membangun asa. Meski persahabatan kita banyak diurai tangis dan tawa, namun didalamnya aku mengerti arti sahabat yang sesungguhnya, sebuah ikatan yang sangat berharga untuk dipertahankan. Terimakasih telah menjadi sahabat terbaikku, Tita. Kulihat kau tampak begitu bahagia dengan pestamu. Semoga kau dan Mas Fikra bisa membangun keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah seperti yang kau impi-impikan sejak dulu. Aku tak datang sendirian, aku ditemani Mas Aal yang kini telah menjadi suamiku, serta si ‘Alif’ kecil yang ada dalam gendongannya. Semoga pertemuan selanjutnya kutemukan kau dan Mas Fikra serta ‘si jagoan kecilmu’ yang semakin memperlengkap kebahagiaan kalian. Amiin. *TAMAT* Baca Sambungannya : 1.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I 2.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II PROFIL PENULIS Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991 Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II - Cerpen Persahabatan Remaja SETETES EMBUN DI HATI SYAHDU PART. II Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin Kutuliskan kisah sedihku pada buku Diaryku. Aku menangis bersama curahan hatiku atas apa yang sedang kurasakan saat ini. “Du, boleh Mba masuk?” tanya Mba Maula dari balik pintu. Buru-buru kusimpan buku Diaryku. Kuseka air mataku bersih-bersih. Aku tak ingin Mba Maula mendapatiku menangis lagi. “Masuk saja Mba, nggak Syahdu kunci kok.” Mba Maula pun masuk, “Tadi seharian kemana aja?” “Gimana tadi seminarnya Mba?” tanyaku alih-alih menjawab pertanyaannya. “Uh,,keren banget. Sayangnya Syahdu nggak dateng sih.” “Eh iya, tadi tuh temenmu ada yang jadi pembahas juga lo, Adik kelasnya Aal dulu sewaktu SMA. Siapa namanya ya?” kata Mba Maula sambil berusaha mengingat-ingat. “Tita.” jawabku pendek. “Iya Tita. Ternyata dia jago banget bahasa Arabnya ya?” Aku diam saja. Melihat responku yang terkesan datar-datar saja, Mba Maula kelihatan semakin penasaran. “Du, Mba perhatikan kok akhir-akhir ini kamu dengan Tita tak seakrab dulu, ada apa?” Aku enggan menjawab. Aku pura-pura asyik membaca buku. Membolak-balik halaman demi halaman agar tampak serius. “Apa ini ada kaitannya dengan Aal?” ia menatapku penuh tanya. Aku tersentak. Namun tak berani menjawab. “Du, Mba paham dengan apa yang kamu rasakan. Tapi, jikalau Mba boleh berpendapat, apakah kamu mau mendengarkan?” ucapnya serius. Aku mengangguk pelan. “Maksudku....persahabatan kalian terlalu berharga jika harus hancur hanya gara-gara urusan perasaan yang belum tahu bagaimana ujungnya. Mba ngerti, pasti ada rasa kecewa dihatimu melihat kedekatan Aal dengan Tita. Tapi bukankah jodoh itu ditangan Alloh?” “Tapi, Mba......” aku tergugu. “Sudah saatnya kamu berpikir lebih dewasa, Du. Tanyakan pada hati kecilmu, sudah bijak kah tindakanmu itu?” ucap Mba Maula sembari menepuk-nepuk pundakku. “Lagian Mba merasa kalau Aal sebenarnya sudah menyukai gadis lain.” Ucapnya lirih, lirih sekali bahkan hampir tak terdengar. Mungkin dia tak ingin ucapannya itu membuatku semakin terluka. “Siapa Mba?” rengekku padanya. “Aku tak tahu pasti. Yang jelas Iqbal tadi mengatakan bahwa Aal menyisakan satu kursi untuk seorang sahabatnya. Namun, iqbal sendiri tak tahu persis siapa sahabat yang sangat diharapkan Aal untuk hadir di acara seminarnya. Karena ternyata dia tak bisa datang.” Aku tercekat mendengarnya, terlintas olehku perkataan Mas Aal beberapa waktu yang lalu bahwa ia berjanji akan menyediakan satu kursi untukku. Benarkah ia sangat mengharapkan kehadiranku? *** Kawasan Kampus UIN, Jakarta. Siang itu aku ada agenda rapat Laporan Penanggung Jawaban kegiatan Pekan Anak Yatim dan Dhuafa. Sehabis sholat dzuhur, ketika mentari sepenggalan naik, aku bergegas menuju ruang rapat. Sesampainya disana aku langsung memilih tempat duduk yang masih kosong. Alhamdulillah kulihat ada kursi kosong disamping Ratih. Aku langsung memilih untuk duduk disitu. Kali ini aku dan Tita duduk terpisah. Bukannya apa, KEBETULAN aku datang agak telat dan kursi di kanan-kiri Tita sudah bertuan. Aku sengaja menyebutnya ini sebuah KEBETULAN karena memang sejujurnya aku juga sedang tak ingin duduk disampingnya. Tidak seperti biasanya, kulihat Tita tampak murung dan lebih banyak diam selama rapat. Padahal biasanya dia paling aktif dan banyak mengeluarkan ide-ide cemerlang yang biasanya langsung di Amini dan didukung sepenuhnya oleh Mas Fikra, sang ketua organisasi. Seusai rapat, tatkala aku sedang berkemas, Mas Fikra mendekatiku. Dia mengatakan bahwa Tita terlihat sangat sedih, dia memintaku untuk membantu mencari tahu masalahnya. Ketika aku keluar, kulihat Tita tengah duduk sendiri dengan muka tertunduk. Aku mencoba untuk duduk disampingnya. “Ta, kenapa sedih?” sapaku memecah kesunyian. “Aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku Mba.” Ucapnya sambil terisak. Aku memandangnya penuh tanya, “Apa?” “Seuntai Tasbih mungil bewarna putih.” “Apakah itu merupakan pemberian dari orang yang sangat istimewa bagimu?” “Itu dari Mas Aal, tiga tahun yang lalu. Saat dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku. Aku takut itu merupakan pertanda bahwa aku akan kehilangannya.” Akunya pelan. Aku tercekat mendengar perkataannya. Hatiku teriris, ternyata Tita lah sosok gadis yang pernah diceritakan Mas Aal padaku. Dengan hati hancur kuberikan senyumku yang termanis untuk Tita. “Aku akan membantu mencarinya untukmu.” “Sungguh?” Tita seperti tak percaya. “Ya.” Tita memelukku haru. Dia menangis di bahuku. Akupun menangis. Aku menangis karena merasa bahwa selama ini aku telah bersu’udzon padanya. Aku menganggap bahwa selama ini Tita mencoba merebut Mas Aal dariku. Padahal kenyataannya Tita lah yang lebih dulu mendapatkan hatinya. Dan sejak saat itu aku berusaha untuk melupakan Mas Aal, demi Tita, sahabatku. *** Malam kian larut, percikan gerimis yang turun dari tadi sore belum juga reda. Sementara itu, suara katak tergengar saling bersahutan membentuk irama melodi yang khas. Aku Masih terpaku diatas sajadahku, mencoba mencurahkan isi hatiku kepada Dzat yang memiliki kerajaan hati. Dan aku menemukan kedamaian disana. Sekarang aku sudah benar-benar mengikhlaskannya, kutitipkan dia kepada-Mu karena Aku yakin Engkau Maha Tahu apa yang terbaik buat hambamu ini. Jika kelak dia memanglah untukku, Engkau pasti akan mempertemukan kita di saat yang tepat. Namun, jika dia bukanlah untukku, akupun akan berusaha untuk berbesar hati menerima takdirku. Aku yakin, jika aku selalu mempercantik akhlakku, kelak Engkau pun akan mempertemukanku dengan seseorang yang sealim, sebaik, sekharismatik dan seindah senyumnya. Amiinn.... *** Di hari Mas Aal wisuda, April 2010. Ketika keluar dari gedung wisuda, Mas Aal langsung disambut oleh keluarga dan banyak sahabat-sahabatnya yang menungguinya. Kulihat Tita juga ada disitu, dengan seikat bunga mawar putih di genggamannya. Kuurungkan niatku untuk menemuinya. Kuputuskan untuk memberinya ucapan selamat via sms. Dia membalas sms-ku dan mengucapkan terimakasih kepadaku. Satu bulan kemudian Mas Iqbal dan Mas Aal berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studi nya. Mba Maula ikut mengantarkannya sampai ke bandara. Sebenarnya Mba Maula mengajakku juga, namun aku menolaknya dengan alasan aku sedang banyak tugas kuliah. Sepertinya Mba Maula pun memahamiku. Sepulang dari bandara, Mba Maula mengatakan bahwa Mas Aal menanyakanku. *** Sore yang kelabu, Desember 2010. Gerimis pertama di awal bulan Desember menjadi saksi bisu babak pertama putusnya persahabatanku dengan Tita. Kala itu Tita berencana menginap dirumahku untuk menyelesaikan laporan kegiatan. “Assalamu’alaikum.” Tita sudah berdiri didepan pintu pagar rumahku dengan baju setengah basah karena gerimis yang dari tadi mengguyur. “Wa’alaikum salam !” sahut Bi Nah sambil berlari membukakan pintu pagar. “Mba Syahdu ada Bi?” tanyanya pada wanita paruh baya yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja dirumahku. “Lagi keluar Mba.” “Kemana?” “Nggak bilang mau kemana. Owh ya Mba Tita tunggu didalam yuk, langsung ke kamarnya Mba Syahdu aja.” “He,,,eh, makasih Bi.” Sesampainya dikamar, Tita langsung mengeluarkan buku-buku yang ada didalam tas nya, memastikan kalau semua bukunya tidak basah karena terkena gerimis dijalan. Tiba-tiba saja tanpa disadarinya, sebuah foto terjatuh dari salah satu bukunya. Disaat yang bersamaan, Bi Nah masuk dengan membawa nampan berisi teh anget dan makanan kecil. Bi Nah menyangka kalau foto itu milikku. “Hmm....Mba Syahdu pasti tadi lupa naruh fotonya Mas Aal.” Ujar bi Nah sambil memungut foto itu. “Fotonya siapa Bi?” Tanya Tita terkejut. “Fotonya Mas Aal.” Jawab Bi Nah sambil memperlihatkan foto itu pada Tita. “Lho? Bi Nah kenal sama laki-laki yang ada dalam foto ini?” “Ya iyalah Mba, ini kan Mas Aal. Dulu itu Mas Aal sering kesini, waktu masih sama-sama kuliah bareng Mba Maula. Dia itu orangnya baik, ramah, alim pula. Ya wajar saja jika Mba Syahdu suka sama dia.” “Mba Syahdu suka sama Mas Aal??” “Iya, sudah sejak lama Mba Syahdu kan suka sama Mas Aal. Sampai-sampai Mba Syahdu menangis semalaman ketika Mas Aal berangkat melanjutkan studinya ke luar negeri. Hingga kini Mba Syahdu juga tak pernah lupa untuk mendoakannya setiap sehabis sholat.” Papar Bi Nah tanpa beban. Sontak Tita langsung memasukkan kembali semua buku-bukunya kedalam tas. Dia mengurungkan kembali niatnya untuk menginap. “Lho? Mba Tita mau kemana?” tanya Bi Nah keheranan melihat Tita tiba-tiba saja berkemas. “Bi, sepertinya saya nggak jadi menginap malam ini, saya ada acara lain.” “Walah, tapi kan Mba Syahdu nya belum pulang, lagian diluar hujannya cukup deras, apa nggak sebaiknya nunggu reda dulu aja Mba?” “Nggak apa-apa Bi, saya bawa jas hujan. Sampaikan saja pada Mba Syahdu kalau saya kesini” Jawabnya sambil sibuk memasukkan buku-bukunya. “Iya, tapi diminum dulu teh nya, mumpung masih anget Mba?” “Lain kali saja Bi, saya agak terburu-buru.” Ucapnya sambil berpamitan. *** Keesokan harinya aku menghampiri Tita yang sedang duduk di meja kerjanya. “Ta, kemarin ada yang tertinggal dikamarku.” Ucapku sambil menyerahkan foto itu padanya. “Ambil saja, bukankah kau juga membutuhkannya?” jawabnya tanpa menoleh kearahku. “Ta, kamu kenapa?” “Kamu yang kenapa?” balasnya dengan nada lebih tinggi. Aku terdiam. “Aku sungguh tak pernah menyangka kalau ternyata Mba Syahdu diam-diam menusukku dari belakang.” “Ta, aku minta maaf, tapi aku tak pernah bermaksud menghianati persahabatan kita, kau hanya salah paham.” “Alaa....sudah jelas-jelas Mba Syahdu diam-diam suka kan sama Mas Aal, padahal Mba Syahdu tau betul kalau aku mencintainya.” “Ta, dengarkan dulu penjelasanku, memang benar aku pernah menyukainya. Tapi itu dulu, jauh sebelum aku mengenalmu, jauh sebelum kita bersahabat, dan semenjak aku tahu bahwa kau mencintainya lebih dulu, aku memutuskan untuk membunuh rasa ini.” “Owh ya?? Haruskah aku sepenuhnya mempercayai kata-kata itu? Sementara kau hingga kini masih saja mendoakannya? Itu artinya kau masih mengharapkannya. Jangan terlalu munafik Mba.” “Ta, apa ada yang salah jika aku mencintai seseorang, dan senantiasa mendoakan yang terbaik untuknya, tanpa berharap lebih. Hanya ingin agar dia selalu ada dalam lindungan-Nya?” ucapku dengan mata berkaca-kaca. “Terserah lah. Yang jelas aku sudah tidak nyaman lagi bekerja-sama denganmu Mba. Hanya ada satu pilihan, aku atau Mba Syahdu yang keluar dari organisasi ini.” jawabnya sambil berlalu meninggalkanku yang terisak di ruangan itu. *** Kabar tentang keributanku dan Tita dengan cepat menyebar luas dan membuat heboh rekan-rekan organisasi kami. Mereka beramai-ramai membuat spekulasi negatif tentangku. Ada yang secara terang-terangan menyindirku, ada pula yang memberikan tatapan ‘menghakimi’ kearahku. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tabah menerima kenyataan ini, aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk membela diri karena hampir semua sahabat-sahabat yang dulu dekat denganku kini mulai menjauhiku. Hanya Mas Fikra yang masih setia memberi dukungan kepadaku. “Du, aku tahu kau tak sejahat yang teman-teman katakan tentangmu. Aku percaya padamu sepenuhnya.” Ujarnya padaku. “Mungkin memang lebih baik jika aku keluar dari organisasi ini Mas. Toh mereka juga sudah tidak mau berkomunikasi lagi denganku.” Jawabku tertunduk. “Kau hanya perlu sedikit bersabar. Aku yakin pasti semua ini akan berlalu.” “Semoga saja, aku pulang dulu.” Kataku sambil berpamitan padanya. “Hati-hati dijalan.” Jawabnya sambil melepas kepergianku. Sejenak setelah aku pergi, Tita muncul. “Ada yang harus kusampaikan padamu Mas.” Katanya sambil berjalan mendekati meja mas Fikra. “Ada apa?” “Aku sudah memutuskan untuk resign dari organisasi ini.” Mas Fikra tak berkedip menatap Tita. “Apa alasannya?” “Kurasa aku tak perlu mengungkapkan apa alasannya, karena aku yakin Mas Fikra sudah tahu alasannya.” Ucapnya dengan nada ketus. “Owh, karena Syahdu? Karena kau dan Syahdu berlomba-lomba memperebutkan Aal? Aku benar-benar menyayangkan sikapmu Ta, kenapa kamu tak bisa membedakan mana masalah pribadi dan mana masalah organisasi? Bukankah sudah sering kukatakan, jangan bawa-bawa masalah pribadi kedalam organisasi?” “Aku tak punya banyak waktu Mas, pilih aku atau Mba Syahdu yang harus bertahan.” “Ternyata cintamu begitu besar padanya, sampai-sampai kamu rela mengorbankan semuanya.” Kata Mas Fikra pelan, lubuk hatinya begitu sedih, betapa selama ini dia mengagumi Tita, berusaha untuk memberikan perhatian padanya, tetapi tetap saja dia tak bisa mengambil hatinya. Tetapi Aal, dengan mudahnya mendapatkan hatinya. “Kau dan Syahdu memegang peranan penting disini, lalu bagaimana jika salah satu dari kalian harus keluar?” “Sejujurnya aku juga tak mau keluar, tapi kalau sampai saat ini Mba Syahdu belum keluar, itu berarti aku yang harus keluar dari sini.” “Aku yang menyuruhnya bertahan sampai saat ini.” “Owh ya?? Jangan dikira aku nggak tahu Mas, Mas Fikra sedang melindunginya kan? Apa tadi dia merengek minta dilindungi?” “Bukan begitu Ta, Syahdu nggak seperti itu. Kau kenal dia dan menurutku sungguh tidak bijak jika aku membiarkannya keluar.” “Aaaahhh....gini jadinya kalau bawa-bawa perasaan.” Ucap Tita kesal. “Kamu ngomong apa?” tanya Mas Fikra keheranan. “Mas Fikra mencintainya kan? Itu sebabnya Mas Fikra menyuruhnya untuk tetap bertahan.” “Tidak. Tapi aku mencintaimu.” Ucapnya sambil berlalu dari ruangannya dan membiarkan Tita tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar. *** Hari-hari selanjutnya merupakan masa-masa sulit dalam hidupku. Tita sangat membenciku. Aku merasa sangat sedih karena dia bahkan sama sekali tak mau menyapaku, sekalipun kita berada dalam satu ruangan yang sama. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kutafsirkan. Ya, tatapan yang mampu mencabik-cabik batinku. Sekali lagi aku hanya bisa pasrah dan mengembalikan semuanya pada Alloh. Padahal setengah mati perjuanganku untuk berusaha menghindari mas Aal. Demi Tita, sahabatku. Disaat-saat seperti ini, aku tiba-tiba merindukan Mba Maula. Sejak kepergiannya melanjutkan S2 nya di Australia, aku seolah kehilangan teman curhat. Semua beban aku pendam sendiri. Sahabat-sahabatku yang lain seperti Hanny, Airin dan Ratih lebih memilih untuk berdiri dibelakang Tita. Semakin hari kondisi kesehatanku menurun. Aku panas tinggi hingga membuat orang-orang rumah panik. Abi dan Ummiku memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Pada akhirnya kudapati diriku tergolek lemas dengan selang infus yang menempel ditangan kiriku. *** Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit dan ruangan yang bewarna putih. Aku menyadari bahwa kini aku sedang berada dirumah sakit. Ada Abi dan Ummi disebelah kananku. Mereka masih tampak cemas. Kulihat Ummi berkali-kali menyapu air matanya. Aku mencoba untuk tersenyum kearah mereka, kutunjukkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. “Mi, jangan menangis.” Ucapku lirih. “Kami sedih melihatmu begini Nak.” Ummi memegang jemariku erat. “Syahdu baik-baik saja.” “Banyak-banyaklah istirahat, jangan terlalu banyak pikiran.” Imbuh Abi sambil membetulkan letak selimutku. Aku mencoba untuk tidur, tapi hanya mata ini yang terpejam. Jiwaku terus terjaga. *** Sejak sakit, aku sholat diatas pembaringan. Setiap usai sholat, aku tak kuasa lagi membendung air mataku. Aku berdoa agar Alloh membukakan mata hati sahabat-sahabatku. “Maafkan aku, Tita.....” Dalam tidurku, sepertinya aku merasakan kehadiran sahabat-sahabatku. Kudengar suara mereka dengan jelas. Aku yakin ini hanya mimpi. Kupejamkan lagi mataku, aku khawatir jika aku terbangun nanti, aku akan menyadari sepenuhnya bahwa mereka hanya hadir dalam mimpiku, bukan dalam dunia nyata. “Syahdu, coba lihat siapa yang datang, Sayang?” ucap Ummi tatkala melihatku terbangun. Aku menoleh, samar-samar kulihat Mas Fikra tersenyum kearahku, lalu disebelahnya ada Hanny, Airin, Ratih dan disebelahnya lagi.....Tita?? aku terkesiap, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Kugosok-gosok lagi mataku, sekedar ingin memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi. Namun, sosok itu tetap tak berubah. Ya memang itu Tita. Kulihat Tita menatapku dengan sorotan mata yang teduh. Tatapan yang sering kulihat ketika kami masih menjadi sahabat. Aku sama sekali tak melihat aura kebencian yang akhir-akhir ini ia tunjukkan padaku. Alhamdulillah, Alloh telah menunjukkan ke Maha Kuasaan-Nya. Dia telah mencairkan ego yang selama ini membeku dalam hati Tita. “Maafkan sikapku selama ini Mba.” Isaknya sambil memelukku. “Aku juga minta maaf Ta, aku yang salah.” Jawabku parau. “Tita yang Egois, selama ini Mba Syahdu menyembunyikan perasaannya demi keutuhan persahabatan kita. Itu pasti tak mudah, dan Mba Syahdu pasti sangat terluka. Tapi, Tita malah membuat Mba Syahdu semakin terluka dengan keegoisan Tita.” “Saling memaafkan saja, itu lebih baik bukan?” imbuh Mas Fikra sambil tersenyum. “Kita mulai dari awal lagi.” “Ya, kita mulai dari awal lagi, sahabatku.” Jawabku penuh haru. Semakin hari kondisi kesehatanku semakin membaik. Kehadiran sahabat-sahabatku menjadi suntikan semangat buatku untuk cepat sembuh. Persahabatanku dengan Tita kini kembali terjalin. Sahabat-sahabatku yang dulunya menghindariku sekarang sudah kembali dekat denganku. Aku sangat bahagia sekali. Semoga Mas Aal diluar sana juga bahagia. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya. *** Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sejak keberangkatan Mas Aal ke Mesir tiga tahun yang lalu, kami tak pernah lagi bertemu. Akupun tak pernah tahu apakah disana dia masih sempat mengingatku ataukah tidak. Yang jelas, doaku tak pernah terputus untuk mendoakan yang terbaik untuknya. Hingga akhirnya kami dipertemukan kembali dalam acara pesta pernikahan Mba Maula dan Mas Iqbal. Ia tak banyak berubah, masih sama seperti dulu. Jelas sekali kulihat ia tersenyum kearahku. Aku tersenyum, jeda waktu dimana ia tak pernah muncul lagi didepanku, senyumnya membuat asa ku yang gersang kini mulai hidup kembali. Dalam hati bersemilah harapan, semoga Alloh kelak mempertemukan kami dipelaminan itu, mengikat janji untuk berbagi dalam suka dan duka, mendidik anak-anak kami hingga menjadi ulama besar. “Mereka tampak serasi ya?” ucapnya membuyarkan lamunanku. “Ya, serasi sekali.” Jawabku tanpa berani menatapnya. “Du, maukah kau menikah denganku?” ucapnya mengejutkanku. Ia menatapku. Aku kehilangan kata-kata. Lidah ini terasa kelu untuk menjawab pertanyaannya. “Du, aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku juga sudah bekerja. Aku ingin menepati janjiku dahulu bahwa aku akan menjemputmu.” Imbuhnya dengan penuh kesungguhan. “Aku tidak bisa.” Jawabku menggeleng pelan sambil menahan air mata yang hampir tumpah. “Mengapa Syahdu? Apakah sudah ada sosok lain yang mengisi hatimu?” Aku kembali menggeleng. “Lalu??” “Tita lebih pantas untukmu Mas.” Ucapku lirih. “Tapi aku memilihmu, Syahdu? Bukan Tita, karena aku mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.” “Aku belum bisa se-sholekhah Tita Mas.” “Aku akan membimbingmu. Kau tak perlu khawatirkan itu.” *** Hari ini aku datang berbagi doa untuk sahabatku. Semoga kau bahagia. Memoriku berselancar, kuingat nostalgia saat kita sama-sama merentas mimpi dan membangun asa. Meski persahabatan kita banyak diurai tangis dan tawa, namun didalamnya aku mengerti arti sahabat yang sesungguhnya, sebuah ikatan yang sangat berharga untuk dipertahankan. Terimakasih telah menjadi sahabat terbaikku, Tita. Kulihat kau tampak begitu bahagia dengan pestamu. Semoga kau dan Mas Fikra bisa membangun keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah seperti yang kau impi-impikan sejak dulu. Aku tak datang sendirian, aku ditemani Mas Aal yang kini telah menjadi suamiku, serta si ‘Alif’ kecil yang ada dalam gendongannya. Semoga pertemuan selanjutnya kutemukan kau dan Mas Fikra serta ‘si jagoan kecilmu’ yang semakin memperlengkap kebahagiaan kalian. Amiin. *TAMAT* Baca Sambungannya : 1.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I 2.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II PROFIL PENULIS Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991 Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Minggu, 14 September 2014
Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
SETETES EMBUN DI HATI SYAHDU PART. I
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
“Hmm....kamu naksir ya??”
“Enggak !!”
“Aaahh yang bener??”
“Beneran enggak !!” Jawabku sambil pura-pura sibuk dengan ponselku.
“Terus kalau nggak naksir, kenapa tiba-tiba nanya tentang dia?” Kata Mba Maula Masih menggodaku”.
“Yaa..cuma pengen tahu tentang dia aja ! Elakku.
“Cuma pengen tahu aja, atau pengen tahu banget?? “ Sahut Mba Maula semakin menggodaku.
“Ah terserah Mba aja dech, mau dikasih tahu apa enggak juga gak ngaruh-ngaruh amat koq. Mba Maula kayak gak kenal Syahdu aja. He is completely not my type !!.” Jawabku cepat-cepat sembari menutupi kegugupanku.
“Iya, iya dech nggak usah ngambek gitu, ntar ilang lho cantiknya??”.
Aku masih cemberut. Melihat ngambekku yang semakin menjadi, Mba Maula pun akhirnya mengakhiri candaannya.”
“Iya,,iya, namanya Alif, tapi temen-temen biasa memanggilnya Aal, dia salah-satu mahasiswa terbaik se-angkatanku.”
“Ooohh...!” jawabku sambil manggut-manggut dan berusaha bersikap setenang mungkin. Padahal sih hatiku seneng bangeeett, akhirnya akupun berhasil mengantongi namanya.
***
Hari ini genap satu tahun sudah aku mengenalnya. Kebetulan Mba Maula itu cukup dekat dengannya. Mereka rekan satu organisasi. Sama-sama aktivis BEM ceritanya. So, it is not quite difficult for me to gain some information about him.
Sejauh pengamatanku sampai sekarang ini, aku memperoleh beberapa catatan kecil tentangnya. Mas Aal itu ternyata orangnya ramah, supel, dan sederhana alias enggak neka-neko. Dan yang lebih penting lagi nih, dia itu paling alergi sama yang namanya asap rokok!! Wah..waah keren banget kan, hari gini susah nemuin laki-laki yang kagak doyan rokok. Paling seneng tuh kalo ngeliat dia lagi jalan bawa ‘kitab’ gitu, aku bagai melihat calon ulama besar di masa depan. Hehee...macam peramal saja aku ini.
Pertama aku mengenalnya pas waktu aku nemenin Mba Maula buka puasa bersama anak-anak BEM kampusnya. Waktu itu sih dalam rangka menyambut Nuzulul Qur’an. Aku juga enggak tahu kenapa sejak aku mengenalnya aku bagai larut dalam dunia baruku. Aku yang dulunya pakai jilbabnya kalo pas suasana hatiku lagi baik doang, sekarang sudah mulai belajar beristiqomah untuk memakainya. Mungkin karena suasana hatiku sudah mulai stabil kali yaa, heheee.... Sholatku yang dulunya sering aku delay nanti-nanti, kini alhamdulillah bisa diawal waktu. Tadarus Qur’an ku yang dulunya tambal-sulam alias bolong-bolong, bahkan merupakan agenda tahunan pas bulan Ramadhan saja, kini sudah Masuk dalam daftar agenda harianku. Pokoknya banyak banget dech pengaruh positive-nya terhadapku.
Mba Maula bukannya nggak ‘ngeh’ sama perubahan yang aku alami saat ini. Dia bahkan mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling bahagia atas keinsyafanku. Dia pernah menanyakan padaku apakah aku berubah hanya karena Mas Aal? Sontak aku membantahnya. Kutegaskan padanya bahwa aku berubah semata-mata karena Alloh. Namun, tak bisa kupungkiri bawa Mas Aal lah yang menjadi perantaraku untuk sampai pada ‘cahaya’ itu.
“Alif itu di elu’-elukan banyak wanita, Syahdu? Kamu harus berbesar hati jika kelak bukan kamu yang memenangkan hatinya.” Kata Mba Maula menasehatiku.
“Apakah aku tak cukup pantas untuknya Mba?”
“Kamu pantas Syahdu, sangat pantas malah, jika kamu selalu memantaskan dirimu untuknya. Berusahalah untuk mengimbangi keshalehan dia agar Alloh senantiasa menyondongkan hatinya padamu.” Ujar Mba Maula sembari memelukku seolah ingin menguatkan hatiku.
***
Sore tadi sehabis sholat asyar dimasjid, kuberanikan diri untuk menemuinya. Kukatakan padanya tentang perasaan yang selama ini ‘nyesek’ dihatiku. Dia tampak diam sebentar. Aku tahu mungkin dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaanku tanpa harus melukai perasaanku. Hingga akhirnya dia pun berucap, jawaban yang memang sudah aku prediksi sebelumnya.
“Syahdu, aku belum bisa mengiming-imingimu harapan karena aku belum yakin kelak akan bisa memberi kelanjutan, aku tidak mau menebarimu khayalan indah jika aku belum yakin akan sanggup memberimu kepastian. Karena sesungguhnya yang menunggulah yang paling tersakiti, dan aku tidak ingin menyakitimu. Jika kelak Alloh menakdirkan kita untuk bersama, kau tak perlu datang kepadaku. Namun, aku sendiri yang akan datang menjemputmu.”
Aku terpaku, diam bagai patung, kurasakan ada sesuatu yang menusuk hatiku, pedih, pediiiih sekali, “Duuhh Gustiii, beginikah rasanya patah hati??!!” Bisikku dalam hati,
“Du, kau tak apa-apa?” tanyanya melihatku terpaku.
Aku menggeleng pelan, tanpa berani menatapnya.
“Du, aku benar-benar minta maaf, sungguh aku tak bermaksud menyakitimu, tapi......
“Aku yang seharusnya minta maaf Mas, tak sepantasnya aku berkata seperti itu padamu, rasa ini yang salah.” Kataku tertunduk.
Mas Aal tersenyum, dan kemudian mencoba untuk duduk disampingku. Kupalingkan wajahku memandang Nun jauh kesana, sebuah kamuflase yang sengaja kuciptakan untuk menutupi kesedihanku.
“Du, kejadian ini mengingatkanku atas peristiwa yang kualami tiga tahun lalu. Lebih tepatnya saat aku jatuh cinta pada seorang gadis. Pada awalnya aku menganggap bahwa rasa sayangku padanya layaknya rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Maklumlah, dia tiga tahun lebih muda dariku. Hingga lambat-laun aku menyadari bahwa aku mulai mencintainya. Aku memikirkannya setiap saat, dan ini sangat menggangguku. Konsentrasiku terusik, makan tak enak, tidur pula tak nyenyak, sampai akhirnya kuputuskan untuk mengungkapkan perasaanku padanya, dan kau tahu apa yang terjadi?? Dia MENOLAK-KU!!
“Hah??, Aku terkesiap, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Ya, dia MENOLAK-KU,” Mengulangi kata yang baru saja diucapkannya.
Aku mulai tertarik dengan ceritanya,
“Kenapa bisa begitu?”
“Dia masih ingin mengejar mimpinya, soal jodoh itu takdir Alloh, dan pasti akan bertemu jika sudah tiba waktunya. Begitu katanya.”
“Apa kau tak sakit hati padanya?”
“Adakah goresan yang tak menimbulkan luka? Rasa sakit itu pasti ada, itu manusiawi, tapi aku yakin Alloh akan memberi ‘lebih’ dari apa yang aku harapkan. Aku malah salut dengan keteguhan hatinya, dan aku memberinya seuntai tasbih.”
“Du, apakah kau membenciku sekarang?” Tanyanya serius,
Aku menggeleng,
“Bukankah jodoh itu adalah takdir Alloh, dan pasti akan bertemu jika sudah tiba waktunya?” Ucapku sambil mencoba tersenyum kearahnya.
“Semoga Alloh memberi yang terbaik untuk kita.” Jawabnya sembari tersenyum.
“Du, sepertinya hujan sebentar lagi turun, sebaiknya kita pulang.” Ajaknya padaku.
Akupun mengangguk, kami berjalan kearah yang berlawanan, meski berat hatiku menerima kenyataan ini, aku berusaha untuk tetap tegar. Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan yang disinari cahaya ke-emas-an. Aku menengadah beberapa saat kelangit, menahan air mataku agar tidak terjatuh. Tapi Alloh begitu baik, senja yang indah itu melukis senyumnya, aku tersenyum, dan tanpa bisa kutahan lagi air mataku menetes, “Mas Aal, semoga kelak Alloh menakdirkanmu untukku.” Bisikku dalam hati.
***
Setelah kejadian di masjid itu, aku mulai menghindarinya. Aku berusaha sekeras mungkin untuk bangkit dari keterpurukanku. Kusibukkan hari-hariku dengan seabrek aktivitas lain. Alhamdulillah, sekarang aku sedang dipercaya untuk mengurusi kegiatan bakti sosial untuk anak yatim dan dhuafa. Dalam kegiatan ini, aku diberi tanggung-jawab sebagai seksi pubdekdok.
Aku dibantu oleh seorang adek semesterku bernama Tita, asalnya dari Malang. Dia cantik, pinter dan periang. Selain itu, Tita merupakan tipikal gadis dengan pembawaan yang supel sehingga mudah bergaul dengan siapa saja, meskipun dengan orang yang baru dikenalnya. Yang bikin aku kagum lagi nih, Bahasa Arabnya joss banget, maklumlah dia itu lulusan dari salah satu pondok pesantren modern ternama di Jawa Timur. Bahkan dia pernah menjadi juara umum debat bahasa Arab tingkat nasional. Waahh...keren kan? Selain pintar bahasa Arab, dia juga pintar memainkan berbagai alat musik baik yang klasik maupun yang modern. Pokoknya multi-talented baget lah. Aku beruntung banget bisa bekerjasama dengannya. Aku jadi banyak belajar darinya.
Persahabatanku dengan Tita terjalin begitu erat. Meski baru beberapa bulan kami saling kenal, kami bagai sahabat lama yang sudah bertahun-tahun bersama. Tita sering curhat denganku, dia bilang sih aku orangnya enak diajak curhat. Padahal rasa-rasanya aku jarang sekali lho memberikan solusi atas masalahnya. Aku hanya mendengarkan ceritanya. Sesekali menimpali disana-sini, yaa sejauh pemikiranku saja, lalu, dia menemukan sendiri solusi dari masalahnya itu. Hebat kan?
Tita sering cerita tentang kejadian-kejadian unik ketika dia masih di pondok pesantren, tentang kisah kocak teman-temannya, tentang hobinya, tentang kilasan kisah asmaranya (meski nama tokohnya di sensor dengan menyebutkan inisial-nya saja, tapi bagiku itu gak jadi masalah sih. Ini kan sifatnya privasi, lagian kalaupun dia sebut namanya secara utuh, aku juga gak kenal mereka, begitu pikirku).
Aku juga sering curhat dengan Tita. Mulai dari keluarga, teman-temanku, aktivitasku, harapan-harapanku, pokoknya banyak banget dech yang aku ceritakankan padanya. Kalau aku tuangkan ceritaku dalam bentuk tulisan, mungkin gak kalah dengan jumlah halaman skripsi yang sedang disusun Mba Maula, hehee...terlalu hiperbolik juga ya aku ini? Eiiitz...tapi ada satu hal yang tak pernah aku ceritakan padanya, yaitu tentang kekagumanku pada Mas Aal. Terkadang diberbagai kesempatan, aku ingin sekali menceritakan padanya. Sebagai sesama wanita, aku ingin mendapat tanggapan darinya, tapi entah kenapa setiap kali aku hendak bercerita, aku merasa ada sesuatu yang menahanku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menutup hal ini rapat-rapat darinya.
***
Sabtu yang cerah diawal bulan November...
Hari ini aku dan Tita menyebarkan pamflet kegiatan Pekan Anak Yatim dan Dhuafa. Tepat pukul setengah satu siang aku dan Tita sampai di fakultasnya Mba Maula. Sebenarnya aku rada kurang nyaman untuk datang kesitu. Aku takut ada Mas Aal disitu. Namun, karena ini menyangkut kepentingan ummat, jadinya kuputuskan untuk tetap kesitu. Ku kesampingkan dulu masalah pribadiku. Lagian ini kan hari Sabtu, jadi kemungkinan ‘dia’ juga nggak ada dikampus, pikirku dalam hati.
Aku dan Tita mulai membagi-bagikan pamflet. Tiba-tiba saja kulihat ekspresi wajah Tita mendadak sumringah. Matanya berbinar-binar, sepertinya dia baru saja melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dengan suara riang dia memanggil orang itu.
“Mas Aal, Assalamu’alaikum!!”
Sontak aku terperanjat, aku berbalik arah, kini kulihat sosok itu dengan jelas. Dengan senyum khasnya yang Masih tersungging diwajahnya, dia mulai berjalan kearahku. Ya kearahku, oh bukan!! Lebih tepatnya lagi ke arah kami. Aku menghela nafas, kutata hatiku untuk bersikap setenang mungkin, seolah memang tidak pernah terjadi apa-apa diantara aku dan dia.
“Wa’alaikum salam, Kalian sedang apa?” Tanyanya kepada kami.
“Ini Mas, kami sedang membagikan pamflet untuk kegiatan pekan anak yatim dan dhuafa. Kalau Mas Aal ada waktu, besok Senin datang ya?” Jawab Tita antusias sambil menyerahkan pamflet padanya.
“Owh ya insyaAlloh.” Jawabnya sambil menerima pamflet itu. Setelah itu dia menengok kearahku,
“Syahdu gimana kabar?” Tanyanya sambil tersenyum kepadaku.
“Alhamdulillah baik Mas.” Jawabku sembari mencoba untuk tersenyum kearahnya.
“Lho, kalian saling kenal juga?” Tanya Tita heran.
“Iya dhe’ Tita, Syahdu itu adeknya sahabatku.”
“Waahh....ternyata dunia begitu sempit ya? Mba Syahdu, Mba Syahdu, Mas Aal ini kakak kelasku dulu waktu di Aliyah, dia itu dulu jadi ketua Osis-ku. Nggak nyangka kalau kita bakalan bareng lagi dikampus ini.” Kata Tita girang.
“Owh ya??” Jawabku disertai dengan senyum yang agak kupaksakan.
Satu jam selanjutnya mereka gunakan untuk bernostalgia tentang masa-masa di Madrasah Aliyah dan juga saat mereka masih berada dalam satu pesantren yang sama. Mereka kelihatan akrab sekali. Tita sangat antusias menceritakan ini-itu bla...bla..blaaa, disela-sela pembicaraan mereka diselingi pula percakapan dengan menggunakan bahasa Arab yang membuat keningku berkerut untuk kesekian kalinya karena tak paham.
Aku?Aku hanya bisa manyun disudut kursi. Bosan mendengar pembicaraan mereka, tapi juga tak enak hati untuk pergi. Kurasa pembicaraan mereka sedari tadi ya seputar itu-itu saja, gak ada yang begitu penting menurutku.
Hawa yang semakin panas kurasakan mungkin dari teriknya matahari disiang ini, atau mungkin dari hatiku sendiri atau bisa jadi dari keduanya membuat kepalaku mendadak pusing. Berkali-kali aku sengaja terbatuk-batuk meski tenggorokanku sama sekali tak terasa gatal. Sedikit-sedikit aku melirik arloji di tangan kiriku, berharap ada salah satu dari mereka menangkap pesanku. Namun lamaaa sekali berselang, pembicaraan mereka tak kunjung juga berakhir. Duh....rupanya dua orang ini memang pura-pura budhek apa budhek beneran sih? Sebel aku dibuatnya.
Merasa bahwa aku sudah ‘tak nyaman’ dengan pembicaraan mereka, Mas Aal pun akhirnya berpamitan, mereka terlihat bertukar nomor handphone. Setelah melepas kepergian Mas Aal, aku bisa menangkap rona bahagia diwajah Tita. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.
***
Blamm!! Aku menutup pintu kamarku rapat-rapat, menguncinya. Kuhempaskan tubuhku diatas ranjang sambil menghembuskan nafas sebebas-bebasnya. Rasa-rasanya sulit kupercaya kalau ternyata Tita dan Mas Aal sudah saling kenal sejak lama. Kenapa sekarang semuanya seolah saling berkaitan? Aku sangat shock menerima kenyataan ini.
Entah sudah berapa lama pikiranku berkelana saat pintu kamarku diketuk. Terdengar suara Ummiku memanggil dari balik pintu. Segera kuhapus air mataku. Kubuka pintu kamarku, melihat wajahku yang sayu, beliau bertanya apakah aku sedang lelah saat ini? dan langsung kujawab saja, ya. Sebenarnya ingin kujawab kalau aku sedang depresi, tapi aku tak ingin beliau menghawatirkanku.
“Makan malam dulu Sayang, Abi dan Mba Maula sudah menunggu dibawah.”
Akupun mengangguk, kuikuti langkah beliau dari belakang. Heran, bagaimana mungkin aku lupa bahwa ternyata aku belum makan apa-apa sejak tadi siang, rupanya kekalutanku sedikit mengganggu nafsu makanku.
Tidak seperti biasanya, kami makan dengan saling berdiam diri. Aku tidak tahu apakah aku sedang merasa lapar atau tidak. Selesai makan, aku membereskan sisa makananku dan langsung kembali ke kamar tanpa berkata apa-apa.
Kembali kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Kubenamkan mukaku dibawah bantal, aku terisak. Tak lama terdengar pintu kamarku terbuka. Aku berbalik, agak sedikit canggung saat melihat Mba Maula mendapatiku menangis. Dia duduk disisi ranjangku.
“Du, kamu menangis?”
Aku tak kuasa menjawab, hanya kutunjukkan padanya bahwa aku menangis.
“Kenapa menangis?” Mba Maula menggenggam jemariku erat.
Isakku semakin menjadi, sampai tubuhku terguncang.
“Ya sudah, tenangkan dirimu dulu, besok kalau sudah tenang, Syahdu boleh cerita sama Mba Maula, nanti Mba bantu cari solusinya.”
Aku mengangguk pelan,
“Owh ya Du, kalau sudah agak tenang sebaiknya ambil wudhu dan sholat dua rokaat, ngadu sama Alloh semua unek-unekmu pada-Nya, nanti hatimu akan lebih tenang.
Setelah kepergian Mba Maula, akupun beranjak mengambil air wudhu. Usai sholat, ada setitik air mata disudut kedua bola mataku. Diantara untaian doa ku selama ini, aku selalu menyelipkan namanya agar Alloh menakdirkan aku dengannya. Namun sikap Tita tadi siang seolah memupuskan harapanku. Mengapa ia seolah menyimpan kekaguman padanya pula?Apakah mungkin kalau ini adalah jalan menuju takdir itu? Lalu bagaimana dengan nasib persahabatanku dengan Tita? Segalanya mungkin tidak akan jadi masalah jika aku tidak pernah mencintai Mas Aal. Tapi aku sudah terlanjur mencintainya. Dan kalau ternyata Mas Aal lebih memilihnya, sanggupkah aku merelakan dia untuk sahabatku? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan tanpa satupun yang berhasil kujawab, hingga akhirnya akupun terlelap....
***
Hari ini merupakan hari pertama dibukanya acara pekan anak yatim dan dhuafa. Hasil karya anak-anak dipamerkan berjejer memanjang di selasar gedung. Terlihat menakjubkan sekali. Ada lukisan alam, abstrak, sketsa, payet, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kerajinan hasil kreasi mereka. hasil kreasi mereka dipamerkan dan dilelang kepada setiap pengunjung yang tertarik, dan kemudian uangnya akan disumbangkan ke-yayasan sosial seperti Panti Asuhan dan Rumah Singgah.
Alhamdulillah, pengunjung yang datang hari ini cukup banyak, aku dan Tita sibuk mendokumentasikan hasil karya anak-anak. Berhubung Tita yang mempunyai keahlian dibidang fotografi, jadinya dia yang ditugaskan untuk memegang kamera, sementara aku mencatat dan menandai karya anak-anak.
“Assalamu’alaikum!” sebuah suara yang sangat kukenal menyapa renyah, disertai sesosok pria tampan mendekat kearah kami. Pagi ini ia terlihat sangat rapi dengan celana jeans dan atasan kaus abu-abu lengan panjangnya, kemudian dipadu dengan scarf warna senada bertengger gagah penuh kharisma meliliti lehernya. Nggak terlalu formal sih, tapi cukup kelihatan exlusive dan elegan.
“Wa’alaikum salam!” balas kami serentak.
Dibanding sikapku yang terkesan cuek bebek, Tita justru terlihat lebih welcome, dia mengajak Mas Aal berkeliling mengamati hasil karya anak-anak, sesekali ia mempresentasikan karya tersebut pada ‘tamu istimewa’ nya itu. “Ya iyalah, namanya juga mahasiswi Public Relation, emang harusnya pinter promosi dong.” Cibirku dalam hati. Astaghfirulloh, kenapa aku jadi sinis begini? cepat-cepat kuucapkan istighfar dalam hati.
Sementara itu, aku hanya mengekor dibelakang mereka. Sejujurnya aku juga ingin bersikap manis didepannya. Namun, melihat sikap Tita yang terkesan mendominasi, kuurungkan kembali niatku. Begitulah, aku memang terkadang kurang pandai memanfaatkan situasi.
Mas Aal terlihat sangat serius mengamati satu-persatu karya anak-anak. Dan tiba-tiba saja Tita menjepretkan kameranya tepat didekat wajah Mas Aal. Sontak diapun terkaget-kaget. Dia tampak keberatan dengan sikap Tita barusan. Namun, Tita malah tertawa. Tita meyakinkan bahwa hasil fotonya justru terlihat lebih natural. Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat kelakuan mereka.
Mungkin menyadari bahwa Aku ada dibelakangnya, Mas Aal menoleh kearahku. Buru-buru kupasang sikap manis didepannya, seolah ingin kupamerkan padanya bahwa aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan kelakuan mereka. Sementara itu, Tita malah mempunyai ide lain. Dia memintaku untuk memotretnya berdua dengan Mas Aal. Dengan berat hati, akupun mengambil kamera yang ditujukan Tita kearahku. Sempat kulihat Mas Aal menatapku lamat-lamat, sepertinya ia tak enak hati padaku.
Jika aku boleh jujur, ingin rasanya kukatakan ENGGAK MAU. Namun, sebagai seorang sahabat, nggak mungkin kan aku katakan pada Tita kalau aku ENGGAK MAU? Nanti bisa-bisa ia malah semakin menaruh curiga padaku. Ya sudahlah kuturuti saja kemauannya, meski sebenarnya hatiku gondok berat.
Seolah ingin menebus rasa bersalahnya, Mas Aal menawarkan diri untuk memotret aku berdua dengan Tita. Akupun tak punya alasan untuk menolak. Jadilah aku foto berdua dengan ‘si gadis centil’ itu. Dan ternyata aku baru menyadari bahwa ini adalah kali pertamanya kami foto berdua sejak awal perkenalanku dengan Tita, sekitar empat bulan yang lalu. Dan uniknya lagi, justru yang memotret kami adalah orang yang sama-sama kami kagumi. Ya, beginilah hidup, terkadang ada hal-hal yang terjadi dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Tak lama berselang, handphone Tita berdering. Rupanya dari Mas Fikra, ketua panitia kegiatan ini, dia meminta foto dokumentasi yang ada dikamera. Tita meminta izin untuk pergi sebentar. Jantungku langsung berdegup kencang. Setelah peristiwa pengakuanku dimasjid beberapa waktu yang lalu, ternyata meninggalkan rasa malu yang terselubung, rasa sungkan menyelungkup dihatiku. Mas Aal tidak berkata apa-apa dan aku juga lebih memilih untuk berdiam diri. Dan akhirnya kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
“Eh, acaranya ba..bagus sekali ya.” Ucapnya gugup.
Perkataannya barusan membuat hatiku tertawa, kenapa bahasanya kaku sekali? Bukankah biasanya dia selalu pandai merangkai kata-kata?
“Terimakasih.” Jawabku sekenanya. Hatiku bergumam, kagumkah ia? Atau hanya sekedar ingin memecah kesunyian diantara kami? Entahlah, aku tak mau tahu.
“Emang acaranya sampai hari apa?” imbuhnya lagi, namun kali ini lebih rileks.
“Sampai Minggu besok, sekalian menghabiskan masa liburan sekolah mereka.” jawabku masih sok cuek.
“Hmm...kalau Rabu pekan depan Syahdu ada acara?”
“Memangnya kenapa?” Ada ke-PeDe- an menjalari jiwaku.
“Kalau nggak ada acara, datang ya di acara seminarku Rabu pagi jam 10.”
“Hmm....acaranya pagi ya?” jawabku pura-pura layaknya orang yang tengah berpikir keras.
“Iya, Syahdu nggak bisa?” tanyanya mulai khawatir.
“He...eh mungkin agak telat, soalnya aku sudah terlanjur ada janji.” Jawabku bohong.
“Telat juga nggak apa-apa, nanti aku sisakan satu kursi untukmu. Tapi kalaupun nggak bisa dateng ya jangan kamu paksakan, cukup doanya saja.” jawabnya penuh kesungguhan.
“InsyaAlloh.”
Suasananya tampak mulai mencair. Antara aku dan dia mulai saling bertukar cerita. Namun, itu tak berlangsung lama setelah Tita kembali datang ditengah-tengah kami.
***
Hari ini acara Pekan Anak Yatim dan Dhuafa telah usai. Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar. Meskipun melelahkan tapi acara ini mampu meninggalkan kesan yang begitu dalam dihatiku. Kubereskan tumpukan dokumen yang ada diatas meja. Aku mulai memilah-milah berkas yang penting dan yang harus dibuang.
Ditengah-tengah kesibukanku membenahi buku-buku yang berserakan, tiba-tiba saja tanpa sengaja aku melihat sebuah buku bersampul biru muda. Mungkin milik salah satu panitia yang tertinggal disini pikirku. Perlahan kubuka buku itu, dipojok kanan atas halaman pertama tertera sebuah nama “Alan Alif Ar-rasyid”. Ketika aku sedang menerka-nerka siapa pemilik nama itu, tiba-tiba saja Tita Masuk.
“Mba Syahdu, itu bukunya Mas Aal.”
“Bukunya Mas Aal? Kok bisa ada disini?” Tanyaku heran.
“Iya Mba, dia yang meminjamkannya padaku.”
“Meminjamkannya??” Tanyaku mempertegas.
“Tita minta diajarin bahasa Arab sama Mas Aal, terus dia meminjamiku buku itu. Rencananya nanti seminggu dua kali aku belajar dengannya. Sebenarnya dia juga menawariku buku-buku lain untuk kubaca sendiri. Tapi aku lebih suka bila dia langsung yang mengajariku. Itu akan lebih memudahkanku untuk memahaminya.” Jawabnya dengan wajah berseri-seri.
“Oohh...” Kataku manggut-manggut. Dihati setengah mencibir.
Ada terselip rasa cemburu dihatiku. Entah kenapa, ada perasaan tidak rela dalam diriku dari pengakuan Tita barusan. Dan aku sama sekali tidak sanggup membayangkan kalau mereka akan sering bertemu. Setahun lebih aku dekat dengan Mas Aal, tak pernah sekalipun dia menawariku seperti itu. “Huh dasar si Tita nya aja yang kecentilan!” lagi-lagi pikiranku mengambil kesimpulan yang miring atas sikapnya.
“Mba Syahdu mau dibantu beres-beres?”
“Enggak usah, ini tanggung jawabku, sebentar lagi juga selesai.” Jawabku datar, lebih terkesan acuh, bahkan cuek.
“Kalau begitu Tita tungguin sampai Mba Syahdu selesai ya, nanti kita pulang bareng.” Balas Tita lebih sopan dan hati-hati.
“Duluan saja, nanti Mba Maula yang menjemputku.” Imbuhku lebih cuek.
“Owh ya sudah.” Kata Tita sambil terbengong-bengong atas sikapku. Dan kemudian pergi meninggalkanku sendiri.
Aku marah padamu Tita, kalau kamu tahu itu! Bisikku dalam hati. Sebenarnya hati kecilku mengatakan bahwa tak seharusnya aku marah padanya. Namun, aku tak mampu untuk sekedar menyembunyikan kekesalanku padanya. Sedangkan Tita, dia bahkan tidak cukup pandai untuk mengetahui alasan kenapa aku marah padanya. Begitulah dia, orang yang sangat kurang ‘peka’ dengan kondisi sekitar. Lalu bagaimana dengan nasib persahabatan kami selanjutnya? Entahlah.
***
Hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan bagiku. Setelah cukup capek beres-beres usai kegiatan, akupun harus menunggu Mba Maula menjemputku. Sebenarnya tadi Tita menawariku untuk pulang bareng seperti yang biasa kami lakukan sepekan terakhir ini, tapi kali ini aku menolak tawarannya. Aku masih kesal dengannya.
Se-senja ini belum ada tanda-tanda kalau Mba Maula mau datang. Aku melirik arloji ditangan kiriku. Ternyata sudah menunjukkan pukul empat lebih seperempat. Itu berarti aku sudah menunggunya sejak empat puluh lima menit yang lalu. Aku menghela nafas, serasa ingin membuang beban yang menghimpitku. Kini terbayang kembali pengakuan Tita barusan. Ada kalimat yang menohok dari ucapannya. Menawarimu?? Yang benar saja, memangnya se-istimewa apa kamu dimata Mas Aal? Bisikku dalam hati.
“Lho, belum pulang Du? Suara Mas Fikra membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya belum Mas, lagi nunggu Mba Maula masih dijalan.”
“Tumben nggak bareng Tita? bukannya kalian searah?”
“Iya, tapi tadi sudah terlanjur bilang Mba Maula suruh jemput.” Jawabku sekenanya.
“Ooohh...” ujarnya menganggukkan kepala.
Mungkin karena tak tega melihatku menunggu sendirian, Mas Fikra akhirnya memutuskan untuk menemaniku. Kebetulan dia juga kenal baik dengan Mba Maula. Mereka dulu teman satu SMA. Mas Fikra pun pernah beberapa kali main kerumah. Jadi aku dan Mas Fikra sudah lumayan akrab jauh sebelum adanya kegiatan ini. Selang lima belas menit kemudian, sebuah Honda Jazz bewarna putih melaju kearah kami. Alhamdulillah, akhirnya Mba Maula datang juga.
“Sudah lama nunggunya ya?” tanyanya pada kami.
“Iya tuh kasihan adekmu sampai lumutan nungguin kamu.” Ucap Mas Fikra sambil tertawa.
“Hehee, iya maaf, tadi habis ada urusan sebentar, makasih ya udah dijagain.” Ucapnya pada Mas Fikra sambil tertawa.
Setelah berterimakasih, kami pun berpamitan.
“Tadi aku mampir ke kos-nya Aal dulu. Ada berkas yang harus kuambil.” Papar Mba Maula padaku.
Aku diam saja.
“Lagian Syahdu ngabarinnya mendadak sih, coba kalau ngomongnya sejak pagi. Kan Mba bisa ambil berkasnya tadi pagi.” Imbuhnya lagi.
“Kepikirannya juga baru tadi siang.” Sahutku membela diri.
“Hmm..Syahdu tuh kebiasaan. Eh iya tadi ada pesen dari Aal, kalau ada waktu, kamu disuruh dateng di acara seminarnya hari Rabu jam 10, bisa kan?”
“Belum tahu lah besok.” Jawabku berpura-pura tak tertarik.
“Lho, tumben banget. Biasanya Syahdu paling antusias kalau ada acara yang berkaitan dengan Aal.” Ujar Mba Maula keheranan.
“Syahdu sudah ada acara kok.”
“Acara apa? Bukannya setiap Rabu kamu gak ada kuliah?”
“Pokoknya ada acara.” Ucapku ngotot.
“Hmm..ya sudah, tapi denger-denger kata Iqbal nih, Aal kemarin datang ke acara Pekan Anak Yatim dan Dhuafa, pastinya ada yang ngundang dong?” goda Mba Maula cengar-cengir.
“Itu Tita yang ngasih undangan kok, bukan Syahdu.”
“Tapi seneng juga kan kalau dia akhirnya dateng? Hayo ngaku?” Mba Maula semakin menggodaku.
“Oh iya, tadi tuh Mba Maula sengaja dateng ke kosan Mas Aal mau ambil berkas apa mau nemuin Mas Iqbal ya? Cecarku balas menggodanya.
“Husst...jangan berisik. Udah mau magrib nih, nggak elok kalau bercanda maghrib-maghrib dijalan.” Kata Mba Maula sok bijak.
***
Rabu pagi pukul 09.37 am.
Pagi ini ada yang berbeda dengan penampilanku. Kukenakan gamis abu-abu dengan paduan blazer putih, serta kerudung abu-abu dan head band warna senada yang semakin mempermanis tampilanku. Aku memang sengaja menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berdandan seperti ini.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap melewati koridor menuju ruang teatrikal tempat Mas Aal seminar pagi ini. Aku memandang lurus kedepan, semakin yakin untuk datang ketempat itu. Tapi, tiba-tiba saja Tita memanggilku.
“Mba Syahdu,,,Mau kemana? Tanyanya dengan ramah kepadaku.
Aku menoleh, ia berjalan tergopoh-gopoh kearahku. Kulihat ada setumpuk kertas ditangannya. Hatiku sepertinya telah mampu membaca apa yang sedang ia lakukan saat ini.
“Mau kesana.” Jawabku sambil pura-pura menunjuk kearah gedung perpustakaan.
“Owh, mau pinjam buku ya mba?” ucapnya sambil tersenyum.
“Iya, Tita mau kemana?” tanyaku basa-basi. Padahal sih aku sudah tahu, dia pasti mau datang di seminar itu juga.
“Ini, Tita mau jadi pembahas di seminarnya Mas Aal pagi ini, Mba Syahdu ikut yuk?” ajaknya sambil menarik lenganku.
“Hmm...sepertinya nggak bisa Ta, ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan pagi ini.” jawabku dengan mencoba untuk tersenyum manis padanya.
“Owh, ya sudah Mba. Semangat ya!!”
Aku mengangguk. Kutatap Tita memasuki ruangan itu. Ya, aku hanya bisa menatapnya, tanpa berani mengikuti langkahnya. Aku menyeka buliran bening yang tiba-tiba saja mengalir deras di pipiku.
***
Baca Sambungannya :
1.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I
2.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Aku dan Sajadah Merahku Part. II - Cerpen Cinta Remaja
Aku dan Sajadah Merahku Part. II - Cerpen Cinta Remaja
AKU DAN SAJADAH MERAHKU PART. II
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Aku tahu mungkin ucapan itu lebih pantas jika kutujukan untuk diriku sendiri, bukan untuk Sovia. Sovia masih memelukku erat, seolah ingin memberi kekuatan padaku. Aku menangis, entah air mata ini untuk Sovia atas kepeduliannya terhadapku ataukah justru untuk penghianatan Mas Adil terhadapku? Entahlah...
Dalam kepedihanku, kenanganku kembali teringat tatkala Mas Adil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di bidang seni arsitektur di Iran, selepas kelulusannya. Memang dari dulu ia suka membuat desain-desain bangunan yang bercita rasa seni yang tinggi. Berkat hobinya itu, puluhan penghargaan berhasil ia raih hingga akhirnya takdir membawa mimpinya untuk menimba ilmu di negeri yang kaya akan keindahan arsitekturnya. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan.
Awalnya terasa berat bagiku berpisah dengannya, namun demi cita-cita yang ia impi-impikan, tak apalah aku akan senantiasa mendukungnya.
“Semoga di tempat baru, Alloh senantiasa melindungi setiap langkahnya.” ucapku dalam doaku.
Ditahun pertama ia berada disana, ia sering menelfonku. Katanya ia masih belum begitu betah disana. Iklim disana ternyata masih enggan bersahabat dengannya, membuatnya sering sakit-sakitan. Selain itu ia masih belum terbiasa dengan makanan-makanan ala disana. Ia rindu Indonesia, rindu makanannya, rindu hiruk pikuknya, dan terlebih lagi ia mengatakan bahwa ia rindu padaku. Duhh...
Kusarankan padanya untuk menyibukkan diri dengan aktivitas disana agar ia tak lagi merasa kesepian. Ternyata nasehatku benar, ditahun kedua ia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia bahkan sering mengadakan berbagai kegiatan sosial bersama mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang sama-sama menempuh studi di Iran. Syukurlah, hatiku lega sekali mendengarnya.
Lalu, ditahun ketiga ia benar-benar sudah kerasan tinggal ditempat barunya. Dengan suka-cita, ia bercerita tentang aktivitas yang sering ia geluti disana. Mengamati aktivitas penjual aneka kerajinan tangan di pasar Qeysarieh, sebuah pasar tradisional di kawasan Meydan Emam di kota Isfahan (Meydan Emam merupakan alun-alun terbesar kedua di dunia setelah Mao Zedong Square Tiananmen di Beijing), tertawa lepas sambil menikmati siraman air mancur yang berjajar memanjang di sisi Meydan Emam, menikmati senja sambil memotret kemegahan Masjid Emam, Masjid Syekh Lotfollah, serta Istana Ali Qapu dari kejauhan. Sungguh cerita yang tak pernah bosan kudengar, karena itu cuma alasan untuk berlama-lama mendengar suaranya!
Tapi, entah kenapa, dua tahun terakhir setelah itu, dia jarang memberi kabar. Mungkin dia sedang sibuk, pikirku dalam hati. Lagi pula aku juga harus fokus pada kuliahku di semester akhir di salah satu perguruan tinggi di kota Semarang. Sekali lagi aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar Alloh senantiasa mempermudah segala urusannya, dan diberi yang terbaik segala yang ia cita-citakan. Begitulah doa yang tak henti kupanjatkan untuknya.
Dalam hati tetap tersemai harapan, semoga pertemuan selanjutnya kutemukan dia seperti yang dulu, kemudian menikah dan membangun keluarga sakinah mawaddah dan warahmah seperti yang kami impi-impikan.
Namun, semuanya telah berlalu, tinggal impian yang kini perlahan mulai aku kubur dalam-dalam. Sampai hari ini aku datang berbagi doa pada hari bahagianya, semoga ia bahagia.
Aku melangkah lunglai larut bersama lautan tamu undangan yang tengah berdesakan menuju singgasananya. Ketika aku sudah berdiri tepat dihadapannya, ada perasaan sedih bercampur nestapa saaat bibir ini mengucapkan kata selamat serta mendoakan kebahagiaannya.
Dengan hati hancur kuberikan senyumku yang termanis untuk dia yang hatinya tengah berbunga-bunga. Kuberikan kadoku padanya. Dia menerima bungkusan kado dariku sambil menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah, “Semoga kau segera menyusulku, Rima.” Ucapnya pelan. Aku mengamini kuat-kuat doanya dengan mata berkaca-kaca. Semoga doa tulus darinya sanggup memupuk keyakinan dalam diriku bahwa kelak kutemukan bahagiaku meski tanpanya disisiku. Untuk selanjutnya, kuseret langkahku menuju gadis yang tengah berdiri anggun disebelahnya. Ia menyalamiku sambil tersenyum ramah padaku. Aku tersenyum.
Kucari tempat duduk dan menghambur bersama para tamu yang lain. Dari kejauhan, kembali kutatap gadis itu lekat-lekat. Wajahnya putih bersih dengan alis hitam pekat melingkar indah diatas kedua mata sipitnya. Hidungnya yang menjulang lancip, pipinya yang merona, serta senyumnya yang merekah, semakin mempertegas pundi-pundi kecantikannya. Ia mengenakan gaun putih nan cantik dan kerudung warna putih, berpadu dengan aneka aksesoris silver terang bak mahkota yang melingkar indah diatas kepalanya. Ia bak seorang bidadari. Sungguh elok sekali penampilannya, aku tertegun.
“Kupikir kau tak akan datang, Rima.” Sapa Akmal memaksaku terbangun dari lamunan panjangku.
“Biar bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang sangat berarti dalam hidupku.” Jawabku sambil kutatap dia yang sedang duduk manis bersama seorang gadis, bukan bersamaku.....
“Aku harap Adil tidak pernah menyesal telah meninggalkan gadis sebaik dirimu.” Ucapnya pelan.
“Tentu saja. Lihatlah, gadis yang ia pilih cantik sekali bukan?” ujarku mencoba tersenyum, sambil kutunjuk gadis yang tengah duduk sembari menggandeng mesra lengannya.
Akmal masih saja tercengang seolah tak percaya dengan ketegaran yang kupamerkan padanya. Dia menatapku dalam, seolah berusaha untuk menyelami perasaanku yang sesungguhnya, ikut hanyut dalam kepedihan yang tengah kurasakan.
Perlahan senyumku berubah sedikit kecut. Bagaimana tidak? Dulu dia yang memintaku untuk menunggunya sampai dia benar-benar pantas untuk berdiri satu shaf didepanku, menjadi imam sholatku dan menjadi imam yang baik bagi keluarga kecil kami kelak, begitu impiannya kala itu. Namun, kini ia duduk dan mengikat janji sehidup semati bersama seorang gadis, dan itu bukan aku.....
Lalu, tak kuasa ku tahan lagi, air mataku menetes deras, tetesan yang setiap bulirnya menyadarkanku tentang arti kehilangan yang sesungguhnya, rasa yang terlalu pilu untuk kuratapi. Ini adalah hari bahagianya. Hari dimana ia kini telah mememukan sosok tambatan hati yang sesungguhnya. Melihatnya tersenyum bahagia bersama gadis itu, seharusnya aku ikut bahagia, tapi kenapa di otakku masih saja memikirkannya? Tak elok hukumnya jika masih “menyimpan rasa” pada seseorang yang kini telah sah menjadi milik orang lain. Maka, perlahan akan kubunuh rasa ini dari hatiku.
Terimakasih, sekali lagi kuucapkan terima kasih untuknya. Terimakasih untuknya yang telah menorehkan sepenggal episode dalam cerita hidupku, terimakasih untuknya yang telah mewarnai lembar masa laluku dengan secarik kisah yang tak akan mungkin sanggup kulupakan. Terimakasih untuknya pula yang telah mengajarkanku tentang apa itu ikhlas, sehingga membuatku belajar bagaimana mengikhlaskan seseorang yang kucintai kini telah mencintai orang lain...
Kembali aku teringat pada sajadah merah itu, sajadah merah yang dulu sempat ia titipkan padaku. Sajadah merah, yaa... sajadah merah yang hingga kini masih setia menemani setiap sujudku, yang selalu menjadi saksi dalam setiap lantunan doaku tentangnya. "Jangan khawatir, aku akan senantiasa menjaga titipanmu dengan sepenuh jiwaku, selamanya......".
***TAMAT***
Baca Sambungannya :
1.Aku dan Sajadah Merahku Part. I
2.Aku dan Sajadah Merahku Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Aku Dan Sajadah Merahku
Aku dan Sajadah Merahku Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin Aku dan Sajadah Merahku Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin AKU DAN SAJADAH MERAHKU PART. I Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin "Bulan ke-satu...ke-dua...ke-tiga...ke-empat...ke-lima, hingga bulan ke-enam pasca kiamat kecil itu, kini perlahan kehidupanku mulai normal kembali, meski tetap tak bisa sama seperti sedia kala." Sayup-sayup suara adzan Shubuh mengakhiri sujud panjangku malam ini. Tak terasa hampir dua jam sudah aku duduk terpaku diatas sajadah merah pemberian darinya, mengadukan keluh kesahku pada Sang Khalik. Kucoba untuk mulai bangkit dari keterpurukanku, dan kini perlahan mulai kutemukan kedamaian dalam jiwaku. Aku mulai berpikir bahwa masih banyak hal lain yang harus kulakukan selain terus menangisi keputusannya. Bukankah segala sesuatu memiliki batas waktu untuk berakhir? Cukup kepada Allah sebaik-baik tempat berharap. Dan pilihan-Nya tak akan pernah salah. Kucoba untuk pahami, meski sulit. Mungkin dulu Mas Adil sedang tersesat dihatiku sebelum akhirnya dia bertemu dengan belahan jiwanya yang sebenarnya. Jika memang benar begitu, maka tak ada alasan bagiku untuk terus menangisi sesuatu yang memang bukanlah milikku. Karena jodoh tidak akan pernah tertukar, bukan? Mulai sekarang aku akan belajar untuk memperbaiki diriku, serta terus mendoakan kebaikan untuknya pula. Semoga keputusannya itu tak pernah ia sesali. “Mas Adil, ku kutuk kau agar selalu bahagia bersama gadis itu.” Bisikku dalam salah satu bait doaku untuknya. Enam bulan yang lalu bukanlah saat yang mudah bagiku, saat dimana ia mengusirku dari hatinya. Bahkan kala itu aku tidak yakin bisa hidup kembali. Hmm enam bulan yang lalu, ya tepatnya saat ia menemuiku untuk kali pertamanya setelah kepulangannya ke Indonesia. Saat itu, aku merasa ada yang berbeda dari sikapnya. Dalam diamnya tercipta tanya-tanya tak pasti di hatiku. Ada apa dengan sikapnya? Mengapa mendung seolah menutupi wajah tampan dihadapanku? Namun, aku berusaha untuk memahami, mungkin ia sedang lelah, atau mungkin malah sedang sakit? Oh, sakitkah ia? Aku benar-benar menghawatirkannya. Jika sanggup, biar aku saja yang menanggung rasa sakitnya. Lebih dari seperempat jam aku diam terpaku menunggu suaranya, suara dari sosok yang sangat kurindukan kehadirannya. Namun sosok itu hanya memandang sendu kearahku, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk berucap, ucapan yang sekejap mampu membuat rinduku berubah nestapa. “Maafkan aku, Rima. Hatiku sudah terlanjur terpikat pada Laila.” Ucapnya kala itu. Aku tercekat mendengar perkataannya. Seketika itu juga air mataku luruh satu-satu. Miris. Aku tertunduk. Tatapanku nanar dan kosong. Hatiku limbung, serasa hidup bagai tak hidup, seolah hanya ragaku saja yang melayang-layang tanpa nyawa. Begitulah kata yang paling tepat untuk merangkum segala kepiluan hatiku saat itu. Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan bertemu lagi dengannya justru dalam suasana yang menyakitkan seperti sore itu. Baru tiga hari sebelumnya Mas Adil menghubungiku, mengabariku bahwa dia akan segera tiba di Indonesia. Rinduku seketika itu membuncah. Lima tahun tak bertemu, akhirnya hari yang kutunggu-tunggu tiba juga. Dia katakan bahwa setibanya di Indonesia, dia akan langsung menemuiku. Ah, sebegitu rindunya kah dirinya padaku, sehingga tak mau berlama-lama untuk segera menemuiku? Gumamku kala itu. Namun, ternyata inilah akhir dari penantian panjangku selama ini, dia mengatakan bahwa sudah ada sosok lain yang menyelak posisiku dihatinya. Laila, gadis asal Malang yang lima tahun terakhir ini menjadi teman kuliahnya di Iran. Sempat terlintas sebersit tanya dihatiku, Semudah itukah baginya melupakanku? Bukankah dulu ia sendiri yang menyuruhku untuk setia menantinya hingga ia kembali? Rasanya, belum terlalu usang ingatanku ketika lima tahun yang lalu, persis saat dia akan berangkat dulu, dia berjanji kelak akan kembali untuk menjemputku sebagai seorang Ratu, Ratu di hatinya. Dia juga memberikan sebuah sajadah merah untukku. Pintanya agar aku selalu mengingatnya dalam setiap sujudku. Agar Alloh melapangkan jalan kami untuk bersatu dalam sebuah janji suci nan agung. Janji untuk sehidup semati bersama dalam suka dan duka, begitulah janjinya yang hingga saat ini masih terngiang-ngiang jelas ditelingaku. Namun kini janji tinggallah janji, dia yang menabur janji itu, dia sendiri yang mengingkarinya. Dan yang semakin membuatku tidak mengerti sekaligus menyakitkan adalah bagaimana dengan mudahnya dia mengatakan bahwa rasa cintanya sudah hilang, terkikis jarak, terenggut waktu. Cintanya telah beralih pada sosok Laila, tak tersisa sedikitpun untukku. Aku kembali memandangnya. Berharap ada sepercik cinta yang masih menyala dihatinya. Sia-sia. Hanya guratan rasa bersalah yang kutangkap dari wajah tampannya. Perih! Oh Tuhan, Andai saja aku tahu akan berakhir begini, takkan kubiarkan ia masuk dan menorehkan sejuta mimpi indah dalam hidupku! “Apakah kau serius dengan kata-katamu itu, Mas?” tanyaku memandangnya. Dia menatapku sendu, serta berkata lirih penuh penyesalan; “Maafkan aku Rima, Demi Tuhan aku benar-benar menyesal melakukan ini padamu. Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa Laila yang kini lebih dominan dihatiku. Akan jauh lebih menyakitkan buatmu jika kupaksa untuk tetap bersamamu sementara hatiku kini bersamanya.” Akunya pelan. Aku diam terpaku mendengar jawabannya. Berusaha untuk memahami setiap kata yang ia sebut sebagai suatu alasan yang paling logis untuk meninggalkanku. “Mengapa baru sekarang kau katakan semua ini?” imbuhku pelan. “Kupikir ini adalah saat yang paling tepat untuk mengatakannya, jika kukatakan sebelum kau wisuda, mungkin skripsimu tak akan selesai dengan sesempurna ini.” jawabnya tanpa berani menatapku. Aku mengangguk pelan, perlahan mulai bisa menerima alasannya, meski batinku meradang, "Kuharap kau melakukan hal yang sama." ujarnya lagi, setelah sekian detik kami sama-sama diam membisu. "Apa maksudmu?” tanyaku menatapnya heran. “Mencoba untuk memukan sosok pengganti yang jauh lebih baik dariku.” Imbuhnya pelan. Aku tersenyum miris mendengar perkataannya, "Ini tak semudah yang kau kira, Mas! Aku bukanlah sosok yang mudah menaruh hati pada laki-laki lain hanya karena dia mempunyai segudang kelebihan daripadamu." bisikku dalam hati. “Ya, semoga saja.” anggukku pelan, pura-pura tersenyum kearahnya. Kenanganku kembali terlempar ke masa tujuh tahun yang lalu, masa-masa saat pertama kali aku mengenalnya, bersahabat dengannya dan sampai akhirnya menyayanginya. Waktu itu kami sama-sama duduk dibangku Madrasah Aliyah, dia kakak kelasku, selisih satu tingkat diatasku. “Rima, aku suka tulisanmu di mading itu.” Ucapnya kala itu. “Yang mana yang paling kau suka?” tanyaku dengan senyum mengembang. “Semuanya. Aku suka semua cerita yang kau tulis di mading itu.” Ucapnya serius. “Hehee...” Aku tersipu malu mendengar pujiannya, “Sungguh, aku suka semua cerita yang kau tulis di mading itu.” Ucapnya mengulangi. Dugg,, Hatiku bergetar mendengar pengakuannya. Sekilas mungkin tak ada yang istimewa dari ucapannya. Aku juga sering mendengar ucapan itu dari teman-temanku serta para guru disekolah kami. Tapi masalahnya ini darinya!! Dari Adil Wibawa Wibisono, sang ketua Osis yang diam-diam kukagumi. Ya, begitulah singkat kekalahanku padanya untuk yang pertama kalinya. *** “Aku tak habis pikir kenapa kau justru lebih tertarik pada Mas Adil dari pada yang lain.” Protes Sovia padaku kala itu. “Mengapa? Dia sosok yang baik, bukan?” sahutku membelanya. “Rima, mengapa kau tak pilih Akmal saja, dia lebih cakep, lebih pintar, lebih ramah dan juga yang paling penting dia jauh lebih sholeh daripada Mas Adil.” Aku tertawa mendengar usulan dari sahabat karibku itu, “Ah, kau ini mengacau, Sovia. Akmal itu sahabatku sejak SD, saat masuk SMA seharusnya dia diterima di SMA favorit di kota ini, tapi nyatanya dia malah memilih untuk masuk Madrasah Aliyah swasta bersamaku.” “Tapi menurutku dia mencintaimu.” Ujarnya kembali meyakinkanku. Aku kembali tertawa, “Hahaa..., bukan hal yang baru lagi, Sovia. Sejak SD kami sudah sering dikira pacaran.” Ucapku masih tertawa. Sekilas memoriku terlempar pada saat aku masih duduk dibangku kelas enam SD. Akmal teman sekelasku. Siswa terpandai di kelas. Pintar membuat puisi. Pernah membuat puisi untukku, khusus ia persembahkan untuk “Nurul Karima” dan ia bacakan keras-keras didepan kelas, membuatku menangis karena malu. Setelah kejadian itu kami sering diejek teman dikira pacaran. Lucu dan rasanya ingin tertawa sendiri ketika mengingat masa-masa itu. “Tapi apakah kau tak khawatir kalau Mas Adil itu akan sanggup menjadi imam sholatmu kelak?” “Sovia, dengarlah! Aku tak pernah menuntut lebih dari sebatas kemampuannya. Seperti sekarang ini saja sudah lebih dari cukup bagiku.” Jawabku sambil tersenyum pada Sovia. Sovia menatap lekat padaku, seolah masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari pengakuanku. Maklumlah, sebagai sahabat karibku, Sovia tahu betul bahwa dalam setiap doaku, aku selalu memohon pendamping hidup yang bisa menjadi imam ketika sholat, membimbing langkahku untuk lebih dekat dengan Alloh, serta menjadi suri tauladan untuk sebuah keluarga sakinah. Tapi Mas Adil sangat jauh dari kriteria yang aku impi-impikan selama ini. *** “Biar kau titipkan saja kadomu itu padaku.” Ucap Sovia tatkala melihat jemari tanganku tengah sibuk melipat kado pernikahan untuknya. “Bukankah mendatangi undangan sesama muslim merupakan sebuah kewajiban?” kataku sambil berusaha tersenyum menatap Sovia, mencoba menutupi kegundahan hatiku yang sesungguhnya. “Tapi masalahnya ini dari.....” imbuh Sovia yang langsung kupotong. “Justru karena ini darinya, maka aku tak akan mewakilkan pada siapapun.” Sovia menatapku iba, seraya menghambur dipelukanku. “Semuanya akan baik-baik saja, percayalah.” Ucapku pelan sembari balas memeluknya kuat-kuat. Baca Sambungannya : 1.Aku dan Sajadah Merahku Part. I 2.Aku dan Sajadah Merahku Part. II PROFIL PENULIS Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991 Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Rabu, 10 September 2014
Nikahi Aku Karena Agamaku
RUBRIK CERPEN PEMBACA:
Nikahi aku Karena Agamaku
Toktoktok! Toktoktok! Zahra menyembulkan kepala ke pintu kamar untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Toktoktok! “Assalamu’alaikum!” Terdengar suara dari luar mengucap salam. Ternyata benar, ada orang yang hendak bertamu.Tanpa tunggu lama Zahra menyambar sehelai kain untuk menutupi kepala.Ya. Zahra tak pernah bisa menemui orang yang bukan mahramnya sebelum ia rapi metutup aurat. Segera Zahra berlari menghampiri pintu.
“Iya, tunggu sebentar ya!”Zahra sedikit berteriak sebelum akhirnya membuka pintu. “Wa’alaikumussalaam. Eh, Tante? Dik Fattah?”
“Kak Zahraaaaa! Fattah kangen sama Kakak.” Tubuh mungil Fattah memeluk kaki Zahra.
“Iya, Fattah. Kakak juga kangen sama Fattah. Hehe.”Zahra membelai lembut kepala Fattah.“Mau cari Umi ya, Tante?Ayo masuk, biar Zahra yang panggilkan.”Baru saja Zahra hendak membalikkan badan tapi Aminah memegang tangannya. “Loh, ada apa, Tante?”
“Tak usah, Nak.Sebenarnya Tante ke sini mau mengantar Ali.Dia bilang ingin bertemu teman kecilnya.”Aminah tersenyum sambil memanggil Ali yang masih mematung di pagar.
“Ali? A-LI, Tante?” Zahra membelalakkaget mendengar nama itu.
“Iya, sayang. Ali… Teman kecilmu yang sering bermain denganmu.”
“Assalamu’alaikum, Zahra. Apa kabarmu?” sapa Ali.
“Wa’alaikumussalaam. Eh, Ali? Alhamdulillah aku baik.Ali bagaimana kabarnya?Sudah lama sekali ya tidak bertemu.”Zahra sedikit gerogi.
“Iya, Zahra. Setiap aku sempatkan pulang, selalu saja tak bisa mampir ke sini.Habisnya waktu liburku selalu saja sebentar, aku harus mengejar jadwal kuliah yang sangat-sangat padat.Sekarang aku sudah lulus Zahra, tinggal tunggu waktu untuk wisuda.Hehe,” jelas Ali sambil terkekeh.
“Iya, tak apa Ali. Aku mengerti keadaanmu.”Zahra melempar senyum.
“Bunda… masuk yuk. Fattah ingin duduk, Bunda.”Fattah merengek-rengek sambil menarik-narik abaya Aminah.
“Eh, Nak.Tidak sopan itu, pemilik rumah belum menyilakan kita masuk.”Aminah sedikit menatap tajam ke mata Fattah.Fattah hanya bisa memanyunkan bibir.
“Astagfirullah… maaf, Tante.Zahra sampai lupa, keasyikan mengobrol dengan Ali.Maafkan Kak Zahra ya, Fattah sayang.Mari masuk!”Zahra menuntun Fattah yang masih cemberut.
“Iya, tak apa. Tante maklum kok, Zahra pasti rindu kan pada teman kecil Zahra karena sudah lama tak bertemu. Hehe,” Aminah tertawa kecil.
Aminah dan Aisyah, ibunda Zahra, adalah teman dekat sejak masih kuliah.Maka dari itu Zahra dan Ali menjadi teman dekat karena kedekatan orangtuanya. Ali sudah berteman sedari masih duduk di bangku taman kanak-kanak bersama Zahra. Sayangnya Ali harus pergi ke kota seberang untuk tinggal menemani neneknya yang sudah sakit-sakitan. Neneknya yang meminta Ali untuk melanjutkan sekolah di sana saat Ali telah lulus dari bangku SD. Ya. Ali adalah cucu kesayangan neneknya.Mau tak mau, Zahra harus berpisah dengan Ali dan setelah sepuluh tahun lamanya mereka kembali bertemu.
Pagi itu Zahra habiskan bersama keluarga Ali, asyik mengobrol banyak hal termasuk pengalaman Ali.Ali sedikit mengalami perubahan.Ia semakin tampan dengan kacamatanya, selebihnya dandanan ia tak banyak berubah. Tetap seperti dulu, Ali yang selalu rapi dalam berpakaian. Zahra merasa kepandaian Ali juga sangat melejit, terbukti dari gaya bicara dan apa-apa yang ia ucapkan. Semua pembicaraannya berbobot, termasuk pengetahuan tentang agama –bukan hanya agama Islam. Kekaguman mulai berdesir di hati Zahra, tapi cepat-cepat ia kendalikan perasaannya. Khawatir malah akan parah.
“Bunda, sudah siang ini. Mau pulang tidak?” tanya Ali setelah lama berbincang dengan Zahra dan Aisyah.
“Bang Ali, Fattah masih mau main sama Rasyid di sini. Bang Ali kenapa ngajak pulang sih?Ah, Bang Ali nyebelin.”Fattah merengek.
“Fattah, anak Bunda yang saleh… Ini sudah siang, sayang. Bunda masih ada keperluan lain. Nanti kalau ada waktu, kita main lagi ke sini ya, Nak?” bujuk Aminah.
“Iya, Fattah. Lagian kan nanti di sekolah, kita ketemu lagi,” Rasyid ikut bicara.
“Ya sudah.Aisyah, kami pamit pulang dulu. Kebetulan ada urusan lain yang harus diselesaikan.”
“Kamu hati-hati ya di jalan, ya?Kapan-kapan main lagi ke sini,” timpal Aisyah.
“Iya, insya Allah, Aisyah.Yuk, Nak!” ajak Aminah pada kedua anaknya. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalaam,” jawab Aisyah, Zahra dan Rasyid.
“Dadah Fattah, nanti ketemu di sekolah ya.”Rasyid melambaikan tangan, sementara Fattah hanya mampu menekuk wajah dengan langkah kaki yang dipaksakan.
“Oh ya, Zahra?” panggil Ali sebelum melangkah lebih jauh.
“Iya, Ali? Ada apa?” jawab Zahra.
“Ah, tidak.Aku hanya ingin memberi tahu, di rumah aku punya banyak buku.Aku tahu kamu suka sekali membaca, kapan-kapan aku ke sini lagi bawakan untukmu, ya?”
“Ah, Ali.Kamu selalu tahu kesukaanku, terima kasih sebelumnya ya.”Zahra tersenyum malu.
“Ya sudah, aku pulang ya.”
Ali menyusul Aminah dan Fattah yang sudah berjalan agak jauh duluan, hingga akhirnya bayangan Ali lenyap menghilang dari pandangan. Fhh… Zahra menarik nafas dan menghembuskan panjang-panjang.Ia berdoa semoga tidak ada suatu hal yang aneh muncul dalam degup jantungnya.
***
Beberapa minggu kemudian, sesuai yang Ali janjikan bahwa ia akan datang membawa beberapa buku untuk dibaca Zahra. Kali ini ia hanya pergi bersama Fattah, Aminah tidak bisa ikut. Fattah memaksa kakaknya agar ia diajak ke rumah Zahra untuk bertemu dengan Rasyid.
Semakin hari sekembalinya Ali dalam kehidupan Zahra, mereka berdua semakin akrab.Ali banyak bercerita tentang kenalannya di negeri orang.Malah tak sedikit teman Ali yang berbeda keyakinan dengannya.Perasaan yang tak diinginkan pun akhirnya tak bisa dihalang-halangi untuk tumbuh dalam hati Zahra.Namun sejauh ini Zahra masih bisa memendam dan tak mengatakan apapun pada Ali.Ia hanya berharap perasaan itu akan segera hilang seiring berlalunya detak jam.
“Zahra?” panggil Ali dengan nada yang serius.
Zahra yang sedang tertawa melihat Fattah dan Rasyid yang asyik bermain mobil-mobilan sontak terkejut, “Ya, Ali?Ada apa?”
“Aku… aku… mmm aku…” Ali ragu untuk berbicara.
“Iya? Aku… aku apa, Ali?” Zahra mengernyitkan dahi.
“Zahra, mmm… aku… boleh cerita sama kamu?” Ali memberanikan diri.
“Haha… Ali, aku ini Zahra teman kecilmu.Kenapa kamu harus kikuk seperti itu?Seperti sedang berbicara pada siapa saja.”Zahra tertawa melihat Ali yang salah tingkah.
“Iya, Zahra. Aku sedikit malu untuk membicarakannya.Ini serius.”
DEG! Detak jantung seperti terhenti seketika, kali ini Zahra yang salah tingkah. Jangan-jangan… jangan-jangan… Dugdugdugdugdugdugdug! Detak jantungnya memompa lebih cepat dari semula.Wajahnya terlihat sangat tegang menunggu Ali melanjutkan pembicaraan.
“Zahra, aku malu kalau cerita sama Bunda. Jadi aku putuskan untuk cerita sama kamu. Kamu kan teman baikku, aku tak tahu lagi harus cerita pada siapa.”Ali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Mmm… menurut kamu, kalau aku punya perasaan sama seorang gadis, bagaimana, Zahra?” lanjutnya.
Zahra tersenyum, matanya semakin terlihat sipit ketika tersenyum seperti itu.“Ali, cinta adalah suatu hal yang fitrah pemberian dari Allah.Jadi, menurut aku tidak ada yang salah selama tidak melebihi batasan-batasan yang disyariatkan.”
“Tapi, Za… masalahnya gadis itu adalah seorang gadis yang berbeda keyakinan denganku. Fhh..”Ali membuang nafas.
“Maksudmu?” Zahra tak mengerti apa yang Ali maksud.
“Iya, Za… Dia adalah seorang gadis kristiani, namanya Elena.” Ali tersenyum-senyum saat menyebutkan nama gadis yang ia maksud.
“Ali… ternyata dia sama sekali tak menaruh perasaan untukku. Bahagia sekali sepertinya saat dia menyebutkan nama Elena. Begitu cinta kah Ali padanya?”Zahra berbicara dalam hati sampai-sampai tak sadar Ali yang tengah bicara malah tak didengarkan. Zahra bengong masih tak percaya dengan apa yang barusan Ali sampaikan. Cemburu kah ia? Zahra tak tahu pasti.
“Za?Za?Zahra?!” Ali mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Zahra yang masih melamun.“Zahraaaa?”Ali sedikit berteriak.
“Eh? Ya? Ya, ada apa, Ali? Maaf,” Zahra terkejut dan buyar lamunannya.
“Za… kamu bagaimana sih?Aku dari tadi bicara tak didengar ya?Kamu melamunkan apa sih?”Ali merengus kesal.
“Maaf Ali, maaf. Iya, tadi bagaimana?Bagaimana ceritanya?”Zahra membetulkan posisi duduk.
“Itu, Za… Elena…”Ali mengingatkan.
“Ah, itu… Kalau aku boleh tahu, memang apa yang kamu sukai dari dia? Adakah yang spesial?”Zahra menyelisik.
“Aku jatuh cinta pada Elena karena ia pandai. Meski umurnya beberapa tahun di bawahku, tapi pengetahuannya sangat luas. Ia gadis yang cerdas, menurutku. Aku suka sekali gadis yang cerdas dan berwawasan luas.”Begitu bersemangatnya Ali menceritakan tentang Elena.
“Sangat berbeda jauh dariku.Hmm.”Wajahnya berubah diselimuti sendu.
“Kemarin saja kami habis debat lagi tentang sanggahan terhadap isi bible yang keliru,” lanjut Ali.
“Oh ya?Lantas, bagaimana?”Zahra melupakan sendunya.
“Iya, Za… Aku yang menang.Hehe,” Ali tersenyum malu.
“Wah… hebat kamu, Li.” puji Zahra.
“Ah, tidak.Bukan aku yang hebat, tapi Islam dan Al-Quran yang hebat.”Menyembul rona merah di pipi Ali yang putih, Ali garuk-garuk kepala karena malu.
Mereka berdua lupa tentang pembicaraan semula karena terlalu asyik bercerita hal lainnya.
***
Hari-hari semakin berlalu, setiap kali Ali ingin bercerita tentang Elena, Zahra lah yang jadi pendengar setianya.Itu semua cukup mengobok-obok perasaan Zahra, tapi Zahra berusaha untuk selalu bersikap sabar dan menjadi pendengar yang baik untuk Ali.Sementara Ali belum mengetahui bagaimana perasaan Zahra yang sesungguhnya.
Siang itu Ali memutuskan untuk berkunjung kembali ke rumah Zahra. Seperti biasa, cerita tentang Elena yang ia bawa untuk meminta saran pada Zahra. Setelah cukup lama berbincang dan berbasa-basi, Ali mulai membahas tentang Elena kembali.
“Zahra?”
“Iya, Li? Ada apa? Tentang Elena lagi?”Zahra menerka.
“Hehe… kamu bisa saja membaca pikiranku. Iya nih. Za, aku ingin membimbing Elena untuk memeluk Islam.Jika dia ada dalam keyakinan kita, dia pasti akan jadi wanita yang hebat.”
“Oh, ya?Bagus kalau begitu. Lantas, rencanamu bagaimana?” tanya Zahra.
“Aku… aku… ingin menikahinya, Za.”Ali mesem-mesem.
Kali ini Zahra tak tahu lagi bagaimana harus bersikap tenang di hadapan Ali.Kalimat itu cukup membuat hatinya terguncang.Zahra kelu tak bisa mengatakan apapun.Butir bening mulai menggantung di pelupuk mata.Rasanya Zahra ingin menumpahkan beban yang selama mengganjal di hati.Ia lelah jika harus terus-menerus bertarung dengan perasaannya.
“Ali, maaf aku rasanya kurang enak badan.Aku ke kamar dulu ya.”Zahra pergi berlari sambil sedikit terisak meninggalkan Ali begitu saja.
Ali yang semula semangat bercerita, kini memasang ekspresi seperti orang yang kebingungan.Ia garuk-garuk kepala tak mengerti mengapa Zahra tiba-tiba aneh seperti itu. Aisyah yang baru muncul dari belakang mengambil minuman hanya bisa bersedih melihat anaknya.Aisyah tahu semuanya, termasuk perasaan Zahra pada Ali.Pasti Elena lagi, pikir Aisyah.
Ali bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan Zahra. Ia bertanya apa yang salah dengan dirinya, barangkali ia salah berbicara. Dengan berat hati Aisyah menceritakannya. Aisyah berterus terang bahwa dalam hati Zahra telah tumbuh benih-benih perasaan yang sama sekali tak ia undang kehadirannya. Setelah tahu semuanya, Ali memutuskan untuk pulang. Sementara ia ingin memberikan waktu pada Zahra agar tenang.
“Oh… ternyata begitu.Zahra, kenapa kamu tak jujur tentang perasaanmu?Jadi, selama ini aku menceritakan Elena, selama itu juga Zahra harus bersabar bergelut dengan hatinya.Astagfirullah… apa yang telah aku lakukan?” Ali menyisir rambut dengan jarinya, merenungi apa yang telah terjadi. Selama perjalanan pulang, ia hanya bisa menghela nafas dan menyesali ketidakpekaannya.
***
“Ali, sini, Nak.Bunda ingin bicara sebentar.”Aminah melambaikan tangan, menyuruh Ali untuk menghampirinya.
“Iya, Bun? Ada apa? Tumben.Ada hal penting kah yang mau dibicarakan?”Ali mendekat.
“Siapa itu Elena, anakku sayang?”Nada bicaranya terdengar serius tapi tetap lembut.
Ali seketika membisu mendengar apa yang ditanyakan Aminah.
“Nak, jawab Bunda.Siapa itu Elena?”Mata Aminah mulai berkaca-kaca.
“Elena… Elena… Dia teman Ali, Bun.”Ali menyerah untuk jujur dan semakin pelan suaranya.
“Kamu mencintainya?Apa agama yang dia peluk?Jujur pada ibumu, Nak.”
Ali menghela nafas. “Iya, Bunda. Ali mencintainya, dia seorang gadis kristiani yang taat beragama.”
“Ali… apa tidak ada lagi gadis muslim yang menarik hatimu sehingga kau jatuh hati padanya?”Nada bicara Aminah mulai meresah.
“Bukan begitu, Bun.Dia gadis yang pandai, Bunda.Berwawasan luas dan dan melek ilmu.Ali yakin dia akan menjadi wanita yang hebat jika Ali berhasil membimbingnya untuk mengikuti agama kita.”Ali berusaha menjelaskan.
“Dengan cara apa kamu akan membuatnya masuk Islam? Kamu yakin bisa membuat dia sejalan denganmu?Kamu yakin pilihan kamu adalah pilihan yang tepat?Kamu yakin, Nak?”Pertanyaan Aminah memberondong Ali.
“Entah Bunda. Tapi Ali akan berusaha semampu Ali untuk menuntun dia agar memeluk Islam. Sayang sekali Bunda kalau gadis seperti dia tak memeluk Islam.Ali juga berniat menikahinya, agar Ali bisa lebih leluasa untuk membimbingnya.”
“Apa?Menikah katamu, Nak? Astagfirullah…” Aminah menangkupkan telapak tangan di mulutnya, air matanya mulai deras membasahi pipi.“Bunda tak akan pernah rida jika kau menikah dengannya.Bunda sudah pilihkan gadis yang cocok untuk mendampingimu. Lihat Zahra, Li. Lihat dia! Apa kau tidak tertarik dengan ketaatannya? Apa kau tak tertarik dengan kelembutan hatinya? Bahkan saat kau menceritakan perihal Elena padanya, dia masih bersabar.Apa kau tak tergugah sedikitpun dengan kecantikan hatinya?”
“Bunda tahu dari mana semua itu?”
Aminah terdiam, tak mau menjawab dan masih terisak dalam tangisnya. Dalam keadaan seperti ini, ia begitu merindukan almarhum suaminya yang telah lama meninggalkan dirinya. Ini sungguh berita buruk untuk Aminah. Aminah merasa ia gagal mendidik anaknya.
“Bunda… Maafkan Ali kalau keputusan itu membuat hati Bunda menjadi sedih.”Ali menggenggam tangan Aminah.
“Apa kamu lupa pesan Rasulullah, Nak?Bahwa wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan yang terakhir karena agamanya. Rasulullah berpesan agar kamu menikahi wanita karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung. Apa kamu lupa ajaran agamamu ini? Apa kamu lupa, Nak?”Aminah menggenggam erat tangan Ali sambil menatap matanya dalam-dalam.
Lagi-lagi Ali hanya bisa terdiam bungkam. Benar kata ibunya, ia lupa akan ajaran mulia agamanya. Ia lupa selama duduk di bangku SMP dan SMA banyak hadits-hadits yang ia pelajari, termasuk nasihat mulia yang satu itu. Seakan-akan pelajaran yang ia dapat selama sekolah hanyalah angin lalu yang tumpang lewat begitu saja.
“Nak, manusia tak pernah tahu akan seperti apa takdirnya sedetik kemudian.Iya.Kamu bisa membimbingnya semampumu, tapi jika kemungkinan buruk yang terjadi adalah ternyata Allah menakdirkan Elena untuk tetap memeluk agamanya. Bagaimana, Nak? Bagaimana?Rasulullah sekalipun tak bisa membuat orang yang sangat dia sayangi, pamannya Abu Thalib, untuk mengikuti jalan Islam.Hanya Allah yang menentukan siapa yang berhak mendapat hidayah-Nya.Kamu akan tetap pertahankan pernikahanmu meski Elena tetap menjadi wanita kristiani? Pikirkan baik-baik anakku.Kalau itu yang sampai terjadi, pernikahanmu selamanya hanya akan menjadi perzinahan.”Tangis Aminah semakin pecah di tengah kondisi yang tengah menegang.
DEGG!! Kalimat terakhir dari ucapan ibunya terdengar menggelegar di telinga.Kalimat itu benar adanya. Jika Elena nanti berhasil dinikahi dan pada akhirnya tetap pada keyakinannya, tentu pernikahannya hanya akan menjadi perzinahan. Cintanya pada Elena telah membuat Ali lupa untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi.Ia tertegun dan menyesali apa yang telah terjadi.
“Sudahlah, Nak.” Aminah menyeka air matanya.“Maafkan Bunda terlalu memaksakan keinginan padamu.Kamu sudah besar, kamu sudah bisa menentukan sendiri pilihan mana yang terbaik untukmu. Bunda hanya sedih, apa kata almarhum ayahmu jika tahu hal ini terjadi? Maafkan Bunda terlalu egois tak memikirkan perasaanmu. Maafkan Bunda.” Aminah melangkah pergi meninggalkan Ali yang masih mematung tertunduk di kursi.
***
Beberapa minggu telah berlalu tanpa ada lagi seulas senyum dan cerita dari Zahra.Hatinya merasa tengah diradang kerinduan yang amat mencekiknya.Ali masih malu untuk bertemu dengan Zahra. Setelah nasihat-nasihat dari Aminah menghujaninya, ia semakin tersadar. Pelan-pelan Elena mulai menghilang dari pikirannya, meski itu cukup sulit untuk Ali. Beriringan dengan itu juga sosok gadis lain hadir menggantikan Elena, gadis sederhana yang perlahan mencuri hatinya.
Sore itu Ali hendak pergi ke toko buku langganannya. Sudah lama ia tak membeli buku baru.Sambil menyelam minum air, ia bertemu juga dengan Zahra, si gadis cantik nan salehah. Zahra tengah memilih-milih buku bernafaskan Islam di rak paling ujung. Tampaknya ia sangat serius sekali sehingga tidak menyadari bahwa Ali datang mendekat.
Cukup lama Zahra mematung dengan buku-buku di genggaman. Matanya sibuk membaca satu persatu sinopsis di sampul belakang untuk memutuskan mana yang akan dibeli. Ali masih mematung di sampingnya, tanpa sadar ia terhanyut melihat Zahra yang begitu anggun dalam balutan jilbab.Ia meresapi perkataan ibunya saat perbincangan tempo hari tentang Elena. Ibunya benar, mengapa ia tak tergugah sama sekali dengan kelembutan Zahra.
Sip! Telah terpilih buku mana yang akan dibeli. Zahra mengahadap ke kanan untuk berjalan menuju kasir.Ia semringah dengan beberapa buku di genggamannya, matanya masih terpaku menunduk ke buku-buku itu. Saat ia angkat kepalanya, betapa kagetnya ia mendapati Ali ada di hadapannya. Kakinya terasa kaku dan tak bisa dilangkahkan, matanya masih menatap datar pada tubuh tinggi dihadapannya.
Tanpa tunggu lama ia simpan kembali buku yang hendak ia beli ke rak di ujung sana. Ia segera berlari meraih pintu keluar dari toko buku tersebut. Ali mengejarnya dan berkali-kali memanggil namanya.Zahra tak kunjung menoleh ataupun menghentikan langkah kakinya. Zahra sudah jauh di depan meninggalkan toko buku, Ali berusaha mempercepat langkah kakinya. Akhirnya ia berhasil meraih tangan Zahra dan menggenggamnya. Zahra sontak terhenti.
“Ali, apa-apaan ini? Lepaskan! Kamu bukan mahramku.Siapa kamu berani memegangku?”Zahra merintih berusaha melepaskan pegangan Ali yang sangat kuat.
“OK! Aku akan melepaskannya asal kaudengarkan aku dulu.”
Akhirnya Zahra terdiam dan Ali melepaskan pegangannya setelah memastikan Zahra tak akan berlari lagi.
“Zahra sakit tidak tangannya?Maafkan aku, terpaksa aku melakukan itu.Beri aku waktu sebentar untuk bicara, setelah itu kau boleh pergi.”
Zahra masih membisu, tak mau menatap Ali seincipun.
“Za… maafkan aku soal Elena.Bunda benar, harusnya aku pikirkan berulang-ulang saat aku mengambil keputusan untuk menikahi Elena.Aku tahu, Za. Kamu menyimpan perasaan untukku kan? Umi Aisyah telah menceritakan semuanya padaku.Kau jangan membohongiku, Za.”
“Lantas kalau kau sudah tahu, kau mau apa?”
“Za, Bunda memilihkanmu untukku.Aku setuju dengan pilihan Bunda. Kalau menurut Bunda kau adalah yang terbaik, aku akan menuruti permintaan Bunda. Asal ia bahagia, aku menyesal telah membuat Bunda menitikkan air mata.”Ali tersenyum penuh harap pada Zahra.
“Lupakan!Aku sudah mengubur perasaanku dalam-dalam, Li.”
“Kaubohong, Za. Lihat aku kalau memang kau berkata jujur.Lihat aku, Za!”
Zahra berlari, tak menghiraukan apa yang dikatakan Ali barusan.
“Za… Za… ZAHRAAAA?!”Ali berteriak-teriak tak peduli pada orang-orang yang menatapnya keheranan.“Za… lihat saja! Aku akan datang bersama Bunda untuk melamarmu! ZAHRAAAA!”Percuma Ali berteriak-teriak, Zahra tak akan menoleh. Hatinya sudah bertekad akan melamar Zahra untuk menjadi istrinya. Ia rida pada gadis pilihan ibunya.
***
Zahra terkejut bukan main, ternyata Ali serius meneriakkan kalimat itu.Tibalah hari pelamaran Ali pada Zahra. Dua keluarga besar telah berkumpul, termasuk Zahra dan Ali ada di sana. Zahra masih saja mendiamkan Ali.Sejak Ali mengutarakan keinginannya pada Zahra untuk menikahi Elena, senyum itu menghilang tertimbun mimik datar yang selalu dipasang Zahra saat bertemu Ali. Ali sadar ia salah, tapi lambat laun ia pastikan senyum itu akan kembali menghiasi harinya.
“Za, aku melamarmu untuk menjadi istriku,” ucap Ali.
“Ali, aku tak punya banyak hal yang istimewa untuk menjadi satu yang terbaik di antara pilihan-pilihan baik lainnya, hanya ada agamaku yang bisa kupertahankan.Jika kau mau menikahiku, nikahi aku karena agamaku.Jika ternyata nanti kaudapati banyak lubang di dalamnya, tambal lubang itu dengan bimbinganmu yang sabar padaku,” tegas Zahra.
“Baiklah Za, aku akan berusaha semampuku. Bismillah… Bunda?Umi?Ali ingin menikahi Zahra karena Allah, karena agama yang ada pada Zahra.”
Zahra tersenyum mendengar kesungguhan Ali.Pada akhirnya garis lengkung itu kembali merona di wajah teduh Zahra.Ali ikut tersenyum menyadari betapa indahnya pilihan ibunya. Semoga dalam rida oarngtuanya ia beroleh rida Allah juga.
-THE END-
Azalea Senja,
Ramadhan 1435 H
*** Tag dan share ke keluarga, sahabat dan teman-temanmu yaa
Cerpen ini kiriman dari salah satu sahabat di sini lhoh
FBnya https://www.facebook.com/azaleasenja
Langganan:
Postingan (Atom)


