Minggu, 14 September 2014
Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
SETETES EMBUN DI HATI SYAHDU PART. I
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
“Hmm....kamu naksir ya??”
“Enggak !!”
“Aaahh yang bener??”
“Beneran enggak !!” Jawabku sambil pura-pura sibuk dengan ponselku.
“Terus kalau nggak naksir, kenapa tiba-tiba nanya tentang dia?” Kata Mba Maula Masih menggodaku”.
“Yaa..cuma pengen tahu tentang dia aja ! Elakku.
“Cuma pengen tahu aja, atau pengen tahu banget?? “ Sahut Mba Maula semakin menggodaku.
“Ah terserah Mba aja dech, mau dikasih tahu apa enggak juga gak ngaruh-ngaruh amat koq. Mba Maula kayak gak kenal Syahdu aja. He is completely not my type !!.” Jawabku cepat-cepat sembari menutupi kegugupanku.
“Iya, iya dech nggak usah ngambek gitu, ntar ilang lho cantiknya??”.
Aku masih cemberut. Melihat ngambekku yang semakin menjadi, Mba Maula pun akhirnya mengakhiri candaannya.”
“Iya,,iya, namanya Alif, tapi temen-temen biasa memanggilnya Aal, dia salah-satu mahasiswa terbaik se-angkatanku.”
“Ooohh...!” jawabku sambil manggut-manggut dan berusaha bersikap setenang mungkin. Padahal sih hatiku seneng bangeeett, akhirnya akupun berhasil mengantongi namanya.
***
Hari ini genap satu tahun sudah aku mengenalnya. Kebetulan Mba Maula itu cukup dekat dengannya. Mereka rekan satu organisasi. Sama-sama aktivis BEM ceritanya. So, it is not quite difficult for me to gain some information about him.
Sejauh pengamatanku sampai sekarang ini, aku memperoleh beberapa catatan kecil tentangnya. Mas Aal itu ternyata orangnya ramah, supel, dan sederhana alias enggak neka-neko. Dan yang lebih penting lagi nih, dia itu paling alergi sama yang namanya asap rokok!! Wah..waah keren banget kan, hari gini susah nemuin laki-laki yang kagak doyan rokok. Paling seneng tuh kalo ngeliat dia lagi jalan bawa ‘kitab’ gitu, aku bagai melihat calon ulama besar di masa depan. Hehee...macam peramal saja aku ini.
Pertama aku mengenalnya pas waktu aku nemenin Mba Maula buka puasa bersama anak-anak BEM kampusnya. Waktu itu sih dalam rangka menyambut Nuzulul Qur’an. Aku juga enggak tahu kenapa sejak aku mengenalnya aku bagai larut dalam dunia baruku. Aku yang dulunya pakai jilbabnya kalo pas suasana hatiku lagi baik doang, sekarang sudah mulai belajar beristiqomah untuk memakainya. Mungkin karena suasana hatiku sudah mulai stabil kali yaa, heheee.... Sholatku yang dulunya sering aku delay nanti-nanti, kini alhamdulillah bisa diawal waktu. Tadarus Qur’an ku yang dulunya tambal-sulam alias bolong-bolong, bahkan merupakan agenda tahunan pas bulan Ramadhan saja, kini sudah Masuk dalam daftar agenda harianku. Pokoknya banyak banget dech pengaruh positive-nya terhadapku.
Mba Maula bukannya nggak ‘ngeh’ sama perubahan yang aku alami saat ini. Dia bahkan mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling bahagia atas keinsyafanku. Dia pernah menanyakan padaku apakah aku berubah hanya karena Mas Aal? Sontak aku membantahnya. Kutegaskan padanya bahwa aku berubah semata-mata karena Alloh. Namun, tak bisa kupungkiri bawa Mas Aal lah yang menjadi perantaraku untuk sampai pada ‘cahaya’ itu.
“Alif itu di elu’-elukan banyak wanita, Syahdu? Kamu harus berbesar hati jika kelak bukan kamu yang memenangkan hatinya.” Kata Mba Maula menasehatiku.
“Apakah aku tak cukup pantas untuknya Mba?”
“Kamu pantas Syahdu, sangat pantas malah, jika kamu selalu memantaskan dirimu untuknya. Berusahalah untuk mengimbangi keshalehan dia agar Alloh senantiasa menyondongkan hatinya padamu.” Ujar Mba Maula sembari memelukku seolah ingin menguatkan hatiku.
***
Sore tadi sehabis sholat asyar dimasjid, kuberanikan diri untuk menemuinya. Kukatakan padanya tentang perasaan yang selama ini ‘nyesek’ dihatiku. Dia tampak diam sebentar. Aku tahu mungkin dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaanku tanpa harus melukai perasaanku. Hingga akhirnya dia pun berucap, jawaban yang memang sudah aku prediksi sebelumnya.
“Syahdu, aku belum bisa mengiming-imingimu harapan karena aku belum yakin kelak akan bisa memberi kelanjutan, aku tidak mau menebarimu khayalan indah jika aku belum yakin akan sanggup memberimu kepastian. Karena sesungguhnya yang menunggulah yang paling tersakiti, dan aku tidak ingin menyakitimu. Jika kelak Alloh menakdirkan kita untuk bersama, kau tak perlu datang kepadaku. Namun, aku sendiri yang akan datang menjemputmu.”
Aku terpaku, diam bagai patung, kurasakan ada sesuatu yang menusuk hatiku, pedih, pediiiih sekali, “Duuhh Gustiii, beginikah rasanya patah hati??!!” Bisikku dalam hati,
“Du, kau tak apa-apa?” tanyanya melihatku terpaku.
Aku menggeleng pelan, tanpa berani menatapnya.
“Du, aku benar-benar minta maaf, sungguh aku tak bermaksud menyakitimu, tapi......
“Aku yang seharusnya minta maaf Mas, tak sepantasnya aku berkata seperti itu padamu, rasa ini yang salah.” Kataku tertunduk.
Mas Aal tersenyum, dan kemudian mencoba untuk duduk disampingku. Kupalingkan wajahku memandang Nun jauh kesana, sebuah kamuflase yang sengaja kuciptakan untuk menutupi kesedihanku.
“Du, kejadian ini mengingatkanku atas peristiwa yang kualami tiga tahun lalu. Lebih tepatnya saat aku jatuh cinta pada seorang gadis. Pada awalnya aku menganggap bahwa rasa sayangku padanya layaknya rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Maklumlah, dia tiga tahun lebih muda dariku. Hingga lambat-laun aku menyadari bahwa aku mulai mencintainya. Aku memikirkannya setiap saat, dan ini sangat menggangguku. Konsentrasiku terusik, makan tak enak, tidur pula tak nyenyak, sampai akhirnya kuputuskan untuk mengungkapkan perasaanku padanya, dan kau tahu apa yang terjadi?? Dia MENOLAK-KU!!
“Hah??, Aku terkesiap, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Ya, dia MENOLAK-KU,” Mengulangi kata yang baru saja diucapkannya.
Aku mulai tertarik dengan ceritanya,
“Kenapa bisa begitu?”
“Dia masih ingin mengejar mimpinya, soal jodoh itu takdir Alloh, dan pasti akan bertemu jika sudah tiba waktunya. Begitu katanya.”
“Apa kau tak sakit hati padanya?”
“Adakah goresan yang tak menimbulkan luka? Rasa sakit itu pasti ada, itu manusiawi, tapi aku yakin Alloh akan memberi ‘lebih’ dari apa yang aku harapkan. Aku malah salut dengan keteguhan hatinya, dan aku memberinya seuntai tasbih.”
“Du, apakah kau membenciku sekarang?” Tanyanya serius,
Aku menggeleng,
“Bukankah jodoh itu adalah takdir Alloh, dan pasti akan bertemu jika sudah tiba waktunya?” Ucapku sambil mencoba tersenyum kearahnya.
“Semoga Alloh memberi yang terbaik untuk kita.” Jawabnya sembari tersenyum.
“Du, sepertinya hujan sebentar lagi turun, sebaiknya kita pulang.” Ajaknya padaku.
Akupun mengangguk, kami berjalan kearah yang berlawanan, meski berat hatiku menerima kenyataan ini, aku berusaha untuk tetap tegar. Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan yang disinari cahaya ke-emas-an. Aku menengadah beberapa saat kelangit, menahan air mataku agar tidak terjatuh. Tapi Alloh begitu baik, senja yang indah itu melukis senyumnya, aku tersenyum, dan tanpa bisa kutahan lagi air mataku menetes, “Mas Aal, semoga kelak Alloh menakdirkanmu untukku.” Bisikku dalam hati.
***
Setelah kejadian di masjid itu, aku mulai menghindarinya. Aku berusaha sekeras mungkin untuk bangkit dari keterpurukanku. Kusibukkan hari-hariku dengan seabrek aktivitas lain. Alhamdulillah, sekarang aku sedang dipercaya untuk mengurusi kegiatan bakti sosial untuk anak yatim dan dhuafa. Dalam kegiatan ini, aku diberi tanggung-jawab sebagai seksi pubdekdok.
Aku dibantu oleh seorang adek semesterku bernama Tita, asalnya dari Malang. Dia cantik, pinter dan periang. Selain itu, Tita merupakan tipikal gadis dengan pembawaan yang supel sehingga mudah bergaul dengan siapa saja, meskipun dengan orang yang baru dikenalnya. Yang bikin aku kagum lagi nih, Bahasa Arabnya joss banget, maklumlah dia itu lulusan dari salah satu pondok pesantren modern ternama di Jawa Timur. Bahkan dia pernah menjadi juara umum debat bahasa Arab tingkat nasional. Waahh...keren kan? Selain pintar bahasa Arab, dia juga pintar memainkan berbagai alat musik baik yang klasik maupun yang modern. Pokoknya multi-talented baget lah. Aku beruntung banget bisa bekerjasama dengannya. Aku jadi banyak belajar darinya.
Persahabatanku dengan Tita terjalin begitu erat. Meski baru beberapa bulan kami saling kenal, kami bagai sahabat lama yang sudah bertahun-tahun bersama. Tita sering curhat denganku, dia bilang sih aku orangnya enak diajak curhat. Padahal rasa-rasanya aku jarang sekali lho memberikan solusi atas masalahnya. Aku hanya mendengarkan ceritanya. Sesekali menimpali disana-sini, yaa sejauh pemikiranku saja, lalu, dia menemukan sendiri solusi dari masalahnya itu. Hebat kan?
Tita sering cerita tentang kejadian-kejadian unik ketika dia masih di pondok pesantren, tentang kisah kocak teman-temannya, tentang hobinya, tentang kilasan kisah asmaranya (meski nama tokohnya di sensor dengan menyebutkan inisial-nya saja, tapi bagiku itu gak jadi masalah sih. Ini kan sifatnya privasi, lagian kalaupun dia sebut namanya secara utuh, aku juga gak kenal mereka, begitu pikirku).
Aku juga sering curhat dengan Tita. Mulai dari keluarga, teman-temanku, aktivitasku, harapan-harapanku, pokoknya banyak banget dech yang aku ceritakankan padanya. Kalau aku tuangkan ceritaku dalam bentuk tulisan, mungkin gak kalah dengan jumlah halaman skripsi yang sedang disusun Mba Maula, hehee...terlalu hiperbolik juga ya aku ini? Eiiitz...tapi ada satu hal yang tak pernah aku ceritakan padanya, yaitu tentang kekagumanku pada Mas Aal. Terkadang diberbagai kesempatan, aku ingin sekali menceritakan padanya. Sebagai sesama wanita, aku ingin mendapat tanggapan darinya, tapi entah kenapa setiap kali aku hendak bercerita, aku merasa ada sesuatu yang menahanku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menutup hal ini rapat-rapat darinya.
***
Sabtu yang cerah diawal bulan November...
Hari ini aku dan Tita menyebarkan pamflet kegiatan Pekan Anak Yatim dan Dhuafa. Tepat pukul setengah satu siang aku dan Tita sampai di fakultasnya Mba Maula. Sebenarnya aku rada kurang nyaman untuk datang kesitu. Aku takut ada Mas Aal disitu. Namun, karena ini menyangkut kepentingan ummat, jadinya kuputuskan untuk tetap kesitu. Ku kesampingkan dulu masalah pribadiku. Lagian ini kan hari Sabtu, jadi kemungkinan ‘dia’ juga nggak ada dikampus, pikirku dalam hati.
Aku dan Tita mulai membagi-bagikan pamflet. Tiba-tiba saja kulihat ekspresi wajah Tita mendadak sumringah. Matanya berbinar-binar, sepertinya dia baru saja melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dengan suara riang dia memanggil orang itu.
“Mas Aal, Assalamu’alaikum!!”
Sontak aku terperanjat, aku berbalik arah, kini kulihat sosok itu dengan jelas. Dengan senyum khasnya yang Masih tersungging diwajahnya, dia mulai berjalan kearahku. Ya kearahku, oh bukan!! Lebih tepatnya lagi ke arah kami. Aku menghela nafas, kutata hatiku untuk bersikap setenang mungkin, seolah memang tidak pernah terjadi apa-apa diantara aku dan dia.
“Wa’alaikum salam, Kalian sedang apa?” Tanyanya kepada kami.
“Ini Mas, kami sedang membagikan pamflet untuk kegiatan pekan anak yatim dan dhuafa. Kalau Mas Aal ada waktu, besok Senin datang ya?” Jawab Tita antusias sambil menyerahkan pamflet padanya.
“Owh ya insyaAlloh.” Jawabnya sambil menerima pamflet itu. Setelah itu dia menengok kearahku,
“Syahdu gimana kabar?” Tanyanya sambil tersenyum kepadaku.
“Alhamdulillah baik Mas.” Jawabku sembari mencoba untuk tersenyum kearahnya.
“Lho, kalian saling kenal juga?” Tanya Tita heran.
“Iya dhe’ Tita, Syahdu itu adeknya sahabatku.”
“Waahh....ternyata dunia begitu sempit ya? Mba Syahdu, Mba Syahdu, Mas Aal ini kakak kelasku dulu waktu di Aliyah, dia itu dulu jadi ketua Osis-ku. Nggak nyangka kalau kita bakalan bareng lagi dikampus ini.” Kata Tita girang.
“Owh ya??” Jawabku disertai dengan senyum yang agak kupaksakan.
Satu jam selanjutnya mereka gunakan untuk bernostalgia tentang masa-masa di Madrasah Aliyah dan juga saat mereka masih berada dalam satu pesantren yang sama. Mereka kelihatan akrab sekali. Tita sangat antusias menceritakan ini-itu bla...bla..blaaa, disela-sela pembicaraan mereka diselingi pula percakapan dengan menggunakan bahasa Arab yang membuat keningku berkerut untuk kesekian kalinya karena tak paham.
Aku?Aku hanya bisa manyun disudut kursi. Bosan mendengar pembicaraan mereka, tapi juga tak enak hati untuk pergi. Kurasa pembicaraan mereka sedari tadi ya seputar itu-itu saja, gak ada yang begitu penting menurutku.
Hawa yang semakin panas kurasakan mungkin dari teriknya matahari disiang ini, atau mungkin dari hatiku sendiri atau bisa jadi dari keduanya membuat kepalaku mendadak pusing. Berkali-kali aku sengaja terbatuk-batuk meski tenggorokanku sama sekali tak terasa gatal. Sedikit-sedikit aku melirik arloji di tangan kiriku, berharap ada salah satu dari mereka menangkap pesanku. Namun lamaaa sekali berselang, pembicaraan mereka tak kunjung juga berakhir. Duh....rupanya dua orang ini memang pura-pura budhek apa budhek beneran sih? Sebel aku dibuatnya.
Merasa bahwa aku sudah ‘tak nyaman’ dengan pembicaraan mereka, Mas Aal pun akhirnya berpamitan, mereka terlihat bertukar nomor handphone. Setelah melepas kepergian Mas Aal, aku bisa menangkap rona bahagia diwajah Tita. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.
***
Blamm!! Aku menutup pintu kamarku rapat-rapat, menguncinya. Kuhempaskan tubuhku diatas ranjang sambil menghembuskan nafas sebebas-bebasnya. Rasa-rasanya sulit kupercaya kalau ternyata Tita dan Mas Aal sudah saling kenal sejak lama. Kenapa sekarang semuanya seolah saling berkaitan? Aku sangat shock menerima kenyataan ini.
Entah sudah berapa lama pikiranku berkelana saat pintu kamarku diketuk. Terdengar suara Ummiku memanggil dari balik pintu. Segera kuhapus air mataku. Kubuka pintu kamarku, melihat wajahku yang sayu, beliau bertanya apakah aku sedang lelah saat ini? dan langsung kujawab saja, ya. Sebenarnya ingin kujawab kalau aku sedang depresi, tapi aku tak ingin beliau menghawatirkanku.
“Makan malam dulu Sayang, Abi dan Mba Maula sudah menunggu dibawah.”
Akupun mengangguk, kuikuti langkah beliau dari belakang. Heran, bagaimana mungkin aku lupa bahwa ternyata aku belum makan apa-apa sejak tadi siang, rupanya kekalutanku sedikit mengganggu nafsu makanku.
Tidak seperti biasanya, kami makan dengan saling berdiam diri. Aku tidak tahu apakah aku sedang merasa lapar atau tidak. Selesai makan, aku membereskan sisa makananku dan langsung kembali ke kamar tanpa berkata apa-apa.
Kembali kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Kubenamkan mukaku dibawah bantal, aku terisak. Tak lama terdengar pintu kamarku terbuka. Aku berbalik, agak sedikit canggung saat melihat Mba Maula mendapatiku menangis. Dia duduk disisi ranjangku.
“Du, kamu menangis?”
Aku tak kuasa menjawab, hanya kutunjukkan padanya bahwa aku menangis.
“Kenapa menangis?” Mba Maula menggenggam jemariku erat.
Isakku semakin menjadi, sampai tubuhku terguncang.
“Ya sudah, tenangkan dirimu dulu, besok kalau sudah tenang, Syahdu boleh cerita sama Mba Maula, nanti Mba bantu cari solusinya.”
Aku mengangguk pelan,
“Owh ya Du, kalau sudah agak tenang sebaiknya ambil wudhu dan sholat dua rokaat, ngadu sama Alloh semua unek-unekmu pada-Nya, nanti hatimu akan lebih tenang.
Setelah kepergian Mba Maula, akupun beranjak mengambil air wudhu. Usai sholat, ada setitik air mata disudut kedua bola mataku. Diantara untaian doa ku selama ini, aku selalu menyelipkan namanya agar Alloh menakdirkan aku dengannya. Namun sikap Tita tadi siang seolah memupuskan harapanku. Mengapa ia seolah menyimpan kekaguman padanya pula?Apakah mungkin kalau ini adalah jalan menuju takdir itu? Lalu bagaimana dengan nasib persahabatanku dengan Tita? Segalanya mungkin tidak akan jadi masalah jika aku tidak pernah mencintai Mas Aal. Tapi aku sudah terlanjur mencintainya. Dan kalau ternyata Mas Aal lebih memilihnya, sanggupkah aku merelakan dia untuk sahabatku? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan tanpa satupun yang berhasil kujawab, hingga akhirnya akupun terlelap....
***
Hari ini merupakan hari pertama dibukanya acara pekan anak yatim dan dhuafa. Hasil karya anak-anak dipamerkan berjejer memanjang di selasar gedung. Terlihat menakjubkan sekali. Ada lukisan alam, abstrak, sketsa, payet, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kerajinan hasil kreasi mereka. hasil kreasi mereka dipamerkan dan dilelang kepada setiap pengunjung yang tertarik, dan kemudian uangnya akan disumbangkan ke-yayasan sosial seperti Panti Asuhan dan Rumah Singgah.
Alhamdulillah, pengunjung yang datang hari ini cukup banyak, aku dan Tita sibuk mendokumentasikan hasil karya anak-anak. Berhubung Tita yang mempunyai keahlian dibidang fotografi, jadinya dia yang ditugaskan untuk memegang kamera, sementara aku mencatat dan menandai karya anak-anak.
“Assalamu’alaikum!” sebuah suara yang sangat kukenal menyapa renyah, disertai sesosok pria tampan mendekat kearah kami. Pagi ini ia terlihat sangat rapi dengan celana jeans dan atasan kaus abu-abu lengan panjangnya, kemudian dipadu dengan scarf warna senada bertengger gagah penuh kharisma meliliti lehernya. Nggak terlalu formal sih, tapi cukup kelihatan exlusive dan elegan.
“Wa’alaikum salam!” balas kami serentak.
Dibanding sikapku yang terkesan cuek bebek, Tita justru terlihat lebih welcome, dia mengajak Mas Aal berkeliling mengamati hasil karya anak-anak, sesekali ia mempresentasikan karya tersebut pada ‘tamu istimewa’ nya itu. “Ya iyalah, namanya juga mahasiswi Public Relation, emang harusnya pinter promosi dong.” Cibirku dalam hati. Astaghfirulloh, kenapa aku jadi sinis begini? cepat-cepat kuucapkan istighfar dalam hati.
Sementara itu, aku hanya mengekor dibelakang mereka. Sejujurnya aku juga ingin bersikap manis didepannya. Namun, melihat sikap Tita yang terkesan mendominasi, kuurungkan kembali niatku. Begitulah, aku memang terkadang kurang pandai memanfaatkan situasi.
Mas Aal terlihat sangat serius mengamati satu-persatu karya anak-anak. Dan tiba-tiba saja Tita menjepretkan kameranya tepat didekat wajah Mas Aal. Sontak diapun terkaget-kaget. Dia tampak keberatan dengan sikap Tita barusan. Namun, Tita malah tertawa. Tita meyakinkan bahwa hasil fotonya justru terlihat lebih natural. Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat kelakuan mereka.
Mungkin menyadari bahwa Aku ada dibelakangnya, Mas Aal menoleh kearahku. Buru-buru kupasang sikap manis didepannya, seolah ingin kupamerkan padanya bahwa aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan kelakuan mereka. Sementara itu, Tita malah mempunyai ide lain. Dia memintaku untuk memotretnya berdua dengan Mas Aal. Dengan berat hati, akupun mengambil kamera yang ditujukan Tita kearahku. Sempat kulihat Mas Aal menatapku lamat-lamat, sepertinya ia tak enak hati padaku.
Jika aku boleh jujur, ingin rasanya kukatakan ENGGAK MAU. Namun, sebagai seorang sahabat, nggak mungkin kan aku katakan pada Tita kalau aku ENGGAK MAU? Nanti bisa-bisa ia malah semakin menaruh curiga padaku. Ya sudahlah kuturuti saja kemauannya, meski sebenarnya hatiku gondok berat.
Seolah ingin menebus rasa bersalahnya, Mas Aal menawarkan diri untuk memotret aku berdua dengan Tita. Akupun tak punya alasan untuk menolak. Jadilah aku foto berdua dengan ‘si gadis centil’ itu. Dan ternyata aku baru menyadari bahwa ini adalah kali pertamanya kami foto berdua sejak awal perkenalanku dengan Tita, sekitar empat bulan yang lalu. Dan uniknya lagi, justru yang memotret kami adalah orang yang sama-sama kami kagumi. Ya, beginilah hidup, terkadang ada hal-hal yang terjadi dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Tak lama berselang, handphone Tita berdering. Rupanya dari Mas Fikra, ketua panitia kegiatan ini, dia meminta foto dokumentasi yang ada dikamera. Tita meminta izin untuk pergi sebentar. Jantungku langsung berdegup kencang. Setelah peristiwa pengakuanku dimasjid beberapa waktu yang lalu, ternyata meninggalkan rasa malu yang terselubung, rasa sungkan menyelungkup dihatiku. Mas Aal tidak berkata apa-apa dan aku juga lebih memilih untuk berdiam diri. Dan akhirnya kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
“Eh, acaranya ba..bagus sekali ya.” Ucapnya gugup.
Perkataannya barusan membuat hatiku tertawa, kenapa bahasanya kaku sekali? Bukankah biasanya dia selalu pandai merangkai kata-kata?
“Terimakasih.” Jawabku sekenanya. Hatiku bergumam, kagumkah ia? Atau hanya sekedar ingin memecah kesunyian diantara kami? Entahlah, aku tak mau tahu.
“Emang acaranya sampai hari apa?” imbuhnya lagi, namun kali ini lebih rileks.
“Sampai Minggu besok, sekalian menghabiskan masa liburan sekolah mereka.” jawabku masih sok cuek.
“Hmm...kalau Rabu pekan depan Syahdu ada acara?”
“Memangnya kenapa?” Ada ke-PeDe- an menjalari jiwaku.
“Kalau nggak ada acara, datang ya di acara seminarku Rabu pagi jam 10.”
“Hmm....acaranya pagi ya?” jawabku pura-pura layaknya orang yang tengah berpikir keras.
“Iya, Syahdu nggak bisa?” tanyanya mulai khawatir.
“He...eh mungkin agak telat, soalnya aku sudah terlanjur ada janji.” Jawabku bohong.
“Telat juga nggak apa-apa, nanti aku sisakan satu kursi untukmu. Tapi kalaupun nggak bisa dateng ya jangan kamu paksakan, cukup doanya saja.” jawabnya penuh kesungguhan.
“InsyaAlloh.”
Suasananya tampak mulai mencair. Antara aku dan dia mulai saling bertukar cerita. Namun, itu tak berlangsung lama setelah Tita kembali datang ditengah-tengah kami.
***
Hari ini acara Pekan Anak Yatim dan Dhuafa telah usai. Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar. Meskipun melelahkan tapi acara ini mampu meninggalkan kesan yang begitu dalam dihatiku. Kubereskan tumpukan dokumen yang ada diatas meja. Aku mulai memilah-milah berkas yang penting dan yang harus dibuang.
Ditengah-tengah kesibukanku membenahi buku-buku yang berserakan, tiba-tiba saja tanpa sengaja aku melihat sebuah buku bersampul biru muda. Mungkin milik salah satu panitia yang tertinggal disini pikirku. Perlahan kubuka buku itu, dipojok kanan atas halaman pertama tertera sebuah nama “Alan Alif Ar-rasyid”. Ketika aku sedang menerka-nerka siapa pemilik nama itu, tiba-tiba saja Tita Masuk.
“Mba Syahdu, itu bukunya Mas Aal.”
“Bukunya Mas Aal? Kok bisa ada disini?” Tanyaku heran.
“Iya Mba, dia yang meminjamkannya padaku.”
“Meminjamkannya??” Tanyaku mempertegas.
“Tita minta diajarin bahasa Arab sama Mas Aal, terus dia meminjamiku buku itu. Rencananya nanti seminggu dua kali aku belajar dengannya. Sebenarnya dia juga menawariku buku-buku lain untuk kubaca sendiri. Tapi aku lebih suka bila dia langsung yang mengajariku. Itu akan lebih memudahkanku untuk memahaminya.” Jawabnya dengan wajah berseri-seri.
“Oohh...” Kataku manggut-manggut. Dihati setengah mencibir.
Ada terselip rasa cemburu dihatiku. Entah kenapa, ada perasaan tidak rela dalam diriku dari pengakuan Tita barusan. Dan aku sama sekali tidak sanggup membayangkan kalau mereka akan sering bertemu. Setahun lebih aku dekat dengan Mas Aal, tak pernah sekalipun dia menawariku seperti itu. “Huh dasar si Tita nya aja yang kecentilan!” lagi-lagi pikiranku mengambil kesimpulan yang miring atas sikapnya.
“Mba Syahdu mau dibantu beres-beres?”
“Enggak usah, ini tanggung jawabku, sebentar lagi juga selesai.” Jawabku datar, lebih terkesan acuh, bahkan cuek.
“Kalau begitu Tita tungguin sampai Mba Syahdu selesai ya, nanti kita pulang bareng.” Balas Tita lebih sopan dan hati-hati.
“Duluan saja, nanti Mba Maula yang menjemputku.” Imbuhku lebih cuek.
“Owh ya sudah.” Kata Tita sambil terbengong-bengong atas sikapku. Dan kemudian pergi meninggalkanku sendiri.
Aku marah padamu Tita, kalau kamu tahu itu! Bisikku dalam hati. Sebenarnya hati kecilku mengatakan bahwa tak seharusnya aku marah padanya. Namun, aku tak mampu untuk sekedar menyembunyikan kekesalanku padanya. Sedangkan Tita, dia bahkan tidak cukup pandai untuk mengetahui alasan kenapa aku marah padanya. Begitulah dia, orang yang sangat kurang ‘peka’ dengan kondisi sekitar. Lalu bagaimana dengan nasib persahabatan kami selanjutnya? Entahlah.
***
Hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan bagiku. Setelah cukup capek beres-beres usai kegiatan, akupun harus menunggu Mba Maula menjemputku. Sebenarnya tadi Tita menawariku untuk pulang bareng seperti yang biasa kami lakukan sepekan terakhir ini, tapi kali ini aku menolak tawarannya. Aku masih kesal dengannya.
Se-senja ini belum ada tanda-tanda kalau Mba Maula mau datang. Aku melirik arloji ditangan kiriku. Ternyata sudah menunjukkan pukul empat lebih seperempat. Itu berarti aku sudah menunggunya sejak empat puluh lima menit yang lalu. Aku menghela nafas, serasa ingin membuang beban yang menghimpitku. Kini terbayang kembali pengakuan Tita barusan. Ada kalimat yang menohok dari ucapannya. Menawarimu?? Yang benar saja, memangnya se-istimewa apa kamu dimata Mas Aal? Bisikku dalam hati.
“Lho, belum pulang Du? Suara Mas Fikra membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya belum Mas, lagi nunggu Mba Maula masih dijalan.”
“Tumben nggak bareng Tita? bukannya kalian searah?”
“Iya, tapi tadi sudah terlanjur bilang Mba Maula suruh jemput.” Jawabku sekenanya.
“Ooohh...” ujarnya menganggukkan kepala.
Mungkin karena tak tega melihatku menunggu sendirian, Mas Fikra akhirnya memutuskan untuk menemaniku. Kebetulan dia juga kenal baik dengan Mba Maula. Mereka dulu teman satu SMA. Mas Fikra pun pernah beberapa kali main kerumah. Jadi aku dan Mas Fikra sudah lumayan akrab jauh sebelum adanya kegiatan ini. Selang lima belas menit kemudian, sebuah Honda Jazz bewarna putih melaju kearah kami. Alhamdulillah, akhirnya Mba Maula datang juga.
“Sudah lama nunggunya ya?” tanyanya pada kami.
“Iya tuh kasihan adekmu sampai lumutan nungguin kamu.” Ucap Mas Fikra sambil tertawa.
“Hehee, iya maaf, tadi habis ada urusan sebentar, makasih ya udah dijagain.” Ucapnya pada Mas Fikra sambil tertawa.
Setelah berterimakasih, kami pun berpamitan.
“Tadi aku mampir ke kos-nya Aal dulu. Ada berkas yang harus kuambil.” Papar Mba Maula padaku.
Aku diam saja.
“Lagian Syahdu ngabarinnya mendadak sih, coba kalau ngomongnya sejak pagi. Kan Mba bisa ambil berkasnya tadi pagi.” Imbuhnya lagi.
“Kepikirannya juga baru tadi siang.” Sahutku membela diri.
“Hmm..Syahdu tuh kebiasaan. Eh iya tadi ada pesen dari Aal, kalau ada waktu, kamu disuruh dateng di acara seminarnya hari Rabu jam 10, bisa kan?”
“Belum tahu lah besok.” Jawabku berpura-pura tak tertarik.
“Lho, tumben banget. Biasanya Syahdu paling antusias kalau ada acara yang berkaitan dengan Aal.” Ujar Mba Maula keheranan.
“Syahdu sudah ada acara kok.”
“Acara apa? Bukannya setiap Rabu kamu gak ada kuliah?”
“Pokoknya ada acara.” Ucapku ngotot.
“Hmm..ya sudah, tapi denger-denger kata Iqbal nih, Aal kemarin datang ke acara Pekan Anak Yatim dan Dhuafa, pastinya ada yang ngundang dong?” goda Mba Maula cengar-cengir.
“Itu Tita yang ngasih undangan kok, bukan Syahdu.”
“Tapi seneng juga kan kalau dia akhirnya dateng? Hayo ngaku?” Mba Maula semakin menggodaku.
“Oh iya, tadi tuh Mba Maula sengaja dateng ke kosan Mas Aal mau ambil berkas apa mau nemuin Mas Iqbal ya? Cecarku balas menggodanya.
“Husst...jangan berisik. Udah mau magrib nih, nggak elok kalau bercanda maghrib-maghrib dijalan.” Kata Mba Maula sok bijak.
***
Rabu pagi pukul 09.37 am.
Pagi ini ada yang berbeda dengan penampilanku. Kukenakan gamis abu-abu dengan paduan blazer putih, serta kerudung abu-abu dan head band warna senada yang semakin mempermanis tampilanku. Aku memang sengaja menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berdandan seperti ini.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap melewati koridor menuju ruang teatrikal tempat Mas Aal seminar pagi ini. Aku memandang lurus kedepan, semakin yakin untuk datang ketempat itu. Tapi, tiba-tiba saja Tita memanggilku.
“Mba Syahdu,,,Mau kemana? Tanyanya dengan ramah kepadaku.
Aku menoleh, ia berjalan tergopoh-gopoh kearahku. Kulihat ada setumpuk kertas ditangannya. Hatiku sepertinya telah mampu membaca apa yang sedang ia lakukan saat ini.
“Mau kesana.” Jawabku sambil pura-pura menunjuk kearah gedung perpustakaan.
“Owh, mau pinjam buku ya mba?” ucapnya sambil tersenyum.
“Iya, Tita mau kemana?” tanyaku basa-basi. Padahal sih aku sudah tahu, dia pasti mau datang di seminar itu juga.
“Ini, Tita mau jadi pembahas di seminarnya Mas Aal pagi ini, Mba Syahdu ikut yuk?” ajaknya sambil menarik lenganku.
“Hmm...sepertinya nggak bisa Ta, ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan pagi ini.” jawabku dengan mencoba untuk tersenyum manis padanya.
“Owh, ya sudah Mba. Semangat ya!!”
Aku mengangguk. Kutatap Tita memasuki ruangan itu. Ya, aku hanya bisa menatapnya, tanpa berani mengikuti langkahnya. Aku menyeka buliran bening yang tiba-tiba saja mengalir deras di pipiku.
***
Baca Sambungannya :
1.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. I
2.Setetes Embun di Hati Syahdu Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Aku dan Sajadah Merahku Part. II - Cerpen Cinta Remaja
Aku dan Sajadah Merahku Part. II - Cerpen Cinta Remaja
AKU DAN SAJADAH MERAHKU PART. II
Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin
Aku tahu mungkin ucapan itu lebih pantas jika kutujukan untuk diriku sendiri, bukan untuk Sovia. Sovia masih memelukku erat, seolah ingin memberi kekuatan padaku. Aku menangis, entah air mata ini untuk Sovia atas kepeduliannya terhadapku ataukah justru untuk penghianatan Mas Adil terhadapku? Entahlah...
Dalam kepedihanku, kenanganku kembali teringat tatkala Mas Adil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di bidang seni arsitektur di Iran, selepas kelulusannya. Memang dari dulu ia suka membuat desain-desain bangunan yang bercita rasa seni yang tinggi. Berkat hobinya itu, puluhan penghargaan berhasil ia raih hingga akhirnya takdir membawa mimpinya untuk menimba ilmu di negeri yang kaya akan keindahan arsitekturnya. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan.
Awalnya terasa berat bagiku berpisah dengannya, namun demi cita-cita yang ia impi-impikan, tak apalah aku akan senantiasa mendukungnya.
“Semoga di tempat baru, Alloh senantiasa melindungi setiap langkahnya.” ucapku dalam doaku.
Ditahun pertama ia berada disana, ia sering menelfonku. Katanya ia masih belum begitu betah disana. Iklim disana ternyata masih enggan bersahabat dengannya, membuatnya sering sakit-sakitan. Selain itu ia masih belum terbiasa dengan makanan-makanan ala disana. Ia rindu Indonesia, rindu makanannya, rindu hiruk pikuknya, dan terlebih lagi ia mengatakan bahwa ia rindu padaku. Duhh...
Kusarankan padanya untuk menyibukkan diri dengan aktivitas disana agar ia tak lagi merasa kesepian. Ternyata nasehatku benar, ditahun kedua ia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia bahkan sering mengadakan berbagai kegiatan sosial bersama mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang sama-sama menempuh studi di Iran. Syukurlah, hatiku lega sekali mendengarnya.
Lalu, ditahun ketiga ia benar-benar sudah kerasan tinggal ditempat barunya. Dengan suka-cita, ia bercerita tentang aktivitas yang sering ia geluti disana. Mengamati aktivitas penjual aneka kerajinan tangan di pasar Qeysarieh, sebuah pasar tradisional di kawasan Meydan Emam di kota Isfahan (Meydan Emam merupakan alun-alun terbesar kedua di dunia setelah Mao Zedong Square Tiananmen di Beijing), tertawa lepas sambil menikmati siraman air mancur yang berjajar memanjang di sisi Meydan Emam, menikmati senja sambil memotret kemegahan Masjid Emam, Masjid Syekh Lotfollah, serta Istana Ali Qapu dari kejauhan. Sungguh cerita yang tak pernah bosan kudengar, karena itu cuma alasan untuk berlama-lama mendengar suaranya!
Tapi, entah kenapa, dua tahun terakhir setelah itu, dia jarang memberi kabar. Mungkin dia sedang sibuk, pikirku dalam hati. Lagi pula aku juga harus fokus pada kuliahku di semester akhir di salah satu perguruan tinggi di kota Semarang. Sekali lagi aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar Alloh senantiasa mempermudah segala urusannya, dan diberi yang terbaik segala yang ia cita-citakan. Begitulah doa yang tak henti kupanjatkan untuknya.
Dalam hati tetap tersemai harapan, semoga pertemuan selanjutnya kutemukan dia seperti yang dulu, kemudian menikah dan membangun keluarga sakinah mawaddah dan warahmah seperti yang kami impi-impikan.
Namun, semuanya telah berlalu, tinggal impian yang kini perlahan mulai aku kubur dalam-dalam. Sampai hari ini aku datang berbagi doa pada hari bahagianya, semoga ia bahagia.
Aku melangkah lunglai larut bersama lautan tamu undangan yang tengah berdesakan menuju singgasananya. Ketika aku sudah berdiri tepat dihadapannya, ada perasaan sedih bercampur nestapa saaat bibir ini mengucapkan kata selamat serta mendoakan kebahagiaannya.
Dengan hati hancur kuberikan senyumku yang termanis untuk dia yang hatinya tengah berbunga-bunga. Kuberikan kadoku padanya. Dia menerima bungkusan kado dariku sambil menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah, “Semoga kau segera menyusulku, Rima.” Ucapnya pelan. Aku mengamini kuat-kuat doanya dengan mata berkaca-kaca. Semoga doa tulus darinya sanggup memupuk keyakinan dalam diriku bahwa kelak kutemukan bahagiaku meski tanpanya disisiku. Untuk selanjutnya, kuseret langkahku menuju gadis yang tengah berdiri anggun disebelahnya. Ia menyalamiku sambil tersenyum ramah padaku. Aku tersenyum.
Kucari tempat duduk dan menghambur bersama para tamu yang lain. Dari kejauhan, kembali kutatap gadis itu lekat-lekat. Wajahnya putih bersih dengan alis hitam pekat melingkar indah diatas kedua mata sipitnya. Hidungnya yang menjulang lancip, pipinya yang merona, serta senyumnya yang merekah, semakin mempertegas pundi-pundi kecantikannya. Ia mengenakan gaun putih nan cantik dan kerudung warna putih, berpadu dengan aneka aksesoris silver terang bak mahkota yang melingkar indah diatas kepalanya. Ia bak seorang bidadari. Sungguh elok sekali penampilannya, aku tertegun.
“Kupikir kau tak akan datang, Rima.” Sapa Akmal memaksaku terbangun dari lamunan panjangku.
“Biar bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang sangat berarti dalam hidupku.” Jawabku sambil kutatap dia yang sedang duduk manis bersama seorang gadis, bukan bersamaku.....
“Aku harap Adil tidak pernah menyesal telah meninggalkan gadis sebaik dirimu.” Ucapnya pelan.
“Tentu saja. Lihatlah, gadis yang ia pilih cantik sekali bukan?” ujarku mencoba tersenyum, sambil kutunjuk gadis yang tengah duduk sembari menggandeng mesra lengannya.
Akmal masih saja tercengang seolah tak percaya dengan ketegaran yang kupamerkan padanya. Dia menatapku dalam, seolah berusaha untuk menyelami perasaanku yang sesungguhnya, ikut hanyut dalam kepedihan yang tengah kurasakan.
Perlahan senyumku berubah sedikit kecut. Bagaimana tidak? Dulu dia yang memintaku untuk menunggunya sampai dia benar-benar pantas untuk berdiri satu shaf didepanku, menjadi imam sholatku dan menjadi imam yang baik bagi keluarga kecil kami kelak, begitu impiannya kala itu. Namun, kini ia duduk dan mengikat janji sehidup semati bersama seorang gadis, dan itu bukan aku.....
Lalu, tak kuasa ku tahan lagi, air mataku menetes deras, tetesan yang setiap bulirnya menyadarkanku tentang arti kehilangan yang sesungguhnya, rasa yang terlalu pilu untuk kuratapi. Ini adalah hari bahagianya. Hari dimana ia kini telah mememukan sosok tambatan hati yang sesungguhnya. Melihatnya tersenyum bahagia bersama gadis itu, seharusnya aku ikut bahagia, tapi kenapa di otakku masih saja memikirkannya? Tak elok hukumnya jika masih “menyimpan rasa” pada seseorang yang kini telah sah menjadi milik orang lain. Maka, perlahan akan kubunuh rasa ini dari hatiku.
Terimakasih, sekali lagi kuucapkan terima kasih untuknya. Terimakasih untuknya yang telah menorehkan sepenggal episode dalam cerita hidupku, terimakasih untuknya yang telah mewarnai lembar masa laluku dengan secarik kisah yang tak akan mungkin sanggup kulupakan. Terimakasih untuknya pula yang telah mengajarkanku tentang apa itu ikhlas, sehingga membuatku belajar bagaimana mengikhlaskan seseorang yang kucintai kini telah mencintai orang lain...
Kembali aku teringat pada sajadah merah itu, sajadah merah yang dulu sempat ia titipkan padaku. Sajadah merah, yaa... sajadah merah yang hingga kini masih setia menemani setiap sujudku, yang selalu menjadi saksi dalam setiap lantunan doaku tentangnya. "Jangan khawatir, aku akan senantiasa menjaga titipanmu dengan sepenuh jiwaku, selamanya......".
***TAMAT***
Baca Sambungannya :
1.Aku dan Sajadah Merahku Part. I
2.Aku dan Sajadah Merahku Part. II
PROFIL PENULIS
Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991
Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Aku Dan Sajadah Merahku
Aku dan Sajadah Merahku Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin Aku dan Sajadah Merahku Part. I Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin AKU DAN SAJADAH MERAHKU PART. I Cerpen Karya Ulzahrah Syiefaa Khozin "Bulan ke-satu...ke-dua...ke-tiga...ke-empat...ke-lima, hingga bulan ke-enam pasca kiamat kecil itu, kini perlahan kehidupanku mulai normal kembali, meski tetap tak bisa sama seperti sedia kala." Sayup-sayup suara adzan Shubuh mengakhiri sujud panjangku malam ini. Tak terasa hampir dua jam sudah aku duduk terpaku diatas sajadah merah pemberian darinya, mengadukan keluh kesahku pada Sang Khalik. Kucoba untuk mulai bangkit dari keterpurukanku, dan kini perlahan mulai kutemukan kedamaian dalam jiwaku. Aku mulai berpikir bahwa masih banyak hal lain yang harus kulakukan selain terus menangisi keputusannya. Bukankah segala sesuatu memiliki batas waktu untuk berakhir? Cukup kepada Allah sebaik-baik tempat berharap. Dan pilihan-Nya tak akan pernah salah. Kucoba untuk pahami, meski sulit. Mungkin dulu Mas Adil sedang tersesat dihatiku sebelum akhirnya dia bertemu dengan belahan jiwanya yang sebenarnya. Jika memang benar begitu, maka tak ada alasan bagiku untuk terus menangisi sesuatu yang memang bukanlah milikku. Karena jodoh tidak akan pernah tertukar, bukan? Mulai sekarang aku akan belajar untuk memperbaiki diriku, serta terus mendoakan kebaikan untuknya pula. Semoga keputusannya itu tak pernah ia sesali. “Mas Adil, ku kutuk kau agar selalu bahagia bersama gadis itu.” Bisikku dalam salah satu bait doaku untuknya. Enam bulan yang lalu bukanlah saat yang mudah bagiku, saat dimana ia mengusirku dari hatinya. Bahkan kala itu aku tidak yakin bisa hidup kembali. Hmm enam bulan yang lalu, ya tepatnya saat ia menemuiku untuk kali pertamanya setelah kepulangannya ke Indonesia. Saat itu, aku merasa ada yang berbeda dari sikapnya. Dalam diamnya tercipta tanya-tanya tak pasti di hatiku. Ada apa dengan sikapnya? Mengapa mendung seolah menutupi wajah tampan dihadapanku? Namun, aku berusaha untuk memahami, mungkin ia sedang lelah, atau mungkin malah sedang sakit? Oh, sakitkah ia? Aku benar-benar menghawatirkannya. Jika sanggup, biar aku saja yang menanggung rasa sakitnya. Lebih dari seperempat jam aku diam terpaku menunggu suaranya, suara dari sosok yang sangat kurindukan kehadirannya. Namun sosok itu hanya memandang sendu kearahku, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk berucap, ucapan yang sekejap mampu membuat rinduku berubah nestapa. “Maafkan aku, Rima. Hatiku sudah terlanjur terpikat pada Laila.” Ucapnya kala itu. Aku tercekat mendengar perkataannya. Seketika itu juga air mataku luruh satu-satu. Miris. Aku tertunduk. Tatapanku nanar dan kosong. Hatiku limbung, serasa hidup bagai tak hidup, seolah hanya ragaku saja yang melayang-layang tanpa nyawa. Begitulah kata yang paling tepat untuk merangkum segala kepiluan hatiku saat itu. Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan bertemu lagi dengannya justru dalam suasana yang menyakitkan seperti sore itu. Baru tiga hari sebelumnya Mas Adil menghubungiku, mengabariku bahwa dia akan segera tiba di Indonesia. Rinduku seketika itu membuncah. Lima tahun tak bertemu, akhirnya hari yang kutunggu-tunggu tiba juga. Dia katakan bahwa setibanya di Indonesia, dia akan langsung menemuiku. Ah, sebegitu rindunya kah dirinya padaku, sehingga tak mau berlama-lama untuk segera menemuiku? Gumamku kala itu. Namun, ternyata inilah akhir dari penantian panjangku selama ini, dia mengatakan bahwa sudah ada sosok lain yang menyelak posisiku dihatinya. Laila, gadis asal Malang yang lima tahun terakhir ini menjadi teman kuliahnya di Iran. Sempat terlintas sebersit tanya dihatiku, Semudah itukah baginya melupakanku? Bukankah dulu ia sendiri yang menyuruhku untuk setia menantinya hingga ia kembali? Rasanya, belum terlalu usang ingatanku ketika lima tahun yang lalu, persis saat dia akan berangkat dulu, dia berjanji kelak akan kembali untuk menjemputku sebagai seorang Ratu, Ratu di hatinya. Dia juga memberikan sebuah sajadah merah untukku. Pintanya agar aku selalu mengingatnya dalam setiap sujudku. Agar Alloh melapangkan jalan kami untuk bersatu dalam sebuah janji suci nan agung. Janji untuk sehidup semati bersama dalam suka dan duka, begitulah janjinya yang hingga saat ini masih terngiang-ngiang jelas ditelingaku. Namun kini janji tinggallah janji, dia yang menabur janji itu, dia sendiri yang mengingkarinya. Dan yang semakin membuatku tidak mengerti sekaligus menyakitkan adalah bagaimana dengan mudahnya dia mengatakan bahwa rasa cintanya sudah hilang, terkikis jarak, terenggut waktu. Cintanya telah beralih pada sosok Laila, tak tersisa sedikitpun untukku. Aku kembali memandangnya. Berharap ada sepercik cinta yang masih menyala dihatinya. Sia-sia. Hanya guratan rasa bersalah yang kutangkap dari wajah tampannya. Perih! Oh Tuhan, Andai saja aku tahu akan berakhir begini, takkan kubiarkan ia masuk dan menorehkan sejuta mimpi indah dalam hidupku! “Apakah kau serius dengan kata-katamu itu, Mas?” tanyaku memandangnya. Dia menatapku sendu, serta berkata lirih penuh penyesalan; “Maafkan aku Rima, Demi Tuhan aku benar-benar menyesal melakukan ini padamu. Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa Laila yang kini lebih dominan dihatiku. Akan jauh lebih menyakitkan buatmu jika kupaksa untuk tetap bersamamu sementara hatiku kini bersamanya.” Akunya pelan. Aku diam terpaku mendengar jawabannya. Berusaha untuk memahami setiap kata yang ia sebut sebagai suatu alasan yang paling logis untuk meninggalkanku. “Mengapa baru sekarang kau katakan semua ini?” imbuhku pelan. “Kupikir ini adalah saat yang paling tepat untuk mengatakannya, jika kukatakan sebelum kau wisuda, mungkin skripsimu tak akan selesai dengan sesempurna ini.” jawabnya tanpa berani menatapku. Aku mengangguk pelan, perlahan mulai bisa menerima alasannya, meski batinku meradang, "Kuharap kau melakukan hal yang sama." ujarnya lagi, setelah sekian detik kami sama-sama diam membisu. "Apa maksudmu?” tanyaku menatapnya heran. “Mencoba untuk memukan sosok pengganti yang jauh lebih baik dariku.” Imbuhnya pelan. Aku tersenyum miris mendengar perkataannya, "Ini tak semudah yang kau kira, Mas! Aku bukanlah sosok yang mudah menaruh hati pada laki-laki lain hanya karena dia mempunyai segudang kelebihan daripadamu." bisikku dalam hati. “Ya, semoga saja.” anggukku pelan, pura-pura tersenyum kearahnya. Kenanganku kembali terlempar ke masa tujuh tahun yang lalu, masa-masa saat pertama kali aku mengenalnya, bersahabat dengannya dan sampai akhirnya menyayanginya. Waktu itu kami sama-sama duduk dibangku Madrasah Aliyah, dia kakak kelasku, selisih satu tingkat diatasku. “Rima, aku suka tulisanmu di mading itu.” Ucapnya kala itu. “Yang mana yang paling kau suka?” tanyaku dengan senyum mengembang. “Semuanya. Aku suka semua cerita yang kau tulis di mading itu.” Ucapnya serius. “Hehee...” Aku tersipu malu mendengar pujiannya, “Sungguh, aku suka semua cerita yang kau tulis di mading itu.” Ucapnya mengulangi. Dugg,, Hatiku bergetar mendengar pengakuannya. Sekilas mungkin tak ada yang istimewa dari ucapannya. Aku juga sering mendengar ucapan itu dari teman-temanku serta para guru disekolah kami. Tapi masalahnya ini darinya!! Dari Adil Wibawa Wibisono, sang ketua Osis yang diam-diam kukagumi. Ya, begitulah singkat kekalahanku padanya untuk yang pertama kalinya. *** “Aku tak habis pikir kenapa kau justru lebih tertarik pada Mas Adil dari pada yang lain.” Protes Sovia padaku kala itu. “Mengapa? Dia sosok yang baik, bukan?” sahutku membelanya. “Rima, mengapa kau tak pilih Akmal saja, dia lebih cakep, lebih pintar, lebih ramah dan juga yang paling penting dia jauh lebih sholeh daripada Mas Adil.” Aku tertawa mendengar usulan dari sahabat karibku itu, “Ah, kau ini mengacau, Sovia. Akmal itu sahabatku sejak SD, saat masuk SMA seharusnya dia diterima di SMA favorit di kota ini, tapi nyatanya dia malah memilih untuk masuk Madrasah Aliyah swasta bersamaku.” “Tapi menurutku dia mencintaimu.” Ujarnya kembali meyakinkanku. Aku kembali tertawa, “Hahaa..., bukan hal yang baru lagi, Sovia. Sejak SD kami sudah sering dikira pacaran.” Ucapku masih tertawa. Sekilas memoriku terlempar pada saat aku masih duduk dibangku kelas enam SD. Akmal teman sekelasku. Siswa terpandai di kelas. Pintar membuat puisi. Pernah membuat puisi untukku, khusus ia persembahkan untuk “Nurul Karima” dan ia bacakan keras-keras didepan kelas, membuatku menangis karena malu. Setelah kejadian itu kami sering diejek teman dikira pacaran. Lucu dan rasanya ingin tertawa sendiri ketika mengingat masa-masa itu. “Tapi apakah kau tak khawatir kalau Mas Adil itu akan sanggup menjadi imam sholatmu kelak?” “Sovia, dengarlah! Aku tak pernah menuntut lebih dari sebatas kemampuannya. Seperti sekarang ini saja sudah lebih dari cukup bagiku.” Jawabku sambil tersenyum pada Sovia. Sovia menatap lekat padaku, seolah masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari pengakuanku. Maklumlah, sebagai sahabat karibku, Sovia tahu betul bahwa dalam setiap doaku, aku selalu memohon pendamping hidup yang bisa menjadi imam ketika sholat, membimbing langkahku untuk lebih dekat dengan Alloh, serta menjadi suri tauladan untuk sebuah keluarga sakinah. Tapi Mas Adil sangat jauh dari kriteria yang aku impi-impikan selama ini. *** “Biar kau titipkan saja kadomu itu padaku.” Ucap Sovia tatkala melihat jemari tanganku tengah sibuk melipat kado pernikahan untuknya. “Bukankah mendatangi undangan sesama muslim merupakan sebuah kewajiban?” kataku sambil berusaha tersenyum menatap Sovia, mencoba menutupi kegundahan hatiku yang sesungguhnya. “Tapi masalahnya ini dari.....” imbuh Sovia yang langsung kupotong. “Justru karena ini darinya, maka aku tak akan mewakilkan pada siapapun.” Sovia menatapku iba, seraya menghambur dipelukanku. “Semuanya akan baik-baik saja, percayalah.” Ucapku pelan sembari balas memeluknya kuat-kuat. Baca Sambungannya : 1.Aku dan Sajadah Merahku Part. I 2.Aku dan Sajadah Merahku Part. II PROFIL PENULIS Ulfatul Khadroh, TTL : Kebumen, 7 Maret 1991 Facebook : Ulzahrah Syiefaa Khozin
Rabu, 10 September 2014
Nikahi Aku Karena Agamaku
RUBRIK CERPEN PEMBACA:
Nikahi aku Karena Agamaku
Toktoktok! Toktoktok! Zahra menyembulkan kepala ke pintu kamar untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Toktoktok! “Assalamu’alaikum!” Terdengar suara dari luar mengucap salam. Ternyata benar, ada orang yang hendak bertamu.Tanpa tunggu lama Zahra menyambar sehelai kain untuk menutupi kepala.Ya. Zahra tak pernah bisa menemui orang yang bukan mahramnya sebelum ia rapi metutup aurat. Segera Zahra berlari menghampiri pintu.
“Iya, tunggu sebentar ya!”Zahra sedikit berteriak sebelum akhirnya membuka pintu. “Wa’alaikumussalaam. Eh, Tante? Dik Fattah?”
“Kak Zahraaaaa! Fattah kangen sama Kakak.” Tubuh mungil Fattah memeluk kaki Zahra.
“Iya, Fattah. Kakak juga kangen sama Fattah. Hehe.”Zahra membelai lembut kepala Fattah.“Mau cari Umi ya, Tante?Ayo masuk, biar Zahra yang panggilkan.”Baru saja Zahra hendak membalikkan badan tapi Aminah memegang tangannya. “Loh, ada apa, Tante?”
“Tak usah, Nak.Sebenarnya Tante ke sini mau mengantar Ali.Dia bilang ingin bertemu teman kecilnya.”Aminah tersenyum sambil memanggil Ali yang masih mematung di pagar.
“Ali? A-LI, Tante?” Zahra membelalakkaget mendengar nama itu.
“Iya, sayang. Ali… Teman kecilmu yang sering bermain denganmu.”
“Assalamu’alaikum, Zahra. Apa kabarmu?” sapa Ali.
“Wa’alaikumussalaam. Eh, Ali? Alhamdulillah aku baik.Ali bagaimana kabarnya?Sudah lama sekali ya tidak bertemu.”Zahra sedikit gerogi.
“Iya, Zahra. Setiap aku sempatkan pulang, selalu saja tak bisa mampir ke sini.Habisnya waktu liburku selalu saja sebentar, aku harus mengejar jadwal kuliah yang sangat-sangat padat.Sekarang aku sudah lulus Zahra, tinggal tunggu waktu untuk wisuda.Hehe,” jelas Ali sambil terkekeh.
“Iya, tak apa Ali. Aku mengerti keadaanmu.”Zahra melempar senyum.
“Bunda… masuk yuk. Fattah ingin duduk, Bunda.”Fattah merengek-rengek sambil menarik-narik abaya Aminah.
“Eh, Nak.Tidak sopan itu, pemilik rumah belum menyilakan kita masuk.”Aminah sedikit menatap tajam ke mata Fattah.Fattah hanya bisa memanyunkan bibir.
“Astagfirullah… maaf, Tante.Zahra sampai lupa, keasyikan mengobrol dengan Ali.Maafkan Kak Zahra ya, Fattah sayang.Mari masuk!”Zahra menuntun Fattah yang masih cemberut.
“Iya, tak apa. Tante maklum kok, Zahra pasti rindu kan pada teman kecil Zahra karena sudah lama tak bertemu. Hehe,” Aminah tertawa kecil.
Aminah dan Aisyah, ibunda Zahra, adalah teman dekat sejak masih kuliah.Maka dari itu Zahra dan Ali menjadi teman dekat karena kedekatan orangtuanya. Ali sudah berteman sedari masih duduk di bangku taman kanak-kanak bersama Zahra. Sayangnya Ali harus pergi ke kota seberang untuk tinggal menemani neneknya yang sudah sakit-sakitan. Neneknya yang meminta Ali untuk melanjutkan sekolah di sana saat Ali telah lulus dari bangku SD. Ya. Ali adalah cucu kesayangan neneknya.Mau tak mau, Zahra harus berpisah dengan Ali dan setelah sepuluh tahun lamanya mereka kembali bertemu.
Pagi itu Zahra habiskan bersama keluarga Ali, asyik mengobrol banyak hal termasuk pengalaman Ali.Ali sedikit mengalami perubahan.Ia semakin tampan dengan kacamatanya, selebihnya dandanan ia tak banyak berubah. Tetap seperti dulu, Ali yang selalu rapi dalam berpakaian. Zahra merasa kepandaian Ali juga sangat melejit, terbukti dari gaya bicara dan apa-apa yang ia ucapkan. Semua pembicaraannya berbobot, termasuk pengetahuan tentang agama –bukan hanya agama Islam. Kekaguman mulai berdesir di hati Zahra, tapi cepat-cepat ia kendalikan perasaannya. Khawatir malah akan parah.
“Bunda, sudah siang ini. Mau pulang tidak?” tanya Ali setelah lama berbincang dengan Zahra dan Aisyah.
“Bang Ali, Fattah masih mau main sama Rasyid di sini. Bang Ali kenapa ngajak pulang sih?Ah, Bang Ali nyebelin.”Fattah merengek.
“Fattah, anak Bunda yang saleh… Ini sudah siang, sayang. Bunda masih ada keperluan lain. Nanti kalau ada waktu, kita main lagi ke sini ya, Nak?” bujuk Aminah.
“Iya, Fattah. Lagian kan nanti di sekolah, kita ketemu lagi,” Rasyid ikut bicara.
“Ya sudah.Aisyah, kami pamit pulang dulu. Kebetulan ada urusan lain yang harus diselesaikan.”
“Kamu hati-hati ya di jalan, ya?Kapan-kapan main lagi ke sini,” timpal Aisyah.
“Iya, insya Allah, Aisyah.Yuk, Nak!” ajak Aminah pada kedua anaknya. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalaam,” jawab Aisyah, Zahra dan Rasyid.
“Dadah Fattah, nanti ketemu di sekolah ya.”Rasyid melambaikan tangan, sementara Fattah hanya mampu menekuk wajah dengan langkah kaki yang dipaksakan.
“Oh ya, Zahra?” panggil Ali sebelum melangkah lebih jauh.
“Iya, Ali? Ada apa?” jawab Zahra.
“Ah, tidak.Aku hanya ingin memberi tahu, di rumah aku punya banyak buku.Aku tahu kamu suka sekali membaca, kapan-kapan aku ke sini lagi bawakan untukmu, ya?”
“Ah, Ali.Kamu selalu tahu kesukaanku, terima kasih sebelumnya ya.”Zahra tersenyum malu.
“Ya sudah, aku pulang ya.”
Ali menyusul Aminah dan Fattah yang sudah berjalan agak jauh duluan, hingga akhirnya bayangan Ali lenyap menghilang dari pandangan. Fhh… Zahra menarik nafas dan menghembuskan panjang-panjang.Ia berdoa semoga tidak ada suatu hal yang aneh muncul dalam degup jantungnya.
***
Beberapa minggu kemudian, sesuai yang Ali janjikan bahwa ia akan datang membawa beberapa buku untuk dibaca Zahra. Kali ini ia hanya pergi bersama Fattah, Aminah tidak bisa ikut. Fattah memaksa kakaknya agar ia diajak ke rumah Zahra untuk bertemu dengan Rasyid.
Semakin hari sekembalinya Ali dalam kehidupan Zahra, mereka berdua semakin akrab.Ali banyak bercerita tentang kenalannya di negeri orang.Malah tak sedikit teman Ali yang berbeda keyakinan dengannya.Perasaan yang tak diinginkan pun akhirnya tak bisa dihalang-halangi untuk tumbuh dalam hati Zahra.Namun sejauh ini Zahra masih bisa memendam dan tak mengatakan apapun pada Ali.Ia hanya berharap perasaan itu akan segera hilang seiring berlalunya detak jam.
“Zahra?” panggil Ali dengan nada yang serius.
Zahra yang sedang tertawa melihat Fattah dan Rasyid yang asyik bermain mobil-mobilan sontak terkejut, “Ya, Ali?Ada apa?”
“Aku… aku… mmm aku…” Ali ragu untuk berbicara.
“Iya? Aku… aku apa, Ali?” Zahra mengernyitkan dahi.
“Zahra, mmm… aku… boleh cerita sama kamu?” Ali memberanikan diri.
“Haha… Ali, aku ini Zahra teman kecilmu.Kenapa kamu harus kikuk seperti itu?Seperti sedang berbicara pada siapa saja.”Zahra tertawa melihat Ali yang salah tingkah.
“Iya, Zahra. Aku sedikit malu untuk membicarakannya.Ini serius.”
DEG! Detak jantung seperti terhenti seketika, kali ini Zahra yang salah tingkah. Jangan-jangan… jangan-jangan… Dugdugdugdugdugdugdug! Detak jantungnya memompa lebih cepat dari semula.Wajahnya terlihat sangat tegang menunggu Ali melanjutkan pembicaraan.
“Zahra, aku malu kalau cerita sama Bunda. Jadi aku putuskan untuk cerita sama kamu. Kamu kan teman baikku, aku tak tahu lagi harus cerita pada siapa.”Ali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Mmm… menurut kamu, kalau aku punya perasaan sama seorang gadis, bagaimana, Zahra?” lanjutnya.
Zahra tersenyum, matanya semakin terlihat sipit ketika tersenyum seperti itu.“Ali, cinta adalah suatu hal yang fitrah pemberian dari Allah.Jadi, menurut aku tidak ada yang salah selama tidak melebihi batasan-batasan yang disyariatkan.”
“Tapi, Za… masalahnya gadis itu adalah seorang gadis yang berbeda keyakinan denganku. Fhh..”Ali membuang nafas.
“Maksudmu?” Zahra tak mengerti apa yang Ali maksud.
“Iya, Za… Dia adalah seorang gadis kristiani, namanya Elena.” Ali tersenyum-senyum saat menyebutkan nama gadis yang ia maksud.
“Ali… ternyata dia sama sekali tak menaruh perasaan untukku. Bahagia sekali sepertinya saat dia menyebutkan nama Elena. Begitu cinta kah Ali padanya?”Zahra berbicara dalam hati sampai-sampai tak sadar Ali yang tengah bicara malah tak didengarkan. Zahra bengong masih tak percaya dengan apa yang barusan Ali sampaikan. Cemburu kah ia? Zahra tak tahu pasti.
“Za?Za?Zahra?!” Ali mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Zahra yang masih melamun.“Zahraaaa?”Ali sedikit berteriak.
“Eh? Ya? Ya, ada apa, Ali? Maaf,” Zahra terkejut dan buyar lamunannya.
“Za… kamu bagaimana sih?Aku dari tadi bicara tak didengar ya?Kamu melamunkan apa sih?”Ali merengus kesal.
“Maaf Ali, maaf. Iya, tadi bagaimana?Bagaimana ceritanya?”Zahra membetulkan posisi duduk.
“Itu, Za… Elena…”Ali mengingatkan.
“Ah, itu… Kalau aku boleh tahu, memang apa yang kamu sukai dari dia? Adakah yang spesial?”Zahra menyelisik.
“Aku jatuh cinta pada Elena karena ia pandai. Meski umurnya beberapa tahun di bawahku, tapi pengetahuannya sangat luas. Ia gadis yang cerdas, menurutku. Aku suka sekali gadis yang cerdas dan berwawasan luas.”Begitu bersemangatnya Ali menceritakan tentang Elena.
“Sangat berbeda jauh dariku.Hmm.”Wajahnya berubah diselimuti sendu.
“Kemarin saja kami habis debat lagi tentang sanggahan terhadap isi bible yang keliru,” lanjut Ali.
“Oh ya?Lantas, bagaimana?”Zahra melupakan sendunya.
“Iya, Za… Aku yang menang.Hehe,” Ali tersenyum malu.
“Wah… hebat kamu, Li.” puji Zahra.
“Ah, tidak.Bukan aku yang hebat, tapi Islam dan Al-Quran yang hebat.”Menyembul rona merah di pipi Ali yang putih, Ali garuk-garuk kepala karena malu.
Mereka berdua lupa tentang pembicaraan semula karena terlalu asyik bercerita hal lainnya.
***
Hari-hari semakin berlalu, setiap kali Ali ingin bercerita tentang Elena, Zahra lah yang jadi pendengar setianya.Itu semua cukup mengobok-obok perasaan Zahra, tapi Zahra berusaha untuk selalu bersikap sabar dan menjadi pendengar yang baik untuk Ali.Sementara Ali belum mengetahui bagaimana perasaan Zahra yang sesungguhnya.
Siang itu Ali memutuskan untuk berkunjung kembali ke rumah Zahra. Seperti biasa, cerita tentang Elena yang ia bawa untuk meminta saran pada Zahra. Setelah cukup lama berbincang dan berbasa-basi, Ali mulai membahas tentang Elena kembali.
“Zahra?”
“Iya, Li? Ada apa? Tentang Elena lagi?”Zahra menerka.
“Hehe… kamu bisa saja membaca pikiranku. Iya nih. Za, aku ingin membimbing Elena untuk memeluk Islam.Jika dia ada dalam keyakinan kita, dia pasti akan jadi wanita yang hebat.”
“Oh, ya?Bagus kalau begitu. Lantas, rencanamu bagaimana?” tanya Zahra.
“Aku… aku… ingin menikahinya, Za.”Ali mesem-mesem.
Kali ini Zahra tak tahu lagi bagaimana harus bersikap tenang di hadapan Ali.Kalimat itu cukup membuat hatinya terguncang.Zahra kelu tak bisa mengatakan apapun.Butir bening mulai menggantung di pelupuk mata.Rasanya Zahra ingin menumpahkan beban yang selama mengganjal di hati.Ia lelah jika harus terus-menerus bertarung dengan perasaannya.
“Ali, maaf aku rasanya kurang enak badan.Aku ke kamar dulu ya.”Zahra pergi berlari sambil sedikit terisak meninggalkan Ali begitu saja.
Ali yang semula semangat bercerita, kini memasang ekspresi seperti orang yang kebingungan.Ia garuk-garuk kepala tak mengerti mengapa Zahra tiba-tiba aneh seperti itu. Aisyah yang baru muncul dari belakang mengambil minuman hanya bisa bersedih melihat anaknya.Aisyah tahu semuanya, termasuk perasaan Zahra pada Ali.Pasti Elena lagi, pikir Aisyah.
Ali bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan Zahra. Ia bertanya apa yang salah dengan dirinya, barangkali ia salah berbicara. Dengan berat hati Aisyah menceritakannya. Aisyah berterus terang bahwa dalam hati Zahra telah tumbuh benih-benih perasaan yang sama sekali tak ia undang kehadirannya. Setelah tahu semuanya, Ali memutuskan untuk pulang. Sementara ia ingin memberikan waktu pada Zahra agar tenang.
“Oh… ternyata begitu.Zahra, kenapa kamu tak jujur tentang perasaanmu?Jadi, selama ini aku menceritakan Elena, selama itu juga Zahra harus bersabar bergelut dengan hatinya.Astagfirullah… apa yang telah aku lakukan?” Ali menyisir rambut dengan jarinya, merenungi apa yang telah terjadi. Selama perjalanan pulang, ia hanya bisa menghela nafas dan menyesali ketidakpekaannya.
***
“Ali, sini, Nak.Bunda ingin bicara sebentar.”Aminah melambaikan tangan, menyuruh Ali untuk menghampirinya.
“Iya, Bun? Ada apa? Tumben.Ada hal penting kah yang mau dibicarakan?”Ali mendekat.
“Siapa itu Elena, anakku sayang?”Nada bicaranya terdengar serius tapi tetap lembut.
Ali seketika membisu mendengar apa yang ditanyakan Aminah.
“Nak, jawab Bunda.Siapa itu Elena?”Mata Aminah mulai berkaca-kaca.
“Elena… Elena… Dia teman Ali, Bun.”Ali menyerah untuk jujur dan semakin pelan suaranya.
“Kamu mencintainya?Apa agama yang dia peluk?Jujur pada ibumu, Nak.”
Ali menghela nafas. “Iya, Bunda. Ali mencintainya, dia seorang gadis kristiani yang taat beragama.”
“Ali… apa tidak ada lagi gadis muslim yang menarik hatimu sehingga kau jatuh hati padanya?”Nada bicara Aminah mulai meresah.
“Bukan begitu, Bun.Dia gadis yang pandai, Bunda.Berwawasan luas dan dan melek ilmu.Ali yakin dia akan menjadi wanita yang hebat jika Ali berhasil membimbingnya untuk mengikuti agama kita.”Ali berusaha menjelaskan.
“Dengan cara apa kamu akan membuatnya masuk Islam? Kamu yakin bisa membuat dia sejalan denganmu?Kamu yakin pilihan kamu adalah pilihan yang tepat?Kamu yakin, Nak?”Pertanyaan Aminah memberondong Ali.
“Entah Bunda. Tapi Ali akan berusaha semampu Ali untuk menuntun dia agar memeluk Islam. Sayang sekali Bunda kalau gadis seperti dia tak memeluk Islam.Ali juga berniat menikahinya, agar Ali bisa lebih leluasa untuk membimbingnya.”
“Apa?Menikah katamu, Nak? Astagfirullah…” Aminah menangkupkan telapak tangan di mulutnya, air matanya mulai deras membasahi pipi.“Bunda tak akan pernah rida jika kau menikah dengannya.Bunda sudah pilihkan gadis yang cocok untuk mendampingimu. Lihat Zahra, Li. Lihat dia! Apa kau tidak tertarik dengan ketaatannya? Apa kau tak tertarik dengan kelembutan hatinya? Bahkan saat kau menceritakan perihal Elena padanya, dia masih bersabar.Apa kau tak tergugah sedikitpun dengan kecantikan hatinya?”
“Bunda tahu dari mana semua itu?”
Aminah terdiam, tak mau menjawab dan masih terisak dalam tangisnya. Dalam keadaan seperti ini, ia begitu merindukan almarhum suaminya yang telah lama meninggalkan dirinya. Ini sungguh berita buruk untuk Aminah. Aminah merasa ia gagal mendidik anaknya.
“Bunda… Maafkan Ali kalau keputusan itu membuat hati Bunda menjadi sedih.”Ali menggenggam tangan Aminah.
“Apa kamu lupa pesan Rasulullah, Nak?Bahwa wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan yang terakhir karena agamanya. Rasulullah berpesan agar kamu menikahi wanita karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung. Apa kamu lupa ajaran agamamu ini? Apa kamu lupa, Nak?”Aminah menggenggam erat tangan Ali sambil menatap matanya dalam-dalam.
Lagi-lagi Ali hanya bisa terdiam bungkam. Benar kata ibunya, ia lupa akan ajaran mulia agamanya. Ia lupa selama duduk di bangku SMP dan SMA banyak hadits-hadits yang ia pelajari, termasuk nasihat mulia yang satu itu. Seakan-akan pelajaran yang ia dapat selama sekolah hanyalah angin lalu yang tumpang lewat begitu saja.
“Nak, manusia tak pernah tahu akan seperti apa takdirnya sedetik kemudian.Iya.Kamu bisa membimbingnya semampumu, tapi jika kemungkinan buruk yang terjadi adalah ternyata Allah menakdirkan Elena untuk tetap memeluk agamanya. Bagaimana, Nak? Bagaimana?Rasulullah sekalipun tak bisa membuat orang yang sangat dia sayangi, pamannya Abu Thalib, untuk mengikuti jalan Islam.Hanya Allah yang menentukan siapa yang berhak mendapat hidayah-Nya.Kamu akan tetap pertahankan pernikahanmu meski Elena tetap menjadi wanita kristiani? Pikirkan baik-baik anakku.Kalau itu yang sampai terjadi, pernikahanmu selamanya hanya akan menjadi perzinahan.”Tangis Aminah semakin pecah di tengah kondisi yang tengah menegang.
DEGG!! Kalimat terakhir dari ucapan ibunya terdengar menggelegar di telinga.Kalimat itu benar adanya. Jika Elena nanti berhasil dinikahi dan pada akhirnya tetap pada keyakinannya, tentu pernikahannya hanya akan menjadi perzinahan. Cintanya pada Elena telah membuat Ali lupa untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi.Ia tertegun dan menyesali apa yang telah terjadi.
“Sudahlah, Nak.” Aminah menyeka air matanya.“Maafkan Bunda terlalu memaksakan keinginan padamu.Kamu sudah besar, kamu sudah bisa menentukan sendiri pilihan mana yang terbaik untukmu. Bunda hanya sedih, apa kata almarhum ayahmu jika tahu hal ini terjadi? Maafkan Bunda terlalu egois tak memikirkan perasaanmu. Maafkan Bunda.” Aminah melangkah pergi meninggalkan Ali yang masih mematung tertunduk di kursi.
***
Beberapa minggu telah berlalu tanpa ada lagi seulas senyum dan cerita dari Zahra.Hatinya merasa tengah diradang kerinduan yang amat mencekiknya.Ali masih malu untuk bertemu dengan Zahra. Setelah nasihat-nasihat dari Aminah menghujaninya, ia semakin tersadar. Pelan-pelan Elena mulai menghilang dari pikirannya, meski itu cukup sulit untuk Ali. Beriringan dengan itu juga sosok gadis lain hadir menggantikan Elena, gadis sederhana yang perlahan mencuri hatinya.
Sore itu Ali hendak pergi ke toko buku langganannya. Sudah lama ia tak membeli buku baru.Sambil menyelam minum air, ia bertemu juga dengan Zahra, si gadis cantik nan salehah. Zahra tengah memilih-milih buku bernafaskan Islam di rak paling ujung. Tampaknya ia sangat serius sekali sehingga tidak menyadari bahwa Ali datang mendekat.
Cukup lama Zahra mematung dengan buku-buku di genggaman. Matanya sibuk membaca satu persatu sinopsis di sampul belakang untuk memutuskan mana yang akan dibeli. Ali masih mematung di sampingnya, tanpa sadar ia terhanyut melihat Zahra yang begitu anggun dalam balutan jilbab.Ia meresapi perkataan ibunya saat perbincangan tempo hari tentang Elena. Ibunya benar, mengapa ia tak tergugah sama sekali dengan kelembutan Zahra.
Sip! Telah terpilih buku mana yang akan dibeli. Zahra mengahadap ke kanan untuk berjalan menuju kasir.Ia semringah dengan beberapa buku di genggamannya, matanya masih terpaku menunduk ke buku-buku itu. Saat ia angkat kepalanya, betapa kagetnya ia mendapati Ali ada di hadapannya. Kakinya terasa kaku dan tak bisa dilangkahkan, matanya masih menatap datar pada tubuh tinggi dihadapannya.
Tanpa tunggu lama ia simpan kembali buku yang hendak ia beli ke rak di ujung sana. Ia segera berlari meraih pintu keluar dari toko buku tersebut. Ali mengejarnya dan berkali-kali memanggil namanya.Zahra tak kunjung menoleh ataupun menghentikan langkah kakinya. Zahra sudah jauh di depan meninggalkan toko buku, Ali berusaha mempercepat langkah kakinya. Akhirnya ia berhasil meraih tangan Zahra dan menggenggamnya. Zahra sontak terhenti.
“Ali, apa-apaan ini? Lepaskan! Kamu bukan mahramku.Siapa kamu berani memegangku?”Zahra merintih berusaha melepaskan pegangan Ali yang sangat kuat.
“OK! Aku akan melepaskannya asal kaudengarkan aku dulu.”
Akhirnya Zahra terdiam dan Ali melepaskan pegangannya setelah memastikan Zahra tak akan berlari lagi.
“Zahra sakit tidak tangannya?Maafkan aku, terpaksa aku melakukan itu.Beri aku waktu sebentar untuk bicara, setelah itu kau boleh pergi.”
Zahra masih membisu, tak mau menatap Ali seincipun.
“Za… maafkan aku soal Elena.Bunda benar, harusnya aku pikirkan berulang-ulang saat aku mengambil keputusan untuk menikahi Elena.Aku tahu, Za. Kamu menyimpan perasaan untukku kan? Umi Aisyah telah menceritakan semuanya padaku.Kau jangan membohongiku, Za.”
“Lantas kalau kau sudah tahu, kau mau apa?”
“Za, Bunda memilihkanmu untukku.Aku setuju dengan pilihan Bunda. Kalau menurut Bunda kau adalah yang terbaik, aku akan menuruti permintaan Bunda. Asal ia bahagia, aku menyesal telah membuat Bunda menitikkan air mata.”Ali tersenyum penuh harap pada Zahra.
“Lupakan!Aku sudah mengubur perasaanku dalam-dalam, Li.”
“Kaubohong, Za. Lihat aku kalau memang kau berkata jujur.Lihat aku, Za!”
Zahra berlari, tak menghiraukan apa yang dikatakan Ali barusan.
“Za… Za… ZAHRAAAA?!”Ali berteriak-teriak tak peduli pada orang-orang yang menatapnya keheranan.“Za… lihat saja! Aku akan datang bersama Bunda untuk melamarmu! ZAHRAAAA!”Percuma Ali berteriak-teriak, Zahra tak akan menoleh. Hatinya sudah bertekad akan melamar Zahra untuk menjadi istrinya. Ia rida pada gadis pilihan ibunya.
***
Zahra terkejut bukan main, ternyata Ali serius meneriakkan kalimat itu.Tibalah hari pelamaran Ali pada Zahra. Dua keluarga besar telah berkumpul, termasuk Zahra dan Ali ada di sana. Zahra masih saja mendiamkan Ali.Sejak Ali mengutarakan keinginannya pada Zahra untuk menikahi Elena, senyum itu menghilang tertimbun mimik datar yang selalu dipasang Zahra saat bertemu Ali. Ali sadar ia salah, tapi lambat laun ia pastikan senyum itu akan kembali menghiasi harinya.
“Za, aku melamarmu untuk menjadi istriku,” ucap Ali.
“Ali, aku tak punya banyak hal yang istimewa untuk menjadi satu yang terbaik di antara pilihan-pilihan baik lainnya, hanya ada agamaku yang bisa kupertahankan.Jika kau mau menikahiku, nikahi aku karena agamaku.Jika ternyata nanti kaudapati banyak lubang di dalamnya, tambal lubang itu dengan bimbinganmu yang sabar padaku,” tegas Zahra.
“Baiklah Za, aku akan berusaha semampuku. Bismillah… Bunda?Umi?Ali ingin menikahi Zahra karena Allah, karena agama yang ada pada Zahra.”
Zahra tersenyum mendengar kesungguhan Ali.Pada akhirnya garis lengkung itu kembali merona di wajah teduh Zahra.Ali ikut tersenyum menyadari betapa indahnya pilihan ibunya. Semoga dalam rida oarngtuanya ia beroleh rida Allah juga.
-THE END-
Azalea Senja,
Ramadhan 1435 H
*** Tag dan share ke keluarga, sahabat dan teman-temanmu yaa
Cerpen ini kiriman dari salah satu sahabat di sini lhoh
FBnya https://www.facebook.com/azaleasenja
Rabu, 04 Desember 2013
TETESAN EMBUN CINTA
Cerpen Abdul Rahman Malik
Tahun 2008 dimana aku masih duduk di bangku SD, dan masih meraskan jiwa kekanak-kanakan dan kegemaran bermain, aku tumbuh sebagai anak lelaki yang suatu saat kan jadi harapan keluarga. Karena aku adalah anak laki-laki kedua, dan kakakku kini telah berkeluarga. Maka akupun kelak yang akan diandalkan.
Sebetulnya aku yang pendiam, lugu, dan tak punya keberania besar. Tapi keterikatanku dengan dunia masa kecil masih melekat, akupun tetap menyempatkan waktu untuk bermain bersama teman-teman yang akrab. Hanya saja terkadang aku memilih teman yang enak dan bersahabat untuk aku ajak bermain.
“Pak, Ilman berangkat sekolah dulu ya, sekalian minta uang jajan buat hari ini….”. Ilman adalah nama panggilanku sehari-hari, nama yang diberikan bapak tujuh tahun yang lalu setelah ibu melahirkanku yang lengkapnya, Maulana izdadna Ilman.
“ iya, Man ni uang jajannya, ingat pulang sekolah jangan ngelayab kemana-mana, pulang langsung kerumah!”… jawab bapakku dengan mengulurkan tangan berisi uang seribu lima ratus rupiah.
Biasanya yang selalu member uang jajan tiap hari ialah ibu, namun hari ini ibu sudah berangkat ke pasar duluan, jadilah bapak yang jadi gantinya. Karena bapak sendiri selalu ada dirumah jikalau tidak berangkat merantau ke seberang pulau.
Sekolahku tak jauh dari rumah, dengan jalan kakipun bisa aku tempuh, cukup lima menit sampai. SD yang dikatakan Negri kedua di desaku. Karena tepat disampingnya ada SD Negeri I yang menghadap kej raya. Walaupun demikian, Dua SD yang berdampingan itu tetap berhubungan baik , baik itu guru-gurunya ataupun murid-muridnya. Sementara, aku kini duduk di kelas 2 SD Negeri 2, Setiap hari aku selalu berangkat gasik walaupun sebenarnya aku masuk kelas dimulai jam setengah sepuluh setelah kelas 1 pulang. Aku merasa dengan demikian aku bisa belajar dahulu di pinggir kantin sekolah bersama Bu endah, sang penjaga kantin. Atau sering juga ketika tidak ada PR, aku malah bermain dengan teman akrabku yang sama selalu berangkat gasik, Rayhan namanya.
“ Han, hari ini ada PR gak? Kalau gak ada, yuk kita main kelereng saja! “ ajak aku. Kebetulan murid kelas dua SD Negeri 2 yang baru berangkat hanya aku dan Rayhan.
“ Kayanya gak ada man, soalnya kemarin Ibu Tini gak ngasih PR” jawab Reyhan dengan menambahi Ibu Tini yang juga mengajar kelas 2.
“ Ya sudah, kita bermain kelereng. Nih, aku punya sepuluh butir, nanti kita bagi dua” Tutur aku sambil meyakinkan.
Kita berdua bermain kelereng di halaman tepat di depan kelas satu yang tempatnya di ujung, berdampingan dengan sebelahnya SD Negeri 1. Ditengah asyiknya bermain, terdengar suara obrolan anak-anak perempuan di samping. Ketika aku menengok kearah suara itu, ternyata ada siswi-siswi SD negri 1 sedang asyik ngobrol, sambil tertawa-tawa di kursi panjang depan kelas.
Namun, tampak seorang siswi yang berkerudung putih, dengan memakai seragam merah putihnya seolah-olah berbeda dengan teman lainya yang tidak mengenakan kerudung. Akupun sedikit keheranan melihatnya. Pesona kecantikan Siswi SD itu membuat aku bertanya-tanya, siapa dia? Mengapa dia memakai kerudung putih, tidak seperti umumnya anak SD negeri? Tambah dengan merasa kagum akan sikap pendiamnya sambil memegang sebuah buku sedang dibacanya. Sungguh membuat aku ini terpana, seakan melihat putri permaisuri kecil bercanangkan kerudung putih indah dipandang.
Setelah berhari-hari aku menyimpan memori bayangan siswi SD Negeri 1 itu, akhirnya akupun tahu sedikit tentang dia. hanya sebatas kenal. Maklum aku akui, karena SD aku masih kecil tentang hal-hal percintaan dan belum pantas. Tapi rasa kagumku padanya akan senantiasa membekas, karena sosoknyalah yang pertama kali mengucurkan teteskan embun kekaguman di hatiku.
Nayla namanya, Nayla Muna Awwalina. Aku tau dia dari Reyhan, teman terdekatku. Nayla sebetulnya bukan asli anak desa dimana SD Negeri 1 dan 2 berada, dia berasal dari desa sebelah, dia pergi sekolah tiap hari dengan jalan kaki. Selalu berangkat awal dibanding yang lain. Ternyata, dia juga sama duduk di kelas dua. Karenanya, aku sering menjumpai dia menyempatkan belajar di kursi kecil depan kelasnya sebelum bel berbunyi. Karena berbeda sekolah, akupun tidak bisa bermain dekat dengan dia. Apalagi aku sendiri anak yang pemalu dan jarang bermain dengan anak perempuan.
Selama aku masih duduk di bangku SD, perasaan itu hanya tersimpan di benak, tak pernah terletupkan ucapan tentang kekagumanku pada Nayla kepada siapapun, kecuali Reyhan sendiri. Karena ia satu-satunya teman yang selalu mengertikanku. Sampai ia pun sering memberi tahu kabar tentang Nayla yang belum pernah aku ketahui. Reyhan memberitahuku bahwa nayla setiap malam selalu mengaji al qur’an di pondok kecil dekat rumahnya, dan itu berjalan sampai Nayla sekarang kelas 5 SD begitu juga aku.
*****
Di awal aku menduduki bangku kelas 5 SD, aku bulatkan tekad untuk ikut mengaji al qur’an ditempat Nayla setiap malam mengaji. Walaupun jauh, tapi ini adalah pengorbananku untuk bisa melihat Nayla setiap hari, pagi hari di Sekolah tapi itu jarang karena sekolah yang berbeda, atau malam harinya di pondok walau tidak dalam satu kelas. Yang penting bisa melihat Nayla walau dari jauh.
Aku merasa mondok disana banyak hal baru yang aku jumpai. Pertama, aku harus berangkat setelah shalat maghrib dari rumah dengan mengendarai sepeda, setelah sampai aku dipertemukan dengan asatidz yang galak-galak, Ust. Furqon salah satunya. Setiap kali ada santri yang masih berkeliaran belum masuk ke kelas, Ia siap siaga dengan memegang pentungannya untuk menakut-nakuti. Pada saat-saat itulah, muncul rombongan santriwati yang melenggangkan badan berjalan menuju pondok dari sebelah utara pondok, dengan menenteng tas di bahunya dan kitab-kitab di dekap di dadanya. Tersenyum aku melihatnya, karena dari kerumunan santriwati itu, satu diantaranya ada Nayla. Ya Nayla yang selama ini aku kejar agar bisa selalu memandang wajah sholihahnya, kelembutan sikap kesehariannya dan kealimannya.
*****
Setahun kemudian…
Aku sudah terbiasa dengan kegiatan dan kebiasaan di Pondok itu dan banyak mendapat pelajaran, walau hanya menghabiskan waktu dari habis maghrib sampai habis sekitar jam setengah sembilan malaman. Aku merasa gembira, aku bisa ikut mengaji disini, walau tujuan awalnya yang salah. Mengaji hanya untuk melihat Nayla.
Suatu malam setelah pulang dari pesantren, aku mampir dahulu di pedagang siomay dekat pesantren. Tak ku kira ternyata tepat di sampingku ada Nayla yang juga sedang membeli siomay. Tiba-tiba dia memandangku dengan senyuman manisnya sambil mengucapkan,
“assalamu ‘alaikum…. kamu anak desa sebelah kan?” Tanya Nayla sambil memancarkan aura ketulusannya.
“wa wa wa ‘alaikum salam….” Aku jawab dengan sedikit kaget dan terbata-bata.
“IIIyya,,, neng ” jawaban dari pertanyaannya tadi dengan ucapan neng sebagai tradisi penghormatan kepada gadis perempuan, teman atau yang lebih muda.
“Neng namanya Nayla ya…??? Giliranku bertanya.
Dia tersenyum sambil manjawab,
“ Iya… kok tahu? “, Ujar Nayla dengan suara lirih dan pancaran senyum dari raut wajahnya.
“ hhhmm… yang Cuma tau aja”, jawab aku.
“ eh iyya… saya pulang duluan ya, sudah di tunggu bapak dan ibu di rumah”.
Nayla pun pergi, dan aku perhatikan dia dengan perasaan sangat-sangat bahagia. Seketika aku pandangi ia berjalan. setelah agak jauh, aku terkejut, ternyata Nayla masuk ke rumah Ust. Furqon. Deg.. rasa bahagiaku pun bercampur dengan rasa khawatir dan takut, ternyata aku baru tahu, Nayla Muna Awwalina itu Putri dari Ust. Furqon yang terkenal super galak dan sangar di pondok. Hhhmm,,,Siap aku harus menghadapi singa padang pasir itu untuk bisa bertahan sampai suatu saat aku bisa mendapatkan anaknya.
Satu tahun itu merupakan tahun pertama aku mengaji di Pondok secara kalong, bertepatan juga dengan masuknya aku di kelas 6 SD. Aku menikmati jalannya mengaji dan semua suasana di pondok.
Sampai tiba akhir tahun. Dimana aku memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMP atau MTs. Aku sendiri sudah bulat, ingin masuk SMP agar bisa menguasai pelajaran-pelajaran umum, dan tetap melanjutkan mengaji malam di pondok untuk tambahan pelajaran agama. Rencanaku diterima dan didukung penuh oleh bapak dan ibu, karena menyadari ilmu umum juga perlu, tapi dengan tetap mengutamakan ilmu agama dengan tetap pesantren walau kalong.
*****
Setelah aku menjadi siswa SMP, Akhir-akhir ini aku merasa ada yang kurang. Setiap malam aku berangkat mengaji, entah kenapa aku tidak pernah lagi melihat pancaran wajah indah Nayla. Perasaanku tidak enak dan gelisah. Akupun tanya seorang temannya yang dulu selalu bersama Nayla di Pondok. Kaget sungguh kepalang. Sedih hati ini rasanya. Belumlah aku bisa akrab dengannya tapi dia sudah pergi dahulu. Pergi menjauh dariku. Bapaknyalah yang membuatnya pergi, Ust. Furqon. Dia melanjutkan SDnya tidak ke SMP atau MTs terdekat, tapi dia disuruh untuk melanjutkan pesantrennya di Bandung. Dengan keta’dzimannya terhadap bapaknya, diapun mengikuti apa kata bapaknya.
Bertahun-tahun aku jauh dari Nayla. Tapi aku tetap berusaha untuk tegar. Seperti biasa aku berangkat pesantren, sepintas aku sering memandangi rumahnya, namun tak juga Nayla ada. Semenjak Nayla pergi ke Bandung, Tak pernah aku jumpai dia walau satu kalipun. Aku hanya bisa berharap, suatu saat jika Allah mentaqdirkan aku bertemu Nayla, aku yakin pasti akan bertemu kembali. Karena aku percaya taqdir Allah seperti yang diajarkan Ustadz Rahmat dalam pengajian tauhid di pondok.
Sampai akhirnya akupun selesai Ujian Akhir Nasional, kelas 3 SMP sebentar lagi berakhir. Tinggal aku siapkan rencana berikutnya. Beberapa hari setelah UAN, Malam harinnya akupun berangkat pesantren dengan menggunakan sepeda BMXku ditemani beberapa teman. Malam pertama setelah satu minggu libur untuk persiapan UAN. Malam itu, aku bertemu dan bersalaman dengan Ust. Furqon yang sedang duduk di kursi depan Kantor Pondok. Di kelas, aku bertemu Ust. Rahmat yang biasa mengajariku setiap malam, Dialah wali kelasku.
Setelah bubar dari pengajian, rasanya aku ingin membeli somay kesukaanku. Akupun mendatangi pedagang somay tak jauh dari pondok sebelum aku mengambil sepeda ditempat penitipan. Terkejut aku ketika mendengar suara perempuan dari samping kuping kananku.
“ Mang, masih ada somaynya? Nayla mau beli lima bungkus....”
“masih ada neng,,, ya mang buatin buat tong Ilman dulu ya neng….”
Ya Allah,,, akupun terkejut ketika menengok kea rah kanan, begitu juga Nayla menengok ke arah kiri ketika ia mendengar nama ILMAN dari mulut mang somay.
“Assalamu ‘alaikum Neng Nayla…? Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah bisa bertemu kembali ya neng….” Tanya aku dengan perasaan berbinar-binar dan mata berkaca-kaca ketika memandang Nayla setelah bertahun-tahun tak bertemu, ia tumbuh sungguh lebih cantik dan sangat indah dari dahulu SD.
“Wa’alaikum salam…. Alhamdulillah baik kang Ilman….” Jawab Nayla sambil tersenyum manis.
Akupun balas senyumannya, apalagi setelah ia jawab dengan kata “kang Ilman”, Panggilan Khas dari Bandung. Dengan berusaha percaya diri, akupun coba keluarkan pertanyaan,
“Neng Nayla lagi liburan ya?...kemarin ketika UAN bagaimana? Lancar?...” lidahku mulai bebicara.
“Iya kang,,, kemarin Nayla UAN di Bandung Alhamdulillah lancar…” Naylapun menjawab lirih.
“Kalau boleh tahu… rencana Nayla setelah lulus mau melanjutkan kemana?...”
“hehhhmmm,,, kata bapak sih Nayla suruh melanjutkan pesantren lagi ke Jawa Tengah, ya Nayla ikut apa kata bapak saja”... jawaban simpel Nayla sambil mengambil bungkusan siomay yang sudah jadi sekaligus memberikan uangnya ke mang somay.
“eehhh,,, kang Ilman Nayla pulang duluan ya, tidak enak sama bapak dan ibu kalau siomaynya keburu dingin”, sambung Nayla sambil pamit mengucapkan salam,
“ Assalamu ‘alaikum… kang”
“ iya neng…wa ‘alaikum salam” aku jawab dengan senyum tersampul rasa kegembiraan.
Perjalan pulangkupun diliputi taburan rasa bahagia, sampai aku tersenyum-senyum sendiri. layaknya perasaan orang yang sudah lama ditinggal perempuan yang ia cintai, kemudian ia datang bagaikan bidadari turun dari kayangan berkerudungkan sutra putih, kulit yang putih halus bagai susu, senyuman manis lebih manis dari gula serasa, tutur bicaranya seolah butiran-butiran mutiara pelan berjatuhan, sungguh suara jawaban-jawaban dari lisannya seperti tetesan embun pagi menyejukan hati dan jiwa. Tak terbayang begitu bahagianya aku, sampai larut malampun aku tetap membayangkannya. Aku pandangi dia dari tembok kamarku seperti tayangan dalam surga. Terus dan terus bayangannya menari-nari depan kedua bola mataku. Sampai tak terasa akupun tertidur dan jatuh dalam larutan mimpi indah bersamanya.
“ Kang Ilman…. Kang…. “ Nayla membangunkanku dalam dunia tidurku.
“ aduwh… Nayla, kok bisa ada disini???”
“ Iya Kang, Nayla datang buat Kang Ilman…” ujar Nayla dengan menyimpulkan senyum manisnya.
“ Hah… Masa? Nayla datang jauh-jauh buat akang” tanyaku dengan penasaran.
“ Iya, Kang… Nayla disuruh bapak untuk bertemu akang, dia ridho seandainya suatu saat Nayla jadi pendamping hidup akang…” ucapan Nayla seolah tetesan embun pagi, akupun disejukan olehnya.
“ Ya Allah, apa ini benar… sungguh aku bersyukur padamu Ya Allah…”
“ kalau begitu akang siap… akang akan berusaha menjadi Imam yang terbaik dalam Hidupmu Nayla,,, kelak dalam rumah tangga kita”
Dug..dug…dug…(suara dari pintu kamarku) Man… Man… Baanguunn… siap-siap ambil air wudhu, sholat sama ibu,,, kamu jadi Imam ya Man…..
Akupun terperajat, sambil mengusapkan muka dengan kedua tanganku. Wuuuhhhh… ternyata Cuma mimpi. Akupun tersenyum sendiri sambil tetap mengingat-ingat bayangan Nayla.
“ Iya Bu… tunggu sebentar…” saut aku dari dalam kamar, dengan berharap ,“Ya Allah semoga apa yang aku tadi impikan bisa menjadi kenyataan”. Lalu akupun bersiap-siap untuk melakukan shalat shubuh. Salama satu minggu ini memang aku selalu jadi Imam shalat bersama Ibuku, karena bapakku dan kakak laki-lakiku sedang melakukan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga. Merantau ke seberang pulau.
Ibuku sudah siap di mushola. Setelah akupun siap, Aku berkata kepada ibu,
“ Mari Bu, kita shalat berjama’ah, lebih cepat lebih afdhol agar mendapat waktu fadhilahnya shalat”
“ ayu nak, baca qur’annya yang tartil dan merdu ya, biar ibu shalatnya bisa lebih khusyuk” tambahi ibu. Begitulah ibu, karena beliau selalu senang ketika dibacakan al qur’an dengan gaya suara merdu seperti di kaset-kaset.
Setelah aku dan ibu menjalankan shalat shubuh berjama’ah dengan khidmat, seperti biasa aku dan ibu saling deres al qur’an. Ketika ibu baca aku mendengarkan dan membetulkan bacaan ketika ada yang salah. Begitu juga ibu mendengarkan ketika aku membaca. Ibu sendiri karena sudah usia lanjut, beliau membaca harus dengan kaca matanya. Berbeda dengan aku. Karenanya, ibu terkadang ada bacaan yang salah lihat, akupun langsung membetulkannya.
Setelah selesai deres al qur’an bersama, aku sidikit buka bicara. Menanyakan akan mimpiku tadi.
“Bu… kalau mimpi itu benar bisa jadi kenyataan nggak sih”, aku mulai bertanya dengan gaya bahasa akrabku kepada ibu.
“Man… mimpi itu tidak semua jadi kenyataan, yang jelas mimpi itu hanya bunga tidur, kalau mimpi baik dan benar berarti datang sebagai anugrah dari Allah SWT. Kalau mimpi buruk itu berarti datang dari Syaitan. Ilman sendiri sebelum tidur baca do'a dulu tidak? “ jawab ibu dengan penjelasannya.
“Ilman baca do’a Bu… masa sudah lama ngaji di pondok lupa baca do’a sebelum tidur”, ujarku.
“ ya memangnya Ilman mimpi apa?” tanya ibu kembali.
“hhmm… gimana ya? Sebetulnya ini ada hubungannya dengan perasaan Ilman Bu”, jawabanku simpel.
Akhirnya aku ceritakan semua tentang perasaanku kepada Ibu, dari mulai aku SD kelas 2, kemudian tau dengan yang namanya Nayla, lalu akupun ikut mengaji kalongdi pondok hanya agar bisa melihat Nayla. Aku juga ceritakan karakteristik Nayla, segalanya. Sampai pada mimpiku tadi malam.
Kemudian Ibu menyimpulkan.
“Ya Sudah… Ibu sih mendukung saja, tapi Ilmankan masih kelas 3 SMP, baru saja UAN, pengumuman kelulusan juga belum. Masih lama Man mikirin yang kaya gituan. Nah… Alangkah baiknya, Ilman sekarang jadikan perasaan itu sebagi motivator yang mendorong Ilman untuk terus jadi yang terbaik, baik buat keluarga, agama, bangsa, dan Nayla juga senang kalau seandainya tahu Ilman seperti itu. Sekarang yang Ilman pikirkan, ingin kemana melanjutkan sekolah SMP?”, ibuku memberikan pencerahan diakhiri dengan pertanyaan. Akupun seketika mengiyakan ibu. Dan terpintas kemana aku akan melanjutkan sekolah.
“hhhmm… iya ya bu…” Sambil aku memanggut kepala dan berpikir, teringat bayangan Nayla ketika bertemu kemarin malam.
“ Bu, bagaimana kalau Ilman ingin mondok ke Jawa Tengah? Ilman ingin memperdalam ilmu agama sambil sekolah disana?”, Inisiatif ini, aku terinspirasi dari Nayla karena dia juga akan melanjutkan ke Jawa Tengah. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa dan dimana pondok pesantren di Jawa Tengah itu.
******
Santri, Asatidz, dan Kyai, nama-nama itu sudah terbiasa terdengar di telingaku. Kehidupan yang awam kini berubah dengan nuansa islami. Statusku yang dulu dirumah berubah menjadi istilah "santri". Keseharian yang dulupun berubah dengan banyak kegiatan mengaji kepada kyai dan asatidz. Suara adzanpun tak lepas dari kupingku berkumandang setiap lima waktu. Tanda akupun harus mendatangi masjid, untuk shalat berjama’ah sebagai kewajiban santri pesantren. Pesantren yang terletak di Jawa Tengah itu bernuansakan kesejukan. Lokasi yang dekat dengan Gunung Slamet membawa kedinginan setiap malam sampai shubuh tiba.
Waktu dua puluh empat jam tiap harinya dihabiskan dengan kegiatan dilingkup pesantren. Sekolah keagamaan yang masyhur dengan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) mengisi acara pagi sampai soreku, ditambah pengajian tambahan dari setelah asyar hingga larut malam. Ku rasakan semuanya begitu jauh berbeda dengan apa yang pernah ku jalani sebelumnya ketika di rumah. Namun, semua itu berjalan dengan senyuman. Karena di pesantren itulah, aku dipertemukan dengan sosok penyejuk hatiku, Nayla Muna Awwalina. Akhirnya, aku bisa bersama Nayla dalam satu pondok pesantren. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagiku. Hanya saja, kami tidak bisa bertemu dan bertatap muka layaknya pergaulan bebas di rumah, kami terikat oleh pesantren, penjara suci yang dikelilingi pagar yang berduri peraturan. Siapa orangnya berani menerobos pagar duri itu, dia akan terkena akibatnya. Duri itu akan melukai dirinya tanpa pandang bulu siapa orangnya. Tata tertib pesantren membuatku hanya bisa menyaksikan Nayla dari arah yang berjauhan, karena dilarang bagi kaum ajnabi berdekatan dengan bukan mahromnya.
Beberapa tahun lamanya di pesantren, semua benak perasaanku aku tanam dalam hatiku, tak berani aku berbuat yang bisa berakibat fatal bagi masa depanku. Sekali berbuat kesalahan ta'ziranpun akan datang menghantam. Entah dalam bentuk apa, aku tak mau terkena ta'ziran sekecil apapun. Aku hanya ingat pesan ibuku, “ jadikan perasaan cinta kepada seseorang itu sebagi motivator yang mendorong untuk terus jadi yang terbaik”. Dari situlah, aku bertekad, walaupun perasaanku kepada Nayla ini tersimpan dalam bathinku, aku akan buktikan, aku harus jadi yang terbaik. Setidaknya dengan demikian Nayla akan merasa kagum padaku. Dengan modal kemampuan pas-pasan, hanya lulusan SMP, akupun bejuang mati-matian agar dapatkan apa yang aku inginkan. Porsi belajarku aku tambahkan full sampai larut malam. Setiap setelah pelajaran aku rutinkan muroja’ah. Materi agama dan umum aku kuasai semua. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris aku pelajari dan selalu aku praktekan. Semua jerih payah aku kerahkan, dengan niat aku ingin bisa jadi yang terbaik, orang tuaku kan senang. Dan yang utama Naylapun akan mengetahui siapa aku.
*****
Setelah lima semester kulalui, namaku selalu terpampang di barisan rangking kesatu, kedua atau ketiga. Karena sulitnya pesaingan di kelas, aku tidak bisa konsisten di peringkat kesatu, tapi aku bersyukur karena rangking satuku tetap mendominasi. Setiap akhir semester pengumuman peringkat kelas selalu diumumkan dan dipampangkan. Akupun yakin Nayla pasti melihat hasil dari jerih payahku.
Suatu pagi, bertepatan dengan setelah pengumuman semester pertama kelas 3, ketika berangkat sekolah, aku tak sengaja bertemu papasan dengan Nayla di tangga lantai dua sebelum masuk ke kelas. Tak ku sangka, Nayla tersenyum sambil mengucapkan beberapa patah kata,
“Selamat ya Kang Ilman, atas prestasi yang diraih selama di MAK….!!!” Suara itu layaknya butiran-butiran mutiara berjatuhan dari lisan Nayla membuatku terlena kepayang.
Dengan senyum pula akupun menjawab,
”terima kasih neng, mungkin itu juga berkat do’a dan dukungan neng dari belakang, ”…. aku balas dengan sedikit kata-kata so-PD, yang aku yakin itu ada benarnya.
“Nayla ke kelas duluan kang… tidak enak kalau kelihatan orang lain”, ujar Nayla dengan mata malu.
“ Iya Neng, sekali lagi makasih”, saut aku membalas sebelum Nayla pergi.
“ Iya Kang”… Ia pergi dengan agak dicepat-cepatkan jalanya sambil tersenyum-senyum.
Akupun bergoyang-goyang bahagia, apa yang aku upayakan ternyata terbukti Naylapun menaruh rasa kagum padaku, aku terlena dengan keceriaan pagi hari itu.
Setelah semester satu kelas 3 berakhir, tinggal tancap gas terakhir untuk menuntaskan jenjang sekolah di MAK. Ujian Nasional SLTA diambang mata sekitar tiga bulan kedepan. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak bisa aku terlena dengan hasil baik prestasiku sebelumnya. Semua harus aku selesaikan dengan baik, dan di akhir akupun harus bisa khusnul khotimah, baik di sekolah atau juga di pesantren. Apalagi aku merasa iri kepada kakak kelas yang dahulu telah lulus, lalu bisa melanjutkan ke Universitas Negeri bahkan ke Universitas di Timur Tengah. Dari situ, aku juga berharap mudah-mudahan UAN nanti bisa berhasil dan bisa mengantarkanku ke Universitas di Timur Tengah. Walau belum terbayang dari dahulu untuk kuliah di Timur Tengah, tapi setelah aku mendapat banyak pelajaran dan kajian agama, aku mulai mengerti. Ilmu agama berasal itu dari Negri-negri Timur Tengah, khususnya Jazirah Arab, sudah pasti ketika aku belajar disana berarti aku seolah meminum air dari sumber mata airnya.
******
Beberapa bulan kemudian,
Aku dinyatakan lulus UAN dengan predikat Amat Baik. Disamping itu pula, aku mendapat pengumuman kelulusan beasiswa timur tengah. Sesuai dengan target, apa yang aku rencanakan berhasil. Kedua pengumuman itu aku terima dengan rasa bahagia, bangga dan puas. Karena jerih payahku selama di pesantren terbalaskan dengan prestasi baik. Kedua orang tuakupun takjub. Tidak percaya aku bisa seperti itu, padahal aku lulusan SMP, tapi bisa bersaing dengan teman-teman lain yang latar belakang keagamaannya lebih baik. Aku tersenyum saja,,, karena dibalik itu semua, aku termotivasi oleh sosok Nayla yang senantiasa menjadi penyemangat hidupku, gelora wajahnya selalu terpancar dalam bayanganku layaknya tetesan embun yang membasahi dedaunan di setiap pagi. Akulah si dedaunan yang beruntung itu, karena setiap aku ingat kepadanya, aku bangkit untuk berusaha menjadi yang terbaik walaupun banyak yang lebih baik dariku. Setidaknya, aku bisa dilihat baik di mata Nayla. Entah tetesan embun cinta apa yang telah merasuki tubuh ini, sehingga aku selalu merasa sejuk ketika ia hadir dalam bayanganku.
*****
Suatu ketika dimana aku di hadapkan dengan masa depanku. Aku merasa kebahagiaan ini terkikis oleh masa. Aku terpikir sejenak, akhirnya aku sadar. Aku telah salah dalam melangkah. Semua yang aku lakukan untuk agama aku lakukan dengan niatan yang salah. Bermula dari aku pesantren kalong di kampung hingga kini aku berhasil mencapai yang aku citakan. Semuanya karena Nayla, seorang perempuan biasa, yang hanya diberi kelebihan oleh Allah SWT hingga bisa menghipnotis hatiku sehingga terpedaya. Aku berjuang pesantren malam hanya untuk melihat Nayla. Aku tekadkan pesantren di Jawa Tengah hanya untuk bisa hidup lebih dekat dengan Nayla. Aku berusaha meraih prestasi terbaik hanya agar mendapat perhatian Nayla. Semua itu salah… aku tidak niatkan semua itu untuk kebaikan semata-mata karena Allah. Tapi malah karena seorang perempuan. Karena itulah aku merasa rasa bahagiaku tidak seperti hakikat kebahagiaan.
Dalam shalat istikharahku, Aku merasa bersalah Allah SWT, menggantikan kedudukan-Nya dalam niat baikku. Setelah aku bertafakkur, rasanya hati ini menuntunku tuk coba melupakan Nayla, aku tidak ingin selamanya berada dalam jalan yang salah. Karena semata-mata untuk Nayla. Walau aku yakini bahwa memang melalui Nayla lah Allah memberiku jalan kebaikan. Berkat tetesan embun cinta Nayla membuatku terangkat untuk mengikuti jalan baiknya.
Sebelum aku meninggalkan tanah air, aku bulatkan membuka lembaran hidup baru kehidupan baru, dengan tidak menggantungkan diri pada Nayla, tapi hanya pada Allah SWT semata. Dan aku yaqin, kalau seandainya memang Nayla adalah jodohku, Allah SWT tak kan menjauhkannya dariku, aku pasti dipertemukan kembali. Keikhlasanku terpancar karena aku yaqini Taqdi Allah SWT yang senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Memasrahkan segala urusannya kepada-Nya. Dan hakikat cinta sebenarnya hanyalah kepada Allah SWT. Kini Bersama alamku yang baru, di negri yang baru, tempat cita-citaku tercapai. Negri Timur Tengah. Yaman. Aku tutupkan lembaran hidupku bersama Nayla, yang suatu saat akan ku buka seandainya Allah SWT mengizinkanku untuk membukanya kembali.
PROFIL PENULIS
Assalamu 'alaikum. wr. wb.
Saya bernama Abdul Rahman Malik (21 th), sekarang sedang menjalani kuliah di Al Ahgaff University of Yemen. dilahirkan disebuah kabupaten di kawasan Pasundan pada hari rabu, 12 Februari 1991. Riwayat Pendidikan berawal dari SD Negeri 1 Leuwimunding - Majalengka, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Leuwimunding, lalu berhijrah ke dunia pesantren di PP. Al Hikmah 2, Bumiayu - Jawa Tengan, sambil sekolah di MAK Al Hikmah 2. dan kini Allah swt memberikan taufiq-Nya sehingga saya bisa menimba ilmu di Negeri Saba, Yaman.
CINTAKU BERLABUH DI MESIR
Karya Irna Octarina
Narina masih saja sibuk dengan komputernya, ia tengah melengkapi data-data yang harus ia bawa ke Mesir. Pikirannya masih kacau balau, ibunya bersikukuh untuk tidak mengijinkannya pergi ke Mesir.
Ditengah kesibukannya, Ibu Nafisah memanggil anaknya,
“Narina ayo keluar dari kamarmu, sekarang sudah waktunya makan siang. Sudah sejak tadi pagi kau tidak keluar kamar.”
Dengan setengah berlari ia pun keluar kamar, jilbabnya yang anggun membuat ia terlihat lebih cantik, “Ia bu, tunggu sebentar.” Ia segera duduk dan bersiap untuk makan, sebelum makan ia mencuci tangannya terlebih dahulu.
“Ayah mana bu? Kok dia gak makan bareng kita?”
“Ayahmu sedang keluar sebentar, ngga lama lagi ayahmu juga pulang nak.”
“ Oh ya bu, rencananya minggu depan aku akan berangkat ke Mesir. Semua data-data yang aku butuhkan sudah hampir selesai…
Belum selesai bicara, ibunya langsung memotong ucapan anaknya, “ Sudah berapa kali ibu bilang, ibu tak akan pernah mengijinkan kamu untuk pergi ke Mesir. Buat apa sih nak kamu kuliah jauh-jauh disana? Di Jakarta kan juga banyak Universitas Islam yang bagus,”
“Tapi bu kesempatan untuk kuliah disana hanya sekali,” tanpa sadar air matanya pun menetes.
Memang berat bila ia harus berpisah dengan ibunya, terlebih lagi ia akan berada di Mesir selama kurang lebih empat tahun dan belum tentu ia dapat pulang setiap tahun untuk menemui ibunya. Kepergiannya ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya, ia mendapatkan beasiswa di Al Azhar University Cairo. Sejak kecil ia selalu bermimpi untuk pergi ke Mesir dan melihat betapa indahnya Sungai Nil, dan impiannya kini sudah ada di depan mata.
“Tolong ijinkan aku bu, aku hanya beberapa tahun saja disana, aku akan selalu memberi kabar pada ibu. Aku tak akan pernah lupa pada ibu yang sangat aku sayangi,”
“Apapun alasanmu tetap saja ibu tak rela bila harus hidup sendirian tanpamu nak, ibu sangat menyayangimu. Ibu tak ingin kehilangan anak semata wayang ibu, huhuhu (ibunya pun ikut menangis).
Ayahnya pun masuk segera masuk ke dalam rumah ketika ia mendengar suara tangisan yang terdengar dari teras rumah.
“Kenapa kalian berdua menangis?” Tanya sang ayah kebingungan.
“Ibu tetap tidak mengijinkanku untuk berangkat ke Mesir ayah, aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi.”
“Sudahlah bu biarkan anakmu memilih jalan hidupnya, ia sudah dewasa dan ayah yakin kalau ia bisa menjaga dirinya baik-baik.”
“Iya bu, benar apa kata ayah. Aku yakin bisa menjaga diri disana, di Mesir aku juga tidak sendiri. Aku ditemani Hikami dan Amalia, mereka juga kuliah disana,”
“Huh yasudahlah terserah kalian … tapi jika terjadi apa-apa pada Narina, ayah yang akan ibu salahkan.”
Akhirnya Ibu Nafisah mengijinkan kepergian anaknya ke Mesir. Memang berat melepaskan anak semata wayangnya untuk hidup mandiri di Mesir. Ia sangat menyayangi Narina dan kemana saja Narina pergi selalu ditemani ibunya. Wajah mereka pun sangat mirip, bahkan terkadang ada orang yang mengira bahwa mereka adalah kakak beradik. Perbedaan umur diantara mereka juga tidak berbeda jauh, ibunya baru berusia 37 tahun dan anaknya 20 tahun lebih muda dari usianya kini.
***
Tibalah hari yang ia tunggu-tunggu, hari ini adalah hari keberangkatannya ke Mesir. Ia memasukkan semua perlengkapan pribadinya ke dalam koper birunya. Tak lupa ia membawa Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 karangan Habiburrahman El Shirazy, ia sangat menyukai novel itu. Baginya begitu banyak ilmu yang ia dapatkan dari novel itu. Setelah selesai menyiapkan perlengkapannya, ia langsung mengambil air wudhu untuk Salat Dhuha. Ia masih punya waktu setengah jam lagi sebelum berangkat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Sebelum berangkat ia menyempatkan diri untuk menelpon kedua temannya, Hikami dan Amalia, ia ingin memastikan bahwa kedua temannya sudah siap untuk berangkat ke Mesir. Setelah itu tak lupa ia berpamitan kepada kedua orang tuanya,
Narina pun berangkat, tak lupa ia mencium tangan kedua orang tuanya. Baru beberapa langkah berjalan, ia lalu memalingkan tubuhnya dan kembali untuk memeluk ibunya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi jilbab biru mudanya, ia begitu sedih harus berpisah untuk sementara waktu dengan ibunya tapi di sisi lain ia juga tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk kuliah di Mesir.
Sudah lima jam ia berada di dalam pesawat, perjalannya masih sekitar tujuh jam lagi tetapi ia belum bisa tertidur. Padahal Amalia sudah tertidur pulas, sedangkan Hikami masih saja fokus dengan bukunya. Anak yang satu ini memang suka sekali membaca buku, baginya waktu terasa hambar bila ia tak membaca buku. Narina lalu memutuskan untuk memasang headset dan memutar sebuah lagu favoritnya,
Bertuturlah cinta
Mengucap satu nama
Seindah goresan sabdamu dalam kitabku
Cinta yang bertasbih
Mengutus hati ini
Kusandarkan hidup dan matiku padamu
Bisikkan doaku dalam butiran tasbih
Kupanjatkan pintaku padamu Maha Cinta
Sudah diubun-ubun cinta mengusik resah
Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit
Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta
Akhirnya ia pun tertidur dalam bait-bait lagu Ketika Cinta Bertasbih, sejurus kemudian ia sudah tiba di Mesir. Hikami membangunkan kedua temannya, sejak tadi pagi Hikami belum memejamkan mata sehingga wajahnya terlihat agak pucat. Mereka pun segera turun dari pesawat dan menuju rumah yang telah disewa oleh Amalia. Kebetulan salah satu kerabat dari Amalia ada yang tinggal di Mesir dan rumah itu sudah tidak ditempati lagi. Wajah Narina tampak begitu bahagia ketika menapakkan kakinya di Mesir, ia seolah tak percaya.
Setelah tiba di rumah, tak lupa Narina memberi kabar pada orang tuanya di Indonesia. Mereka bertiga langsung membersihkan rumah dan beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Ada dua kamar, satu kamar untuk Narina dan yang satunya lagi untuk Hikami dan Amalia. Mereka begitu kelelahan, tetapi Narina memutuskan keluar sebentar untuk mencari makanan. Narina melihat pemandangan di sekelilingnya, begitu banyak wanita bercadar disana. Lalu ia berhenti sejenak ketika ada rumah makan yang menjual makanan asli Indonesia. Ia memperhatikan semua menu yang tersedia, tampaknya ia agak sedikit bingung harus memesan apa. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli 3 bungkus nasi, rendang, sayur nangka, dan es teh. Semuanya dibungkus untuk ia makan bersama kedua temannya. Saat ia ingin keluar, ia hampir bertabrakan dengan seorang lelaki yang sepertinya orang Indonesia juga.
“Maaf maaf, saya sedang terburu-buru.” Ujar lelaki itu dengan nafas yang terengah-engah.
“Iya ngga apa-apa”, sepintas ia terpesona oleh lelaki itu. Wajahnya yang terlihat lelah seperti orang yang tidak tidur semalaman tapi aura yang dipancarkannya begitu memikat bagi siapapun yang melihatnya.
Ternyata kedua temannya sudah bangun dan tengah menonton tv di rumah.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab kedua temannya hampir bersamaan. “Dari mana kamu Na?”
“Ini aku beli makanan, aku tau pasti kalian laper banget,’’ tanpa disuruh Amalia langsung mengambil piring dan gelas. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Dan lusa adalah hari pertama mereka kuliah, kebetulan Amalia mengambil jurusan yang sama dengan Narina, yakni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam sedangkan Hikami mengambil jurusan Perbandingan Agama.
“Ternyata Al-Azhar gede benget ya, duh ga nyesel deh kuliah disini. Meskipun aku ga dapet beasiswa seperti kalian, tapi aku seneng bisa satu universitas sama kalian.” Kata Amalia. Kebetulan Narina tidak sekelas dengan Amalia, maka ia mencari kelasnya sendiri. Saat ia sedang kebingungan mencari kelasnya, lalu ada seorang lelaki yang menghampirinya, “Lagi bingung nyari kelas ya? Tanya lelaki itu,
Seketika itu juga Narina kaget bukan kepalang, ternyata lelaki yang waktu itu pernah membuatnya terpesona kini ada di hadapannya. Dengan sedikit gugup ia menjawab pertanyaan lelaki tadi, “Ia, dan saya mahasiswa baru disini,” Lalu mereka saling berkenalan, lelaki itu bernama Andi Hanif Rahman. Ternyata Andi juga kuliah di Al-Azhar dan berada dalam jurusan yang sama, tetapi Andi satu tingkat diatas Narina. Ada sedikit rasa senang di hatinya saat ia tau siapa nama lelaki itu, ia merasa apakah ia sedang jatuh cinta atau tidak.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Tak terasa ia sudah tiga tahun di Mesir, rasanya sudah begitu lama ia tak bertemu dengan ibunya. Rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi, terkadang ia menangis dalam sujudnya di malam hari. Pemandangan sungai nil yang begitu indah, membuatnya semakin sedih. Seandainya saja saat ini ada sang ibu yang menemaninya, pasti kebahagiaannya di Mesir akan lengkap sudah. Butir demi butir air matanya menetes, hembusan angin merasuk ke dalam tubuh dan jiwanya. Tanpa sadar ternyata ada seorang lelaki yang berdiri di sampingnya, ia pun segera mengusap air matanya dengan tisu yang ada di sakunya.
“Kuperhatikan sejak tadi, mengapa kau menangis? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,” Tanya Andi.
Dengan suara serak ia pun membuka suara,”Aku rindu pada ibuku, sudah 3 tahun aku tak bertemu dengannya, oh ya kenapa ka Andi bisa ada disini?”
‘’Hehe sebenarnya aku mengikutimu sejak kau pulang kuliah, kelihatannya kau sangat sedih dan begitu terburu-buru,”
“Ah, mana mungkin kakak ngikutin aku. Hehe kakak ini ada-ada aja,” akhirnya ia pun sudah mulai bisa tersenyum. “Kakak masih inget ngga waktu kita ketemu di rumah makan? Tepatnya tiga tahun yang lalu,”
“Ya iyalah, kakak inget banget malah. Kakak kan suka sama kamu sejak kita ketemu waktu itu…”
Wajah Narina terlihat memerah, sepertinya ia malu dan tidak tau harus berkata apa. Mereka diam sejenak, tak ada yang berani untuk membuka suara. Narina malah pulang ke rumahnya, Andi hendak mengejarnya tapi ia tak punya keberanian. Sebenarnya Andi tak berniat untuk mengatakan itu pada Narina, tapi kata-kata itu keluar seketika dari mulutnya. Ia memang jatuh hati pada Narina sejak pertama kali ia bertemu. Waktu itu ia hampir telat untuk masuk kerja jadi ia terburu-buru dan hampir menabrak Narina. Sejak saat itu ia penasaran dengan sosok gadis itu, sampai akhirnya ia bertemu lagi dengan Narina di Universitas Al-Azhar. Ia semakin sering memperhatikan Narina saat gadis itu berada di kampus, tetapi Narina tak pernah menyadarinya. Baginya, Narina adalah sosok yang sederhana, lemah lembut dan ia bagaikan bunga yang bermekaran di musim semi. Narina cukup terkenal di kampusnya, ia adalah mahasiswi yang cerdas. Ia pun aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus.
Setibanya di rumah, Narina langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis hingga sesenggukan. Kedua temannya langsung menghampiri Narina, lalu Narina menceritakan apa yang ia alami hari ini kepada kedua temannya. Termasuk awal mula pertemuannya dengan Andi dan perasaan yang ia pendam pada Andi.
“Ya ampun Narina, kenapa kamu gak bilang ke Andi kalo kamu juga suka sama dia? Jelas-jelas kalian kan saling cinta,” tutur Lia,
“Tapi aku ga mau kalo kak Andi suka sama aku,”
Hikami dan Amalia langsung saling berpandangan, mereka bingung mengapa Narina bersikap seperti itu.” Aku itu ga mau kalo nantinya aku malah pacaran sama kak Andi, aku takut kalo kuliah aku jadi terganggu. Disini aku tinggal satu tahun lagi, aku pengen pulang ke Indonesia dengan gelar sarjana terbaik jadi aku gak pengen ngerusak impian aku itu dengan pacaran,” ungkap Narina.
Dengan spontannya, Lia langsung megeluarkan idenya, “ Emm gimana kalo kamu nikah aja? Kak Andi juga udah lulus, kan ga ada larangan menikah buat mahasiswa.”
Saran dari Lia hanya membuatnya semakin bingung, akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi Andi selama beberapa waktu. Ia butuh waktu untuk memikirkan masa depannya itu.
***
Sudah hampir sepuluh bulan Narina tidak bertemu dengan Andi, ada rasa rindu yang terbersit dalam hatinya tapi ia memilih untuk menahan rasa rindunya itu. Padahal Andi selalu berusaha untuk menemuinya, tapi ia selalu menolak. Ada saja alasan yang dibuat oleh Narina, padahal Andi telah membulatkan tekadnya untuk melamar Narina.
Dan sepuluh bulan setelah kelulusannya, usaha yang Andi rintis semakin maju. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia mencoba bisnis berbagai macam pakaian muslim secara online dan omset yang ia dapatkan sangat memuaskan. Mungkin cukup untuk biaya pernikahannya kelak, tapi belum ada jodoh yang tepat untuknya. Padahal banyak gadis yang menyukainya tapi entah mengapa ia selalu menolaknya. Hanya Narina yang selalu ada di pikirannya, ia yakin suatu saat nanti ia bisa mempersunting gadis pujaannya itu. Ia bertekad untuk selalu menunggu Narina, sampai gadis itu mau menerima ia sebagai suaminya.
Tak terasa, hari kelulusan itu telah tiba dan Narina dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya. Betapa bahagia dan terharunya dia, ia pun tak sabar untuk kembali ke tanah air dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia pun memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia bersama Amalia. Sementara Hikami memilih untuk melanjutkan S2 nya, meskipun ada sedikit rasa sedih karena ia harus berpisah dengan kedua temannya tapi ia mencoba untuk tetap tegar karena ia memang bercita-cita untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Narina pun pulang tanpa sempat memberi kabar kepada Andi, karena ia sudah terburu-buru.
Dua belas jam di pesawat, membuatnya kelelahan. Tapi setibanya di rumah, seolah rasa lelah itu hilang sudah. Ia langsung memeluk kedua orang tuanya dan menangis di pundak ibunya. Mereka saling melepas rindu, lalu sang ibu bertanya pada Narina, “Ibu bangga sama kamu nak, kamu bisa memberikan yang terbaik. Lalu bagaimana dengan jodohmu nak, apakah kau sudah menemukan jodoh yang tepat di Mesir?”
Seketika itu juga Narina merasa seolah tubuhnya bak tersiram air panas, ia teringat dengan Andi. Ia tidak sempat menemui Andi, bagaimana nasib andi sekarang, semua itu hanya terbenak dalam pikirannya.
“Ditanya ko malah diem?”, ucap ibunya.
Ia mulai membuka suara, dengan terbata-bata ia menceritakan pada ibunya bahwa ia sudah menemukan lelaki yang ia dambakan tapi ia malah menjauhinya.
“Yasudah nak gak apa-apa, kalo jodoh gak akan kemana,”
Lalu ia masuk kedalam kamar, ia masih memikirkan Andi. Bagaimana Andi sekarang, sudah hampir setahun ia menjauhi Andi. Apakah Andi masih menyukainya,
***
Ibu Nafisah ingin sekali ke Mesir, maka sang Ayah mengajak istri dan anaknya untuk berlibur di Mesir selama beberapa pekan. Di sisi lain, Andi masih terus mencari Narina. Setelah Narina lulus, ia tak pernah memberi kabar pada Andi tapi tetap saja Andi setia menunggu Narina.
Saat Narina hendak berkunjung ke rumah Hikami, ia bertemu dengan Andi. Ingin rasanya ia memeluk Andi untuk menghilangkan rasa rindunya selama ini tapi ia tak bisa. Mereka berdua menangis dan saling bertatapan, Andi tak menyangka penantiannya selama ini membuahkan hasil.
“Narina aku sangat menyayangimu, selama ini aku selalu menunggumu tapi kau tak pernah ada kabar. Aku tak ingin bila harus kehilanganmu lagi, maka maukah kau menikah denganku?”
Narina pun tak bisa menjawab, ia merasa sangat terharu. Inilah saat-saat yang selalu ia tunggu. “Huhuhu aku juga sayang sama kakak, kalau begitu temui orang tuaku dan nikahi aku.”
“Baiklah kalau begitu, akan kusuruh teman-temanku untuk memanggil penghulu dan surat-surat pernikahan akan diurus secepatnya,”
Sesampainya di hotel, Andi langsung meminta ijin pada orang tua Narina untuk menikahi anaknya nanti malam ba’da Isya dan orang tua Narina menyetujuinya.
Setelah azan isya berkumandang, semua teman-teman Narina dan Andi yang berada di Mesir ikut datang untuk menyaksikan prosesi akad nikah mereka. Narina terlihat begitu cantik dengan pakaiannya yang serba putih, Andi juga terlihat tampan. Akad nikah mereka cukup sederhana.
Narina begitu bahagia, kini ia telah menemukan cinta sejatinya. Ia pun sempat meneteskan air mata saat Andi berkata,” Saya terima nikah dan kawinnya Narina Najmatunnisa binti Husein dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
Semua hadirin pun turut berbahagia, akhirnya cinta Narina Najmatunnisa dan Andi Hanif Rahman berlabuh di Mesir.
PROFIL PENULIS
Nama : Irna Octarina
TTL : Tangerang, 23 Oktober 1994
Alamat : Ciledug, Tangerang
Hobi : mengumpulkan artikel tentang Mesir, membaca cerpen
Alamat fb : narinamesir@yahoo.com
DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/11/cerpen-cinta-islami-cintaku-berlabuh-di.html#ixzz2mW9hPvC1
Langganan:
Postingan (Atom)

